Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Sang Petualang Ranjang


__ADS_3

Aku terjaga keesokan paginya, dan sambil menguap lebar, aku turun ke lantai bawah untuk menyeduh sepoci kopi.


Ya, kau benar -- maksudku meminta seorang pelayan menyeduhkan sepoci kopi untukku. Sebenarnya, pagi ini aku tidak merasa begitu buruk. Aku teringat kata-kata Jessy hari itu -- di luar sana, ada jodoh yang sama menantinya denganku.


Atau justru wanita itu Jessy?


Ahai! Aku tersenyum sendiri pagi ini. Aku mulai menyukai kelajanganku walau itu belum resmi.


Sesudah menghabiskan secangkir pertama, pikiranku beralih ke hari ini dan hal menarik apa yang harus kulakukan di minggu pagi ini, menghabiskan waktu senggangku dalam kesenangan.


Ting!


Suara ponselku, pesan whatsapp dari Raymond masuk di waktu yang tepat.


》Hai, Bos. Kalau hari ini lu nggak ada kerjaan, mending ikut kita berkuda.


Berkuda? Oke juga, pikirku.


《Oke.

__ADS_1


Centang dua menghijau. Setelah membalas whatsapp dari Raymond, aku melanjutkan sarapanku. Setelahnya, aku bergegas mandi, berpakaian dan melaju ke peternakan kuda milik keluarga Raymond.


Raymond sebenarnya anak seorang konglomerat. Hanya saja, kelakuan berengseknya yang suka menjajali setiap gadis yang katanya non perawan, juga memiliki hobi yang nyeleneh -- menemani para janda yang kesepian -- itu membuat kedua orang tuanya tidak bisa memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin perusahaan keluarga. Kedua orang tuanya justru memberikan kepercayaan itu kepada sang adik, yang bagi mereka akhlak dan karakternya jauh lebih baik daripada Raymond. Karena itulah Raymond memilih bekerja di perusahaanku.


Jujur saja, kalau bukan karena hubungan pertemanan kami yang kental, aku juga tidak ingin memiliki karyawan seorang bajingan yang tidak bermoral. Tapi kuakui, Raymond memiliki otak super encer dan memiliki andil besar dalam kemajuan perusahaanku. Lagipula, Raymond membenarkan prinsipnya, dia hanya melakukan hubungan *eks atas dasar suka sama suka, dan tentunya dengan perempuan yang sudah berpengalaman. Dia akan bertanya lebih dulu pada perempuan itu: perawan atau tidak. Kalau perawan, Raymond tidak akan menyentuhnya.


"Aku bukan penjahat kelamin," katanya. "Yang mengambil keperawanan anak gadis orang, tapi tidak berniat menikahi. Itu bukan aku!" Raymond selalu mengatakan itu kepada kami.


Kalau dipikir-pikir, itu haknya Raymond. Terserah dia mau melakukan apa dengan hidupnya. Dan mengenai perempuan-perempuan yang pernah ia tiduri, salah mereka juga, siapa suruh mereka terbuai dengan pesona ketampanan seorang Raymond yang berkarisma bagaikan dewa, ya kan?


Dan bicara soal pacuan kuda, sampai sesiangan ini aku sudah menghabiskan hari yang membosankan. Keempat pacuan pertama berlalu tanpa kesan dan tidak membawa keuntungan. Lalu, pada pacuan kelima, kuda yang ditunggangi Raymond, menang di urutan pertama, sementara kuda pacu Roy memboyong urutan buntut.


"Wajarlah Ray menang terus...."


"Ahlinya...."


"Menunggang...."


"Gempur teruuuuus...."

__ADS_1


Kami terbahak, tertawa sampai ngakak. Roby, aku, dan Roy memang biasa menjahili Raymond. Karena kebiasaan itulah dia sama sekali tidak tersinggung.


"Silakan... kalian mau meledek gue sesukanya. Tapi... gue mau mengumumkan satu informasi penting."


Roby berdecak, "Wow! Apa itu?"


"Gue mau nikah, Bro."


Kami bertiga tertegun, terperangah dan ternganga. "Serius, lu?"


"Wah, wah, wah... pantas aura lu beda hari ini," celetuk Roby.


Ya, wajah Raymond berseri-seri, kebahagiaan khas calon mempelai laki-laki yang hendak mempersunting bidadari yang menawan hatinya, seperti aku dulu.


"Perawan, Bro...."


"Siapa gadis yang sial itu, Bung?"


"Wah, berengsek, lu, Roy!"

__ADS_1


"Lah? Gue bener, kan? Lu beruntung dapat gadis perawan. Lah dia?"


Haha! Makjleb!


__ADS_2