Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Terluka


__ADS_3

"Capek?"


Aku mengangguk. "Lumayan. Wajar, kan? Sudah seminggu lebih aku tidak melakukannya."


"Em, ya." Dia diam sejenak dan kelihatan ragu. "Boleh aku tahu, kenapa kamu mengurungku? Aku salah apa? Tolong katakan?"


Kupejamkan mataku sejenak, lalu menoleh ke Rhea yang berbaring di sampingku. "Jika kamu ingin mengungkapkan sesuatu, katakan. Mungkin ada sesuatu yang kamu tutupi. Coba jujur padaku."


Rhea diam. Kutunggui dia buka suara, tapi sepatah kata pun tidak keluar.


Aku menggeleng, sedikit rasa kesal mulai merayap. "Sudahlah. Aku tidak akan membahas apa pun denganmu sebelum kamu sendiri yang jujur padaku."

__ADS_1


"Apa? Aku tidak melakukan apa pun."


Tidak ada gunanya. Lagipula, memang sebaiknya aku tidak membahas tentang perselingkuhan Rhea dengan Biktor. Itu akan menyakiti diriku sendiri.


Dan, yeah, penyaluran hasrat yang baru saja kulakukan terhadapnya, membuatku menertawai diri sendiri. Secara tidak langsung, aku sudah menuruti ide gila dari teman-temanku -- menjadikan Rhea sebagai pelampiasan ketika hasratku menggelora.


"Tanyakan pada dirimu sendiri, apa yang sudah kamu lakukan di belakangku." Aku bangkit, berdiri dan mengenakan kembali celana panjangku. "Omong-omong, kamu masih nikmat. Terima kasih. Aku akan datang lagi saat aku membutuhkan tubuhmu."


Aku menyeringai, dan keluar dari kamar itu. Di saat yang bersamaan Rhea meneteskan air matanya. Aku tidak tahu itu sungguhan atau hanya pura-pura. Yang jelas, itu tak lantas membuat hatiku tersentuh. Aku tidak menaruh rasa kasihan terhadapnya, sedikit pun.


Kututup laci dan memadamkan semua lampu, kecuali lampu baca di meja samping ranjang, meja kerjaku. Aku duduk dan membuka halaman pertama album itu.

__ADS_1


Foto-foto ditata secara kronologis, garis waktu fotografis dari hubunganku dengan Rhea, wanita pertama dan satu-satunya yang kucintai selain ibu angkatku. Pesiar akhir pekan pertama kami di Bali. Di halaman berikutnya terdapat foto-foto prewedding kami, dan disusul foto-foto pernikahan kami. Halaman-halaman selanjutnya berisi foto-foto bulan madu kami di London pada musim salju lima tahun lalu. Rhea sangat menyukai musim salju. Di sela-selanya terdapat kenangan sepanjang jalan -- pesta-pesta, makan malam, wajah-wajah lucu di depan kamera.


Lalu tak ada foto-foto lagi.


Menyedihkan. Satu-satunya keluarga yang kupunya, tapi sekarang sudah tidak lagi. Aku tidak punya siapa-siapa, lagi -- seperti dulu.


Aku menutup album dan berbaring sendirian di ranjang sambil memikirkan apa yang telah terjadi. Akhir dari hubungan ini. Sejenak kemudian aku bangkit, membawa album itu ke halaman belakang, membakarnya.


"Bibi turut prihatin dengan semua ini, Nak. Bibi memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi melihatmu sedih seperti ini, Bibi tahu kamu sedang terluka."


Bibi Merry. Aku tidak tahu sejak kapan ia berdiri di belakangku. Mendapati keberadaannya membuatku refleks menghapus air mata yang tidak bisa dikontrol, yang menetes semaunya.

__ADS_1


"Saya tidak apa-apa, Bi. Semuanya akan baik-baik saja seiring waktu." Aku berdiri. "Tolong, Bi, dibakar semuanya, jangan ada yang tersisa."


Kuputuskan untuk kembali ke kamar dengan segelas besar air putih dan beberapa butir obat tidur -- obat penangkal untuk menghentikan pikiranku berkelana ke masa lalu. Masa-masa yang meski tidak bisa kulupakan, tapi tak semestinya untuk kuingat.


__ADS_2