
"Kamu membuatku kelelahan," rengut Suci. Dia masih terbaring di lantai kamar mandi, masih di bawah kungkungan tubuhku yang bermandikan keringat. Keran shower sudah kuputar menutup beberapa menit yang lalu sebelum babak ekstra -- sebelum aku merebahkan tubuh cantik itu ke lantai yang basah.
Aku terkikik. "Jangan lupa, kamu sendiri yang meminta. For your information, My Lady, aku punya kekuatan ekstra di pagi hari."
"Ya, ya, untungnya aku masih punya kekuatan untuk mandi."
Aku bangkit, menarik diriku dari atas tubuh Suci dan menggendong tubuhnya ke bathtub, airnya sudah penuh dan meluber sejak tadi. Dan aku baru tersadar, pekerjaan Billy sangat bagus, tipe kamar biasa tapi dengan fasilitas mewah. Dia selalu bisa diandalkan.
"Enak?" tanyaku.
Suci mengangguk. "Luar biasa. Hangatnya pas. Kamu memang menakjubkan dan sangat romantis. Aku suka sikap manismu. Jadi, kenapa tidak bergabung denganku?"
__ADS_1
"Sebentar," kataku. Aku meraih sepotong handuk kecil, membasahkannya lalu memerasnya dan meneteskan sabun ke dalamnya. Aku pun masuk ke bathtub. "Sini," kataku. Kuraih tangan Suci dan menggosokkan sabun ke lengannya yang terulur.
Suci tersenyum, sangat indah. "Kamu romantis sekali, Mas. Aku jadi bertanya... em, sori." Dia mendadak diam.
"Apa?" tanyaku.
"Tidak jadi."
"Tidak masalah. Katakan saja."
Aku mengerti lanjutan pertanyaan itu. Dan surprise-nya, aku tidak merasakan sakit hatiku ketika luka itu dikulik oleh Suci. Seraya memusatkan perhatian pada masing-masing jari, aku membasuh buku jarinya, ibu jari, dan telapak tangan. Kemudian aku menggosokkan kain itu ke sepanjang lengannya lagi. "Aku tidak tahu. Tapi dia tidak suka hal-hal seperti ini. Membuang-buang waktu katanya. Kalaupun dia butuh perawatan, dia lebih suka menghabiskan waktu di salon dan spa."
__ADS_1
"Oh," kata Suci enteng, mengikuti caraku. "Tapi, omong-omong, tanganku ada dua, lo, Mas. Kakiku juga ada dua." Dia mengangkat tangan satunya dari air dan menjulurkannya kepadaku. "Aku suka perlakuan manismu," katanya.
Aku tersenyum. Aku terkesan karena dia bisa menghargai hal sekecil ini. "Aku tidak akan melewatkan seinci pun," kataku dan mulai menyabuni tangannya. Setelah itu aku berdiri, memutar duduk di belakangnya untuk menggosok punggungnya. Suci menyatukan rambutnya dan menumpuknya tinggi-tinggi di kepala, membuatku lebih muda menggosokkan sabun ke pundaknya dan di sepanjang tulang bahunya sementara ia mencondongkan tubuh ke depan dan menarik kakinya lebih dekat. Lututnya mencuat dari air, dan aku dengan mudah menyusuri sepanjang rentang paha sampai tanganku berhenti di tempurung lututnya, kemudian turun ke betis hingga telapak kakinya yang indah.
Aku menggerakkan tanganku ke bagian depan tubuhnya, meluncur turun, dan Suci menyeimbangi pergerakanku dengan menyandarkan tubuhnya ke balakang, menempel di dadaku seraya memejamkan mata. Sangat cantik. Dia tahu bagaimana bersikap supaya tidak terlihat seperti orang buta. Sungguh, tidak seperti adegan yang kaulihat di sinetron atau film, ketika pemeran utamanya buta, dia hanya bisa menatap ke depan dengan pandangan kosong. Suciku tidak begitu. Yeah, dengan bersandar ke tubuhku, dia memberikanku akses yang lebih besar untuk membersihkan bagian depan tubuhnya.
"Kamu tidak masalah dengan ini?" tanyaku ketika aku menggosokkan tanganku pada intinya.
Dia menggeleng. "Tapi aku keberatan kalau kamu mau memulai lagi. Aku capek," katanya, lalu ia terbahak.
"Tidak akan. Semoga aku bisa menahan diri sampai kita bulan madu sungguhan," kataku.
__ADS_1
Suci mengangguk, meraih tanganku dan menangkupkan tanganku di wajahnya. "Terima kasih sudah memanjakan aku."
Di saat itulah, di dalam bathtub yang hangat, aku memeluknya, melingkarkan tanganku di tubuhnya dari belakang dan berbisik, "Aku mencintaimu. I love you, Nyonya Sanjaya."