
Wuek!
"Ya ampun, kamu melakukannya lagi," kataku. Bajuku kotor terkena muntahan Suci. "Kamu sakit?"
Suci menutupi wajahnya dengan telapak tangan, persis yang dilakukannya di pesawat waktu itu. "Maaf," katanya.
Buru-buru kulepaskan kausku dan melemparkannya ke dalam ember di dapur. "Kamu masuk angin?"
"Tidak tahu, tiba-tiba mual. Enek. Amis."
"Gimana, sih? Kan kamu sendiri yang masak."
"Tidak tahu, Mas," sahutnya gemas. Lalu ia berdiri dan lari ke kamar mandi.
Aku keheranan, lalu mencubit ikan itu dan memasukkannya ke mulutku. Sama sekali tidak amis. Aneh, apa jangan-jangan...?
"My," panggilku seraya mengetuk pintu kamar mandi.
Yap, aku memanggilnya My, dan dia mengira aku melafalkan panggilan itu dengan kata May. Tapi apa pun itu, yang penting dia anteng dan tidak protes.
"Aku tidak apa-apa...," serunya dari dalam kamar mandi, lalu ia membuka pintu kamar mandi itu semenit kemudian. "Aku cuma sedikit mual. Please, kamu tidak usah khawatir."
Omong kosong, bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkannya.
"Kamu sakit?"
__ADS_1
"Nggak, Mas...."
"Terus?"
"Apa?"
"Jangan-jangan... apa kamu...?"
Dia melotot tajam. "Apa sih kamu...? Jangan mikir yang aneh-aneh!"
"Kita ke klinik, ya?"
"Ogah! Aku tidak mau."
"Ayolah, kamu jangan keras kepala."
Maaf, kalau kamu tidak suka. Tapi aku bersyukur seandainya dugaanku ini benar.
"Ayo, makan lagi. Kamu habiskan ikannya, biar aku makan pakai sayur."
Gelagatnya aneh. Ada kecemasan di raut wajahnya yang coba ia sembunyikan dariku.
"Kamu nanti malam tidur di luar, ya."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Mas, kita belum menikah. Maksudku... kita bukan suami istri. Aku tidak mau...."
Aku mengangguk. "Aku paham," kataku. "Yang penting kamu anteng."
"Anteng, anteng. Aku bukan bayi."
Tapi aku yakin di perutmu ada bayi. Anakku.
Ah, senangnya aku. Meski belum pasti, meski Suci tidak mau dibawa ke klinik, bahkan tidak mau dibelikan testpack, tapi aku sangat yakin, terlebih semakin ke sini, dia semakin sering mual. Setiap hari malah, setiap pagi -- tiada hari tanpa muntah-muntah. Dan sejak hari itu aku belajar menjadi calon ayah yang baik.
"Kamu mengira aku hamil, ya? Sampai setiap hari kamu beli buah begini?"
Jangan menyahut berlebihan, Rangga. Emosinya belum stabil. Kuberikan dia senyuman terbaik. "Hanya berharap," kataku. "Kalau seandainya benar, aku sudah melakukan hal yang benar untuk anak kita. Anak itu tidak berdosa. Iya, kan? Sebagai ayah, aku harus memenuhi haknya. Dia berhak mendapatkan perhatianku. Kalau kamu?"
"Tidak tahu." Dia menggeleng.
Aku hanya tersenyum kecil. "Tidak apa-apa. Tapi kamu mau, ya, minum susu? Aku sudah membelikanmu susu dari kemarin. Mau, kan?"
Ah, leganya. Suci mengangguk. Rasanya kesabaranku sedikit berbuah manis. Wanita muda ini sudah sedikit melunak dan mau berbuat baik pada dirinya sendiri. Kurasa dia tahu dan sudah menyadari kalau ia memang sedang hamil. Dia hanya belum bisa mentolerir hal itu karena bayang-bayang masa lalunya. Tetapi biarlah. Toh, dia tidak berusaha menyakiti dirinya, apalagi dengan sengaja berusaha menyingkirkan janin itu -- seandainya benar ada kehidupan di dalam rahimnya.
"Terima kasih," kataku. "Aku siap, kapan pun kamu ingin kita menikah."
Dia menghela napas dengan berat. "Aku belum siap untuk tahu kenyataan yang sebenarnya. Aku takut, kalau di dalam diriku masih ada keinginan untuk menolaknya."
Begitu sulit menghapuskan semua traumanya. Tapi biarlah....
__ADS_1
Biar waktu yang menjawab segalanya. Biarlah waktu....