
"Hai, gue Stella."
Jabat tangannya bersambut. "Rangga."
"Gimana? Masih suka party-party?"
Ugh! Mulut boleh bertanya, tapi mata Raymond jelas menjelajah ke balik kemeja ketat yang dipakai Stella. Oh, tidak. Bahkan garis imajiner terlihat jelas menghiasi dadanya -- bagian yang indah dan kencang itu. Tentu, Raymond sudah menjelajahinya dengan teliti.
Stella menggeleng. "Belum dulu, Ray. Laki gue kan baru mati, masa iya gue udah main ke klub malam. Kecuali... ah, sudahlah."
Wow! Janda baru, man....
"Kecuali apa?"
"Ya... lu ngertilah. Kecuali kalau ada yang nemenin."
"Well, I see. So... apa lu mau gue temenin? Atau ini nih, ditemenin sama calon duda, Pak Bos ganteng. Gimana? Cocok, kan?"
Roby tergelak. "Janda, duda, pas banget, Bro. Jangan-jangan kalian jodoh. Wow... Man...!"
Glek! Ampun, punya teman, kok berengseknya kebangetan?
"Doi jago di ranjang," bisik Raymond di telingaku. "Kalau lu nanti kesepian, lu bisa minta tolong ke dia, oke?"
Dan, wow! Stella langsung curi-curi pandang kepadaku. "Yeah, kalau Pak Bos tidak keberatan. Bolehlah. Namanya juga menambah teman. Boleh, kan?"
"Kalau Pak Bos nggak mau, gue mau nemenin," Roby menimpali.
__ADS_1
Aku berdiri. "Sori, gue balik ke kantor dulu. Duluan, ya. See you all...."
Bebas! Aku berhasil melarikan diri dari situasi yang tidak menguntungkan ini.
"Permisi, Pak. Pak Billy sudah datang." Jessy yang cantik sudah berdiri di depan meja kerjaku dengan wajahnya yang fresh. Senewennya pada kelakuan Roby sudah sirna seutuhnya.
Aku mengangguk. "Suruh masuk. Saya ingin bicara empat mata."
Jessy langsung membukakan pintu dan mempersilakan Billy menemuiku. Sesuai instruksi, Jessy langsung meninggalkan ruangan.
"Bagaimana?"
Billy menganggukkan kepala. "Semua sudah beres, Tuan. Sesuai rencana. Hanya saja, Nyonya Rhea berteriak-teriak menanyakan keberadaan Tuan."
Aku menggelengkan kepala. "Biarkan saja," kataku. "Yang penting -- pastikan dia dan lelaki itu dalam keadaan hidup."
"Baik."
"Aman, Tuan. Tidak ada keluarga Nyonya Rhea yang datang."
"Bagaimana dengan para pekerja, besok mereka sudah bisa kembali masuk?"
"Ya, Tuan. Hanya pelayan Merry yang diperbolehkan mendekati kamar utama."
Merry. Wanita lima puluhan yang sudah lama bekerja di rumahku, bahkan sejak dulu. Aku memanggilnya bibi. Dia asisten rumah tangga yang setia pada keluarga Sanjaya. Wanita yang dititipkan pesan oleh ibu angkatku untuk terus mengurusiku. Yeah, selain Mama Sania, dia yang mengurusiku sejak kecil. Dan dipastikan, dia tidak akan pernah mengkhianatiku.
"Oke. Nanti malam saya akan kembali ke rumah untuk mengecek dua tawanan itu. Kamu boleh pergi."
__ADS_1
Billy membungkuk hormat. "Baik, Tuan. Saya permisi."
Billy keluar, bergantian dengan Jessy yang kembali masuk ke ruangan.
"Maaf, Pak. Ini ada titipan untuk Pak Rangga." Jessy menyodorkan boks makanan ke mejaku. "Dari pemilik resto di seberang kantor," katanya.
Ck! Stella. Apa-apaan ini? Pedekate?
"Untuk kamu saja, Jess."
"Tapi, Pak."
"Saya tidak selera."
"Maaf, Pak."
"Tidak apa-apa, ambillah."
"Em, baik, Pak. Terima kasih."
"Hmm, ya."
"Permisi."
Ouw, ouw, agresif juga, ya, dia? Sepertinya dia sudah bosan dengan Raymond.
Dan, bahkan setelah itu...
__ADS_1
Dering telepon kantorku terdengar diikuti suara Jessy. "Dari dia," katanya, seraya melirik boks makanan yang sudah berada di mejanya.
Aku tersenyum. Hanya ada satu "dia" yang dimaksudkannya. Stella!