Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Menyesakkan


__ADS_3

Aku sedang dalam perjalanan ke kampung Suci pada keesokan paginya, dan rasanya sangat menyesakkan teringat semua yang disampaikan Billy tadi malam. Kabar baiknya hanya satu, bahwa dua anak buah yang ia kirim menyusuri wilayah Lahat -- sudah menemukan keberadaan Suci, informasi itu sangat melegakan. Tapi sisa informasinya...


Menyakitkan.


Informasi pertama, mengenai kenyataan bahwa sebelum Suci tiba di kampung halamannya, ibunya sudah meninggal dunia. Hal itu membuat Suci tertekan, mental dan psikisnya terganggu, kehilangan dua orang dalam waktu bersamaan, juga kehilangan ibu yang mengurusinya sejak bayi, yang membuangnya begitu saja setelah kematian ayahnya. Semua itu membuatnya sedih berkepanjangan dan menjalani kehidupan tanpa semangat.


Informasi kedua, kata orang-orangku, kemungkinan operasi matanya gagal. Penglihatan Suci seperti terganggu. Dia tidak menatap fokus saat anak buahku mengajaknya bicara. Fakta itu membuatku menyesali kebodohanku. Harusnya aku menemukannya lebih cepat. Harusnya dia sudah melakukan tiga kali check up pasca operasi. Tapi nyatanya sekali pun tidak. Dia tidak pernah check up. Dan...

__ADS_1


Informasi ketiga, informasi yang sangat menyakitkan ketika aku mendengarnya: Suci ingin melupakan masa lalunya. Di sana dia memperkenalkan dirinya sebagai Mayang. Dan dia mengatakan kepada anak buahku, dia tidak mengenal pemuda bernama Rangga.


Damn it!


Dia ingin melupakan aku.


Perjalanan ini membutuhkan waktu cukup lama. Terlebih, sebelum menuju kampungan halaman Suci di daerah Lahat, aku harus bertemu seseorang dulu untuk membeli lima buah senjata api. Satu untukku, dan masing-masing satu untuk Leo dan Diego yang ikut bersamaku, dua lagi untuk Simon dan Jody, anak buahku yang mengawasi rumah Suci. Billy tidak ikut, aku mempercayakan semua pekerjaanku di Jakarta padanya. Yap, hanya untuk membekali diri. Aku tidak tahu bagaimana keamanan daerah asing yang akan kudatangi. Tentu, andai di bandara tidak ada sistem pengecekan, aku tidak perlu repot-repot untuk mendapatkan senjata baru, dan bisa langsung melanjutkan perjalananku. Tapi kenyataannya, aku bukanlah pria penguasa seperti di dalam komik yang bisa melewati bandara dengan perlakuan spesial. Aku juga tidak mengantongi izin atas kepemilikan senjata api. Dengan kata lain, yang kulakukan ini adalah hal illegal.

__ADS_1


Setelah melewati perjalanan yang panjang dan memakan waktu lebih dari tujuh jam, akhirnya aku pun sampai di desa kecil yang terletak di daerah Tanjung Sakti. Suci tinggal di rumah mendiang ibunya, sebuah pondok kecil terbuat dari kayu -- yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, dikelilingi perkebunan dengan jalan hampir tak beraspal.


Kupandangi pondoknya yang terbuat dari kayu tebal. Tempat itu agak lusuh tapi terawat baik. Lingkungan di sekitar rumahnya masih sangat sepi. Perlu kutambahkan, jangankan ATM, bahkan minimarket yang terakhir kulihat posisinya sangat jauh dari tempat ini.


Beruntung anak buahku sudah menyampaikan keadaan itu sebelumnya, sehingga Bibi Merry, Anne, dan juga Mbok Sari sudah menyiapkan semua kebutuhan kami.


"Kamu pasti bisa hidup selama beberapa hari di sana, Nak," kata Bibi Merry sewaktu mengisi muatan mobilku dengan koper dan segala keperluan kami, yang kini semakin banyak setelah Leo dan Diego memborong banyak minuman dan makanan instan, termasuk anggur pesanan Simon dan Jody yang sudah lebih dulu bermalam di daerah itu. Kata mereka suasana malam hari di sana sangat dingin tanpa selimut, apalagi tanpa wanita. Mereka membutuhkan anggur. Dan kami semua tahu, mungkin tidak akan mudah membujuk Suci untuk kembali ke Jakarta. Tidak dalam waktu dua puluh empat jam. Dan...

__ADS_1


__ADS_2