
Aku mengetuk kamar utama beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Kukira Suci tertidur di dalam, ternyata tidak. Sewaktu aku membuka pintu dan menoleh ke dalam, ia sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Ada earphone yang menyumpal di telinganya. Wajar saja dia tidak mendengar suara ketukan di pintu.
Aku menghampirinya, melepaskan earphone itu dengan perlahan. Namun tetap saja, Suci tersentak karena kaget.
"Ini saya," kataku. "Maaf, ya. Saya sudah ketuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban." Aku pun duduk di hadapannya.
Suci mengangguk, dia nampak lega dan menurunkan kewaspadaannya. "Maaf, Tuan, saya yang salah. Oh ya, ini... saya pinjam ponselnya Anne. GPS-nya tidak aktif, bahkan tidak ada simcard-nya. Tidak apa-apa, kan, Tuan? Saya cuma mau mendengar musik. Itu saja."
Dia nampak lugu, dan bersikap serta berbicara apa adanya. Diam-diam aku mengagumi. Ah, bukan. Aku mengagumi dalam diam.
"Iya, tidak apa-apa. Kalau itu membuat dirimu senang dan nyaman, silakan. Oh ya, saya punya sesuatu, khusus untukmu."
Senyumnya mengembang. "Apa itu?"
"Sebentar." Aku mengambil dan membukakan es krim yang tadi kubeli untuknya. "Ini," kataku. Aku meraih tangannya dan menaruh es krim ke dalam genggamannya. "Es krim."
Dia langsung riang, nyaris tertawa. "Es krim? Untuk saya?"
"Ya. Es krim spesial."
"Terima kasih, Tuan."
"Sama-sama."
__ADS_1
Setelah itu, masih dengan keceriaan yang sama. Dia baru hendak memakan es krimnya, tapi seketika tidak jadi. Kewaspadaannya kembali meningkat.
"Kamu takut saya menaruh sesuatu di es krim itu?"
Meskipun tidak bisa melihat, Suci menundukkan pandangannya. Dia meminta maaf atas kecurigaan dan rasa paranoidnya. Yap, lebih baik paranoid, daripada menyesal.
"Saya semalam mabuk. Dan perihal obat itu, saya salah minum. Saya tidak tahu kalau minuman di gelas milik teman saya itu mengandung obat perangsan*. Kalau tidak, saya tidak mungkin sampai... emm... melecehkan... kamu."
Dia menggeleng. "Saya tidak menganggap Anda melecehkan saya. Kita sama-sama tidak sadar. Kecuali yang tadi pagi." Lalu dia mengulu* senyum.
Aku tidak tahu kenapa. Tapi sepertinya dia bermaksud bercanda, karena setelah itu dia mengucapkan, "Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung."
Tapi saya terlanjur tersinggung. Sedikit. "Saya yang minta maaf. Itu juga salah saya, karena saya... saya terlalu--"
"Kamu bisa melupakannya?"
"Em, saya akan berusaha."
"Kalau tidak bisa?"
"Jangan diingat-ingat. Jangan dijadikan dendam."
Dia perempuan berhati baik. Tapi tetap saja, lebih baik paranoid daripada menyesal. Aku tidak akan mengubah keputusanku. Dia harus tetap berada di rumahku untuk sementara waktu, harus dalam pengawasanku.
__ADS_1
"Boleh saya tahu, kenapa kamu mabuk, dan...?"
Pertanyaan sensitif. Suci menghela napas panjang. "Saya dipaksa adik saya. Dicekoki minuman, dan... saya tidak tahu juga tentang obat itu. Saya buta."
Agak sedikit tidak masuk akal. "Maaf, kenapa--"
"Dia bukan adik kandung saya. Saya hanya anak angkat. Selebihnya, tidak perlu saya jelaskan. Anda pasti mengerti."
Aku mengerti. Hal seperti itu memang sudah sering terjadi, dan sudah menjadi cerita umum. "Oke. Saya paham."
"Tuan?"
"Ya?"
"Boleh saya menanyakan sesuatu?"
"Tentu. Silakan."
Dia berdeham, dan kelihatan ragu. "Kenapa Tuan memanggil saya sayang?"
"Emm?"
Apa yang harus kukatakan coba? Masa iya aku harus menceritakan tentang mimpiku. Dia akan menganggapku bodoh dan konyol karena percaya pada mimpi.
__ADS_1
Ah, payah!