Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Negosiasi


__ADS_3

"Maaf, tapi cara Anda menyebut kata sayang itu, itu tidak seperti sepintas saja. Seolah Anda memang sudah mengenal saya. Seolah... maaf, Anda fasih sekali menyebutnya. Tanpa keraguan. Kecuali kalau Anda menyebut Babe, Darling, atau Honey, kesannya pasti berbeda. Tapi ini... serasa ada sesuatu. Tapi saya juga tidak mengerti kenapa saya merasa seperti itu. Maaf, ya, Tuan. Saya tidak bermaksud...."


Kendati aku bingung harus mengatakan apa. Tapi wajahnya dan mendengar dia bicara, rasanya menentramkan.


"Tuan? Anda masih di sini?"


"Ya."


"Jadi, kenapa?"


Mati gaya, aku salah tingkah. "Emm... sebenarnya saya punya jawabannya. Tapi... mungkin suatu saat akan saya jelaskan. Sekarang belum saatnya. Tidak apa-apa, kan? Intinya, saya mengira kamu orang yang saya kenal. Begitu."


"Oh, begitu." Dia mengangguk. Entah terpaksa atau tidak. "Baiklah. Kalau begitu, bisa kita bahas tentang keberadaan saya di sini?"


Aku ragu, tapi aku tidak mungkin pergi lagi seperti tadi pagi. "Tentu," kataku akhirnya.


"Saya bersedia tinggal di sini, tapi hanya untuk satu minggu saja. Saya harus sudah berada di rumah sebelum kedua orang tua saya pulang dari luar kota. Saya rasa itu sudah cukup untuk menghilangkan bukti tindakan Anda pada tubuh saya."


Kuanggukkan kepala meski ia tidak bisa melihatnya. "Baik. Saya setuju."


"Boleh saya lanjutkan?"

__ADS_1


"Tentu."


"Mengenai yang kita lakukan semalam, tolong carikan saya obat pencegah kehamilan. Tolong?"


Kali ini aku tertegun. Jantungku tiba-tiba berdetak keras, dan hatiku terasa dicubit. Aku ingin menolaknya.


"Tuan? Bisa, kan?"


"Emm...."


"Anda tidak mungkin mengizinkan saya pergi ke rumah sakit sendiri. Iya, kan? Maka dari itu tolong, please?"


Aku tidak menyahut. Aku ingin mengatakan iya, tapi hatiku berat. Rasa-rasanya... aku ingin dia hamil. Aku ingin punya anak darinya.


"Tidak apa-apa."


"Anda tidak mau saya hamil, kan?"


"Saya...."


Dia mulai merengek, "Tuan, please... saya mohon, tolong carikan obat itu. Coba bayangkan, kalau saya sampai hamil, apa Tuan bersedia bertanggung jawab? Pasti tidak, kan?"

__ADS_1


Saat itu pikiranku kacau, dan tanpa berpikir panjang -- aku mengatakan, "Saya bersedia bertanggung jawab."


Praktis, pupil mata gadis di depanku itu langsung melebar. "Tuan, saya bicara serius," katanya. "Anda jangan bercanda soal ini. Itu tidak lucu!"


"Saya serius. Saya bersedia--"


"Tuan mau menikahi saya?"


"Menikah?"


Ia mengangguk. "Ya, bertanggung jawab bukan semata-mata mengurus anak yag terlahir, tapi juga menikahi ibunya. Dan saya rasa, Tuan pasti keberatan. Maaf, lagipula saya sadar diri, saya tidak pantas, saya hanya gadis buta."


Pertanyaan sensitif. Aku meneguk ludah, tapi tetap saja, aku tidak bisa mengatakan apa pun.


"Sudah, tidak usah dibahas. Intinya, saya butuh obat. Saya tidak mau hamil. Oke, Tuan?"


Aku terpaksa mengangguk, dan mengiyakan. Padahal hatiku menolak. "Akan saya carikan," kataku.


"Dan, soal keamanan saya di rumah ini, saya harap Tuan menjamin hal itu. Jangan sampai ada orang yang menyusup ke sini dan berbuat yang tidak-tidak pada saya. Saya tahu kalau saya sudah tidak perawan, tapi itu bukan berarti--"


Kupotong ia dengan cepat, "Tentu saja. Jangan khawatir soal itu. Tidak akan ada satu orang pun yang berani kurang ajar padamu. Saya juga tidak akan melakukan itu. Maksud saya, saya tidak akan mengulanginya. Tolong percaya pada saya."

__ADS_1


Dia mengangguk, lalu tersenyum.


Manis sekali....


__ADS_2