Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Harapan


__ADS_3

Hingga suatu malam, lebih dari satu minggu berikutnya, aku mengutarakan lagi keinginanku untuk menemui kedua orang tuanya. Tapi ia tetap menolak.


"Sabar, ya. Tapi aku ada berita baik untukmu."


Jujur saja aku masih kecewa, tapi biar kutelan sendiri. "Apa?" tanyaku dengan suara lemah.


"Lusa aku akan berangkat ke Singapura untuk operasi mata."


Waw! Seperti akan mendapatkan mata untuk diriku sendiri, aku sangat senang mendengarnya. "Ya Tuhan... aku ikut senang, Sayang. Aku temani kamu, ya. Aku ikut ke Singapura."


Hening.


"Aku pergi dengan orang tuaku, Mas."


"Kamu tidak ingin aku ada di sana?"


"Em, maaf."


Hatiku melesak. Tapi aku tidak bisa memaksa. "Oke," kataku.


"Bisa kita bertemu besok malam?"


"Mau bertemu di mana?"


"Kamu ke sini, temui aku."


"Lo? Bukannya...?"

__ADS_1


"Orang tuaku ada acara, dan kemungkinan akan pulang larut malam. Di rumah cuma ada aku dan Mbok."


Aku berdeham. "Kamu mau aku menyelinap? Sayang... aku bukan anak ABG. Masa iya aku menemuimu diam-diam, apalagi di tengah malam? Nope."


Hening lagi.


"Aku mau bertemu kamu dulu sebelum aku pergi. Please, Mas, temui aku. Kamu mau, kan, datang ke sini?"


Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini. Benar-benar seperti ABG nakal yang diam-diam mengintai rumah pacarnya, dan menyelinap masuk ketika orang tua si pacar keluar dari rumah. Memalukan. Terlebih Billy yang malam itu mengantarku tidak bisa menahan rasa gelinya. Dia menertawaiku sewaktu kami menunggu di depan rumah Suci.


Tapi aku harus bagaimana? Demi Suci. Gadisku yang masih belia itu merengek memintaku untuk datang menemuinya. Meski terkesan bodoh, tolol, dan konyol, aku melakukannya. Aku datang, mengendap-endap seperti maling.


"Hati-hati, Tuan!"


Oh, perkataan Billy justru membuatku deg-degan, aku khawatir kalau ada orang yang melihatku dan meneriakiku maling, bisa mampus aku dihajar massa.


"Mas, apa itu kamu?" Suci bertanya sesaat setelah menyibakkan gorden jendela kamarnya.


Syukurlah, aku tidak salah kamar, batinku. "Ya, ini aku."


Dia menjulurkan anak kunci kepadaku, dan memintaku membuka gembok untuk membuka terali jendela itu. Aku pun melangkahkan kaki dan masuk.


"Kamu sebegitu percaya," celotehku. "Bagaimana kalau yang datang bukan aku? Maling misalnya?"


Suci tertawa. "Aku mengenali suaramu, Mas."


"Suara bisa diti--ru...."

__ADS_1


"Ssst... bisa hentikan celotehanmu?"


"Em, yah, oke," kataku. Kuciumi jarinya yang menempel di bibirku.


"Bagaimana dengan keningku? Aku belum menerima ciuman sayang dari kekasihku."


Gadisku yang manis. Dia sangat bisa bermanja-manja padaku. Yeah, tidak sekadar ciuman di kening, aku juga memberikan pelukan yang erat untuknya.


"Jadi, kenapa memintaku datang?"


Dia mendadak cemberut. "Kamu tidak merindukan aku? Tidak kangen?"


"Bukannya begitu...."


"Terus?"


"Aku cuma nanya, siapa tahu ada--"


"Aku merindukanmu. Apa salah?"


Ya ampun... baper sekali....


"Aku juga merindukanmu. Aku juga kangen. Kangen berat malah. Sampai-sampai... aku kepingin membawamu pulang ke rumahku, ke rumah kita."


Akhirnya dia tersenyum lagi. Nyaris tertawa. "Setelah aku operasi, aku akan langsung menceritakan perihal hubungan kita pada orang tuaku."


Aku menghela napas, sambil berharap bahwa itu bukan sekadar harapan. Aku ingin Suci secepat mungkin berbicara pada orang tuanya mengenai hubungan kami, aku ingin segera melamar dan memperistrinya. Memilikinya seutuhnya.

__ADS_1


__ADS_2