
"Saya tidak tahu pasti, Tuan," si Mbok menjawab. "Yang saya tahu Non Suci pulang kampung. Saya juga tidak tahu persis di mana tempatnya. Saya cuma ingat nama desanya, kalau tidak salah ada kata Sakti-nya, gitu."
Aku mengerti, Mbok Sari sudah sangat tua, wajar kalau ingatannya sudah agak pikun. "Mbok tahu kecamatannya atau kabupatennya?"
"Tidak tahu, Tuan. Yang pasti di Sumatera Selatan. Kalau tidak salah."
Aku menghela napas sedikit lega, setidaknya aku punya sedikit petunjuk, pikirku.
"Kamu cari informasi semua desa Sakti di Sumatera Selatan," kataku pada Billy. "Suruh orang-orang kita menyebar dan mencari keberadaan Suci. Segera laporkan kalau ada perkembangan. Saya sendiri yang akan menjemputnya ke sana."
Billy paham tugasnya, dan dia langsung mengerjakan tugas itu dengan baik.
__ADS_1
"Apa yang terjadi, Mbok?" tanyaku. Aku ingin tahu apa pun kejadian yang tidak kuketahui hingga hampir satu bulan ini aku kehilangan Suci.
Mbok Sari lagi-lagi menjawab tidak tahu pasti. "Dari yang saya dengar, setelah operasi itu, keluarga Pak Abraham menyusul ke Singapura untuk membahas perjodohan Non Suci dengan Den Ramon. Saya dengar mereka juga akan menggelarnya di sana. Tapi... Non Suci memilih jujur kalau... kalau... dia tidak memenuhi syarat yang diajukan oleh keluarga Pak Abraham. Karena itu perjodohan mereka dibatalkan, Pak Abraham tetap menagih hutang-hutang Tuan Nugraha. Lalu... kondisi Tuan Nugraha ngedrop, dan Nyonya Rani tetap memaksakan diri untuk membawa Tuan pulang ke Indonesia. Tapi... setibanya di Jakarta, kondisi Tuan Nugraha semakin memburuk. Beliau kena serangan jantung, Tuan. Sampai-sampai... beliau meninggal setelah keluar dari bandara."
Ya Tuhan, lagi-lagi aku harus menerima tamparan keras dari kenyataan ini. "Terus, Mbok?" Sesak mulai terasa.
"Sore itu juga jenazah Tuan Nugraha dibawa pulang ke Bogor dan dimakamkan keesokan paginya. Lalu, yang saya tahu dari Non Suci, Nyonya mengabarkan perihal Non Suci ke ibunya di kampung. Mungkin Tuan tahu, ibunya memang punya riwayat lemah jantung. Keadaan ibunya ngedrop, karena itulah... Non Suci memutuskan untuk pulang ke kampungnya. Sementara Nyonya menetap di Bogor, di rumah peninggalan orang tuanya. Karena rumah di Jakarta...."
"Yah, rumah di Jakarta sudah disita," gumam Mbok Sari -- pelan, nyaris tak terdengar.
Sakit sekali. Rasa sesak bersemayam di dadaku. Semua yang terjadi di luar kendaliku. Apa aku terlalu memaksakan hubungan kami? Apa aku terlalu egois sehingga menimbulkan banyak korban? Semuanya terjadi seolah gara-gara aku.
__ADS_1
"Satu hal yang saya tidak mengerti, Mbok. Kenapa Suci tidak mengatakan apa pun kepada saya? Dia tidak mengabari saya sama sekali. Dan... kenapa saya tidak bisa menemukan jejaknya di bandara?"
Mata Mbok Sari sedari tadi sudah berkaca, bahkan pipinya sudah basah, tapi kali ini ia sampai terisak. "Tuan mencarinya dengan nama Suci Nugraha?"
Aku mengangguk.
"Nyonya sudah tidak menganggapnya sebagai anak, Tuan. Dia sudah tidak diperbolehkan menggunakan nama Nugraha. Nyonya... saat ini dia sangat membenci Non Suci. Katanya Tuan Nugraha meninggal gara-gara Non Suci. Non Suci sekarang menggunakan nama aslinya. Suci Mayang Sari."
Ya Tuhan, Billy... dasar bodoh!
Atau justru aku?
__ADS_1
Rangga si idiot! Semua ini kesalahanmu, Rangga! Semua ini kesalahanmu! Berengsek!