
Keesokan paginya aku dan Billy langsung kembali ke Jakarta. Selama di dalam pesawat, aku melamun, menertawai sekaligus mengasihani diri sendiri. Aku, seorang suami yang jauh-jauh terbang ke Bali hanya untuk melihat istriku bertarung ganas dengan pria lain. Miris!
Setelah menempuh perjalanan jauh, tujuan pertamaku adalah ke Dirgantara Group, perusahaan ayahnya Rhea. Sial, kedatanganku di saat yang tidak tepat, sang resepsionis menginformasikan bahwa pimpinan mereka sedang tidak bisa diganggu. Aku diminta menunggu di lobi. Tapi aku tidak suka dibuat menunggu. Aku tidak suka.
"Saya ingin bertemu Pak Reno sekarang," kataku. Aku melangkahkan kaki dari meja resepsionis menuju ruangan ayah mertuaku.
Di belakang, resepsionis cantik itu mengikutiku meski langkah kakinya yang ber-hak tinggi tidak bisa menyeimbangi langkah kakiku yang jenjang, dia berusaha menahanku dengan kalimat-kalimat permohonannya yang sama sekali tidak kugubris.
Sesampainya aku di ruangan itu, aku membuka pintu sang pimpinan tanpa permisi dan mendapati ayah mertuaku, keladi tua hidung belang yang sedang menggagahi sekretaris cantik di sofa ruang kerjanya, wanita muda berdada montok dan bodi se-oke gitar Spanyol dan selalu dalam balutan serba press. Luar biasa seksi. Begitu menyadari keberadaanku, lelaki tua itu terperanjat dan refleks melepaskan diri dari lawan tempurnya.
"Maaf, Pak," kata resepsionis. "Saya sudah--"
"Kalian semua keluar!"
"Baik, permisi." Resepsionis berlalu.
"Silakan duduk, Rangga. Mau minum apa?" tanya Reno sambil membenahi pakaiannya.
__ADS_1
Aku menggeleng. "Tidak perlu repot-repot," kataku. Sementara ekor mataku memerhatikan sekretaris yang masih berdiri di depan pintu -- masih membenahi kancing kemejanya -- sebelum ia membuka pintu dan akhirnya keluar.
Ck! Selera yang bagus. Beruntung juga lelaki tua ini sehingga daun muda itu bersedia digempur dengan rudal tua miliknya.
"Kenapa? Barang bagus, kan?" Ia berputar dan duduk di kursi kejayaannya.
Aku tersenyum sinis, dan ikut duduk. "Yeah. Jika dilihat dari luar. Cocok untuk mainan."
Dia mengedikkan bahu. "Selingan. Mama mertuamu kan sudah tidak muda lagi. Papa butuh yang segar. Yang masih kenyal dan kencang."
Berengsek! Otak Anda masih mikir yang kencang? Aku memijat pelipis.
"Well, sebenarnya saya ingin menarik semua dana investasi saya di perusahaan ini."
"Lo, lo, lo, tunggu dulu, kenapa? Kok tiba-tiba begini? Coba jelaskan dulu."
"Bukan apa-apa, hanya saja... saya khawatir hubungan kita setelah ini menjadi... renggang."
__ADS_1
"Renggang? Kenapa? Ada apa, Rangga? Kamu ada masalah dengan Rhea? Hmm?"
Aku mengetuk-ngetukkan jemariku di meja kayu yang berwarna cokelat mengilap itu -- berusaha menepis keraguan. "Saya akan menggugat cerai Rhea," kataku akhirnya. Aku geram ingin segera membeberkan kelakuan bejat anaknya.
Lelaki tua itu menyeringai, dahinya yang mulai keriput membentuk lipatan bergelombang. "Kenapa? Ada apa dengan kalian?"
"Rhea selingkuh."
"Apa?"
"Yeah, itu kenyataannya."
"Kok--" kalimat Reno terputus. Raut bingung tercetak jelas di wajahnya.
Kenapa heran? Wajar saja dia seperti itu kalau papanya seberengsek Anda. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dan aku yang menjadi korbannya. Berengsek kalian!
"Sebentar, kamu yakin dengan apa yang kamu katakan? Kamu punya buktinya?"
__ADS_1
Aku tergelak. "Maksud Papa, Papa mau saya merekam adegan ranjang putri Papa dengan kekasih gelapnya itu -- supaya Papa percaya? Hmm?"
Lucu! Konyol sekali!