Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Perubahan Rencana


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Rhea sudah siap, cantik dan anggun. Lalu ia menarik kopernya.


"Sini, biar kubantu."


Aku mengantarnya ke depan, memeluknya lagi untuk sesaat dan mengecup keningnya. "Hati-hati. Kabari aku begitu kamu sampai. Dan segera telepon aku kalau ada apa-apa. Jangan telat makan, dan jangan tidur terlalu larut."


"Iya, pasti. Aku istri paling beruntung sedunia, karena aku memilikimu, suami yang sangat perhatian. Terima kasih, ya."


Lalu aku membukakan pintu mobil dan membiarkannya masuk. "Hati-hati, dan cepat pulang."


Dia mengangguk sambil tersenyum. Sementara mobilnya melaju, Rhea berseru kepadaku melalui jendela pintu belakang yang terbuka, "I love you...."

__ADS_1


Sampai jumpa. Aku akan sangat merindukanmu.


Dan kami terpisah. Dan...


Alam semesta benar-benar mendukung perpisahan itu, sebagaimana keesokan harinya cerita itu berubah....


Yap, Rhesmi Yunita, ibunya Rhea. Pagi-pagi sekali ia sudah berkunjung untuk menemui anaknya. Tapi bukan hal yang aneh jika dia tidak tahu tentang kesibukan anaknya, ke mana dan sedang apa. Yang ia tahu hanyalah merongrong kami untuk segera memberinya cucu.


Ibu mertuaku hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawabanku. Mau bagaimana lagi?


Yeah, jujur saja, aku pun sama kepinginnya seperti ibu mertuaku itu. Aku sangat ingin segera memiliki anak, buah cinta penerus darahku, supaya kehidupanku lebih hangat, lebih berarti, dan lebih berwarna. Bagiku, kehidupanku bersama Rhea -- sejak kami menikah sampai hari ini, memang sudah sangat sempurna, tapi tentu saja akan lebih sempurna lagi jika dilengkapi dengan suara riang dan tingkah polos anak-anak -- sosok kecil yang sudah lama kunanti-nantikan. Tapi sayangnya Rhea masih ingin fokus meniti karirnya, dan ia berjanji bahwa dia akan memikirkan soal anak di usia tiga puluhnya nanti.

__ADS_1


"Mudah-mudahan Rhea menepati janjinya, ya, Ma. Rangga juga sudah sangat ingin memiliki anak."


Kali ini ibu mertuaku mengangguk, tetapi ia tetap diam. Mungkin sekarang kau berpikir kalau aku ini sosok lelaki yang payah dan tidak bisa mengatur istri. Tapi mau bagaimana lagi? Itu satu-satunya solusi yang menjadi jalan tengah dalam hubungan kami, untuk menjaga keharmonisan rumah tangga kami. Dan, yap, aku bukanlah seorang lelaki yang bertindak semaunya terhadap istri, aku tidak ingin melakukan kekerasan padanya, apalagi dengan mudahnya memutuskan hubungan begitu saja ketika kami tidak seiya sekata. Dan terpenting, aku lelaki setia dan sehat -- aku tidak pernah bermain-bermain dengan perempuan lain, apalagi jajan. Sama sekali tidak pernah. Aku sosok yang sepenuhnya menghargai arti dan kesucian sebuah pernikahan.


"Nak."


"Emm? Kenapa, Ma?"


"Kamu susul Rhea ke Bali, gih. Diam-diam, berikan kejutan untuk Rhea, sekalian kalian bulan madu lagi. Siapa tahu, mungkin nanti dia akan berubah pikiran."


Tidak akan ada yang berubah. Aku tahu itu. Tapi perihal memberinya kejutan? Kupikir itu ide yang bagus. Dan memang bagus.

__ADS_1


Aku pun mengiyakan ide yang dicetuskan oleh ibu mertuaku itu, dan segera meminta kepada asistenku, Billy, untuk mencarikan informasi mengenai hotel tempat Rhea menginap selama di Bali.


__ADS_2