
Aku menyibakkan selimut dan menggeser tubuh di sampingku perlahan, lalu mencium bibirnya selama beberapa detik. Dia tersenyum, manis sekali, kemudian ia mengulu* bibirnya dan tersenyum lagi. Dia menyukai ciumanku, pikirku.
Beberapa saat kemudian, sambil menguap dan meregangkan tubu, interval kakinya terbuka sementara satu tangannya menutup mulut. Kupikir itu kode. "Kamu juga mau lagi?"
"Hmm," *esahnya.
Sontak saja aku tersenyum senang dan semakin bersemangat. Aku mulai turun ke bawah dan menikmati kelembutan manis yang ada di sana. Mengecupnya dan merasainya dengan gila. Gadis cantik itu pun tersenyum lagi kendati matanya masih terpejam.
Yap. Pagi ini aku tidak mau berlama-lama, cukup dengan sedikit saja sentuhan sebagai permulaan, aku pun memulai. Kuangkat satu kaki cantik itu dan menaruhnya di atas pahaku, sementara kaki satunya terselip di antara kedua kakiku. Kuarahkan diri, dan aku pun masuk perlahan -- membenamkan dulu diriku dengan sempurna, dan membiarkanya selama beberapa detik tanpa pergerakan.
Ya Tuhan, hangat sekali gadis ini.
"Eum...," dia *elenguh -- merasakan aku di dalam dirinya. Menyatu dalam kehangatan. Tetapi...
Dia memiringkan kepalanya sedikit. "Mimpi yang manis. Tapi, kok terasa nyata?"
Ya ampun, dia mengira ini mimpi. It's ok. Bermimpilah.
__ADS_1
Kuangkat pinggulku, dan menurunkannya lagi perlahan.
"Eum...," dia *elenguh lagi. Tapi kali ini dia berusaha bangun dan mengumpulkan kesadarannya yang seakan belum kembali sepenuhnya ke dalam raga. Dan tiba-tiba kepalanya terasa sakit. "Ouch! Ssst... sakit." Dia menekan kuat pelipisnya.
Refleks aku menurunkan tubuhku. Aku yang tadinya bertumpu dengan telapak tangan, sekarang menumpuh tubuhku dengan siku dan lengan yang bertelekan -- mengapit tubuh polos si gadis yang berada di bawah kungkunganku. "Kenapa? Kamu masih pusing?"
Dia terkesiap begitu mendengar suaraku dan dengan cepat mendapatkan semua kesadarannya.
"Siapa kamu?"
Mata cokelatnya membeliak selebar tatakan cangkir. Dan dalam kebingungan, dia menekankan telapak tangannya ke bahuku dan mendorongku sekuat tenaga. Tapi tak berhasil, tenaganya tidak cukup kuat untuk bisa mendorong tubuhku yang kekar. Akhirnya, dia hanya bisa memukul-mukul dadaku dengan tangannya yang terkepal.
Kegelisan menguasai diriku. "Ssst, tenang," bujukku. "Tenanglah."
Karena resah akibat peristiwa yang mengejutkan ini, aku membekap bibir gadis itu dengan satu tangan. Sesuatu kelihatan tidak beres di sini. Lenganku sudah tidak bisa menumpu tubuhku karena aku sibuk membekapnya dan menahan satu tangannya lagi supaya berhenti memukul.
"Please, Sayang. Tenang...."
__ADS_1
Matanya semakin membelalak, tetapi tangannya sudah berhenti memberikan perlawanan. Kendati demikian, tubuhnya bergetar ketakutan.
"Tenang, ya, Sayang. Jangan takut. Oke? Aku tidak akan menyakitimu."
Dia mengangguk kuat dan tak terkendali. Aku tahu dia masih ketakutan. Tetapi anggukannya membuatku melepaskan bekapan tanganku dari mulutnya.
"Sayang? Kenapa kamu memanggilku sayang? Siapa kamu?"
Ada yang janggal. Dia meraba-rabai wajahku dengan tatapan mata yang tidak fokus.
Apa dia...?
"Aku tidak mengenalmu," ujarnya. "Tolong, lepaskan aku."
Dia menjauhkan tangannya dari wajahku, dan tangan itu langsung berpindah -- menutup mulutnya. Entah sedari kapan, tapi sekarang aku menyadari air matanya mengalir begitu deras.
Dia benar-benar tidak bisa melihat? Atau hanya pura-pura sebagai taktik menyelamatkan diri? Dia berpikir aku orang jahat, kan?
__ADS_1
Well, aku melambai-lambaikan tangan di depan wajahnya. Nihil. Tidak ada respons, hingga aku berpikir lagi -- apa dia benar-benar tidak bisa melihat? Tapi rasanya mustahil, di dalam mimpiku -- tidak seperti itu. Dia bisa melihat.
Apa dia bukan gadis dalam mimpiku? Apa mungkin aku salah orang? Ya Tuhan....