
Pagi yang indah. Waktu aku membuka mata, kulihat wajah cantik Suci masih damai dalam tidurnya. Segaris tipis cahaya matahari bagai mengiris sosoknya jadi dua, sehingga seluruh sisi kiri wajahnya berkilauan dan rambutnya jadi berwarna cokelat kemerahan.
Aku meraih ponsel yang ada di ujung kepalaku, mengambil potretnya yang cantik. Bukan untuk apa-apa, hanya untuk memandanginya jika suatu hari aku merindukannya. Sejenak kemudian, kuraih tangannya, dan menelusurkan jariku di garis-garis telapak tangannya. Dia terbangun, dan segaris tipis senyuman mengembang dalam keheningan.
"Suci," kataku. Aku menarik napas dalam-dalam dan jantungku mulai berdegup lebih cepat. "Saya mencintai kamu."
Konyol. Tanpa basa-basi dan A U I E O bla bla bla, bisa-bisanya aku mengatakan cinta begitu saja? Dasar, Rangga yang aneh.
Dia menyunggingkan senyum malu, lalu memalingkan wajahnya, dan aku berani sumpah -- aku melihatnya tersipu-sipu. Cute sekali, khas gadis muda yang baru jatuh cinta. "Saya bukannya tidak percaya. Hanya saja, di antara kita, hubungan kita yang diawali...." Suci mengedikkan bahu. "Tuan pasti mengerti. Intinya, terlalu cepat untuk membahas soal cinta. Masih ada banyak waktu. Cinta bukan hanya sekadar urusan ranjang ataupun kenyamanan sesaat. Jangan mengatakan cinta kalau hati kita masih belum yakin."
"Saya mengerti." Lalu aku berdeham. "Tentang semalam, apa kamu menyesal? Kamu membenci saya?"
Dia menggeleng. Senyumannya menyiratkan ketulusan. "Saya tidak pernah membenci Tuan. Tidak juga untuk yang semalam. Emm... jujur, kalau mengingat itu perbuatan yang salah dan dosa, iya saya menyesal. Tapi selebihnya tidak. Saya ikhlas membantu Tuan."
"Tidak merasa jijik pada saya?"
"Tidak sama sekali. Tapi... lain kali hati-hati. Dan kalau bisa, Tuan jangan pergi ke bar lagi."
"Em, oke. Tidak akan lagi. Aku janji. Dan... terima kasih karena kamu tidak membenciku. Aku juga sangat berterimakasih atas bantuanmu semalam."
Suci menahan tawa. "Aku-kamu?"
"Emm... yeah."
"Bagus juga, terdengar lebih akrab."
"Bagaimana kalau sayang?"
__ADS_1
"Ya, Tuan, apa pun boleh."
"Bisa jangan panggil tuan?"
"Lalu? Apa?"
"Sayang."
"Eh? Masa sayang?"
"Ya, oke. Apa saja boleh."
"Wajah Anda mendukung tidak kalau dipanggil mas?"
Agak geli. Dan sebenarnya aku merasa tidak pantas dipanggil mas yang terkesan Jawa atau Indonesia banget. "Boleh saja kalau kamu mau."
Dan aku tidak ingin semua ini berakhir. Tidak ingin.
Kulirik selimut yang menutupi tubuh kami, lalu aku beringsut lebih dekat, memiringkan tubuhku dan memeluk tubuh polosnya yang terbungkus selimut. Sungguh, aku hanya memeluknya, melingkarkan tanganku di pinggangnya di bawah selimut. "Aku mau memelukmu lebih lama. Boleh, ya?"
Dia kembali gemetar seperti semalam saat aku melepaskan pakaiannya dan membawanya ke ranjang, bahkan saat ia terbaring di bawah tubuhku.
"Em, boleh. Asal Tuan tidak-- maksud saya, eh salah, maksudku... maksudku asal Mas Rangga tidak menganggap aku...."
Sedikit lancang, aku mencium bahunya.
Ugh! Dia sedikit tersentak. "Mas...."
__ADS_1
"Tidak akan. Di mataku kamu gadis yang baik, kamu juga tulus. Sungguh. Jangan merasa rendah di depanku. Ya? Please...?"
Ia tersenyum. "Terima kasih, Mas Rangga."
"Boleh aku tahu, kenapa kamu peduli padaku? Sampai kamu bersedia mengorbankan diri untukku?"
Ia memejamkan matanya sejenak, lalu menggeleng. "Aku tidak tahu," katanya. "Yang pasti aku tidak ingin Mas Rangga tersiksa karena obat itu. Please, jangan mengira aku melakukan itu semata-mata untuk *eks. Aku--"
"Ssst...."
"Mas...?"
"Terima kasih atas kepedulianmu."
"Sama-sama, Mas."
"Boleh tanya satu hal lagi?"
"Tentu. Silakan saja. Mas Rangga mau tanya soal apa?"
"Emm...."
"Bertanya, ya. Bukan meminta, apalagi mengulang yang semalam."
What???
Ya ampun... aku sampai terkikik-kikik. Sikap blak-blakan gadis cantik ini terkesan lucu. Menggemaskan.
__ADS_1