
"Bibi mengerti. Tapi sepertinya dia gadis yang baik. Mungkin dia tidak akan melakukan hal itu. Dan Bibi rasa, dia tipikal orang yang akan menjaga nama baiknya, juga nama baik keluarganya. Jadi Bibi rasa mustahil kalau mereka akan mengangkat apa yang terjadi ini ke media."
Aku menggeleng lagi. "Segala sesuatu tidak seperti kelihatannya, Bi. Iya kalau memang seperti yang Bibi katakan. Kalau tidak? Hal ini pasti akan menghancurkan nama baik saya."
"Nak...."
Kuremas rambutku kuat-kuat. "Lebih baik paranoid, daripada menyesal."
Bibi Merry mengangguk. Menyerah. "Jadi, kamu mau bagaimana? Menurutmu, apa yang terbaik untuk mengatasi masalah ini?"
"Dia harus tetap di sini untuk sementara. Sampai dia bersih. Dan seandainya pun nanti dia pergi dari sini dan ingin melakukan visum, dia tidak bisa lagi membuktikan kalau saya yang...." Kuhela napas dalam-dalam. Gelisah. "Kalau saya yang sudah... saya yang sudah berbuat salah padanya. Saya... saya sudah melecehkannya. Saya merenggut... saya merenggut kegadisannya. Saya mesti bagaimana?"
Wanita tua penuh kasih itu menepuk-nepuk bahuku dengan pelan. "Bibi mengerti, Nak," katanya. "Tapi, kalau kamu seperti ini, ini namanya kamu egois. Kamu tidak boleh memaksakan kehendakmu, apalagi sampai mengurung dia di sini."
__ADS_1
"Saya tahu saya egois, Bi. Tapi saya tidak punya pilihan."
Ia menghela napas dengan berat. "Nanti Bibi coba jelaskan pada Suci."
Oh, namanya Suci. Tapi sekarang dia sudah tidak suci gara-gara perbuatanku.
"Mudah-mudahan dia bisa dan mau mengerti. Dan mudah-mudahan dia mau tinggal di sini untuk sementara waktu."
Lagi. Aku mengangguk. "Terima kasih, Bi. Bibi selalu ada untuk saya."
》Kita harus ketemu. Gue tunggu di cafe biasa setengah jam lagi. Penting.
Ya ampun, ada apa lagi ini? Kenapa Roby tiba-tiba mengajakku bertemu? Apa yang penting? Tentang dia dan Jessy?
__ADS_1
《 Oke.
Setengah jam kemudian, aku dan Roby pun bertemu di Starla Cafe di pagi menjelang siang itu. Aku tiba di sana beberapa menit lebih awal. Aku berdiri di luar, mengintai ke dalam dari celah tirai-tirai plastik sewarna kayu.
Waktu aku hendak masuk dan mencari meja, aku melihat Roby. Dia duduk di meja belakang, paling pojok dekat pintu ke arah toilet. Hari itu adalah hari musim panas yang biasanya: panas, gersang, dan membosankan. Aku berharap cuaca ini tak lantas mempengaruhi suasana di antara aku dan Roby gara-gara kejadian di rumah sakit kemarin.
Tetapi yah, hari itu Roby kelihatan rapuh. Dia duduk sendirian, bergelayut dengan pemikirannya sendiri dengan kepala ditundukkan plus, dengan rambutnya yang agak kusut.
Kuamati-amati dia sambil masuk ke dalam cafe, berharap dia akan melihatku. Tapi tetap saja, tatapannya tak juga beranjak. Kelihatannya dia memikirkan sesuatu yang sangat berat sewaktu aku menghampirinya.
"Rob?" kataku.
Baru saat itulah dia mengangkat wajah, dan sekilas aku melihat kedua matanya. Matanya dalam -- sangat dalam, nyaris ditudungi bayang-bayang. Dan sepasang mata itu memberi kesan "lelah."
__ADS_1
Dia mempersilakan aku duduk, dan kami duduk dalam hening selama beberapa menit.
Aneh, bukan? Ada apa dengan dirinya? Dan entah kenapa, aku jadi gelisah memikirkan apa yang hendak dibicarakan Roby kepadaku. Aku duduk dan mengamatinya. Sebenarnya, dia juga terlihat sama gelisah dan sama kacaunya sepertiku.