
Ya... bisa dibilang aku tidak keberatan. Demi dia, aku rela meninggalkan semua kenikmatan dan kemewahan di Jakarta, tidur di dalam tenda, mandi dan kegiatan apa pun itu dengan air yang mau tidak mau harus kuanggap higienis meski hatiku bertanya-tanya. Dan untungnya zaman sudah modern, dengan adanya airbed, tubuhku tetap merasa nyaman meski...
Suasana sangat hening nyaris seram saat kami berlima melewati malam pertama di lokasi perkemahan istimewa kami malam itu. Untungnya tenda yang disiapkan Billy berupa tenda berukuran besar yang bisa menampung kami berlima sekaligus. Nah, apa yang perlu ditakutkan? Hah!
Sialnya, tepat pukul sebelas malam perutku tidak bisa diajak kompromi.
"Mana senter?"
"Mau ke mana, Bos?" tanya Diego.
"Ke belakang, sakit perut."
"Mau ditemani?"
"Berengsek! Kamu pikir saya penakut?"
"Haha!"
__ADS_1
Aku mengambil dan menyalakan senter dan mengarahkannya ke pekarangan belakang. Keadaan di luar itu sangatlah gelap, rumah itu tidak dialiri listrik. Walaupun ada listrik, memangnya untuk apa? Suci tidak memerlukan cahaya apa pun untuk menerangi malamnya. Di saat itulah hatiku merasa dicubit, aku ingat apa yang pernah ia katakan kepadaku di dalam mimpi.
Aku berada di dunia yang gelap.
Well, aku masih di dalam kamar mandi ketika mendengar suara decitan pintu terbuka. Perutku melilit sejak tadi dan baru membaik setelah tiga kali ke kamar mandi, dan sengaja tidak langsung keluar untuk memastikan perutku tidak menuntutku untuk kembali berjongkok.
Mendengar suara pintu terbuka, aku bisa menebak dan memastikan itu pasti Suci, dia hendak ke kamar mandi, dan itu menjadi kesempatanku untuk menemuinya, pikirku. Aku pun membuka pintu dengan amat perlahan, dan...
Benar. Gadis itu berdiri -- sedang menutup pintu belakang pondoknya dengan posisi memunggungiku.
Dan aku tertegun. Suci memegang sebuah pelita di tangannya. Untuk apa? Penerangan? Berarti...? Aku menggeleng pelan dan bertanya-tanya dalam hati. Apa mungkin...?
Yap! Dia terperanjat, kaget bukan main. Matanya yang bulat membelakak memandangiku. Kami bertatapan dan akan berlangsung lebih lama seandainya pelita di tangannya tidak terjatuh.
Aku bergerak maju hendak mendekatinya, tetapi sebelum aku bisa berada lebih dekat dia sudah berbalik dan berusaha membuka kembali pintu yang baru saja ia tutup.
"Tunggu!" teriakku, aku berhasil mendapatkannya dalam genggaman tanganku. Tapi ia meronta-ronta minta dilepaskan. "Please, tenang. Tenang, ya. Tenang."
__ADS_1
Dia berhenti meronta, tetapi...
"Anda siapa?"
Glek!
"Kamu tidak mengenaliku? Hmm?"
Dia menggeleng. "Saya buta," katanya.
Sakit rasanya mendengar ia berkata seperti itu. "Jangan bohong...," kataku lirih. "Aku tahu kamu melihatku. Iya, kan?"
Dia kembali menggeleng dan aku menyadari dia menangis. "Lepaskan aku...," pintanya sambil kembali meronta.
"Tidak akan," desisku seraya menariknya ke dalam pelukanku. Kupeluk tubuhnya sekuat yang kubisa. Perlawanannya sia-sia, dia berhenti meronta dalam pelukanku yang kuat meski tangannya terus memukul-mukul dadaku, tapi tak ada gunanya. Pelukanku tak sedikit pun mengendur. Akhirnya Suci menyerah, lemah, dan tak lagi melawan. "Kumohon, jangan menghindariku," aku melepaskan pelukan dan menggenggam kedua tangannya, "please?" Kutatap ia penuh harap.
Dia hanya menjawabku dengan sekali anggukan. "Aku ingin ke kamar mandi," katanya.
__ADS_1
Yah, setidaknya dia sudah tenang. Kulepaskan tanganku darinya dan membiarkan ia ke kamar mandi dengan senter di tanganku. Sementara aku mengambil pelitanya yang tadi terjatuh.