
"Berengsek, lu, Rob! Aset perusahaan gue bisa rusak kalo deket-deket sama lu."
"Yeee...," sungutnya seraya melempar bungkus rokok kosong ke arahku. "Sue, lu, Rang!"
"Please, ya, jangan panggil Rang! Ngerti? Nanti gue pecat, lu!"
Roby tergelak. "Ampun, Bos!"
Well, dengan malu, Jessy pun mengambil gelas jusnya, meminumnya sedikit dan langsung menatapku dengan maksud undur diri. "Maaf, Pak," ucapnya, tanpa melanjutkan kata-katanya.
Aku mengangguk. "Hati-hati," gumamku. "Maaf, kamu jadi harus balik ke kantor sendiri."
Jessy mengangguk, berpamitan, dan melenggang pergi.
Cih! Sejak kapan lu perhatian pada karyawan? Rangga... Rangga. Awas naksir! Lu baru calon duda, baru calon. Ingat itu!
"Mau ke mana tu si Roby? Ngintilin si sekretaris cantik?"
Aku mengedikkan bahu, lalu duduk di meja mereka. "Ya. Paling mau cari perhatian pada Jessy. Sok-sokan mau nganterin segala."
"Kenapa lu jadi kepo, Ray?"
Raymond mengalihkan pandangannya dari sosok Roby yang sudah berjalan jauh ke luar resto. "Bukannya kepo, Roy. Kan Pak Bos sendiri yang melarang kita mendekati sekretarisnya. Tuh, si Roby, kok malah dibiarin?"
Aku tersenyum geli melihat kecemburuan Raymond. "Biarinlah, cuma nganterin. Gue sudah wanti-wanti si Jessy, kalau sampai dia pacaran dengan cowok yang bisa merusak performa dia di kantor, siap-siap gue cari sekretaris baru."
__ADS_1
"Sadis, lu, Rang!"
"Rang, Rang, Rang! Gue potong gaji, baru tahu!"
"Hehe, sori, Ngga. Keceplosan."
"Keceplosan, kok setiap ketemu?"
"Ya maaf, kan kita Empat R. Rang, dong, harusnya."
"Setidaknya panggil yang lengkap. Rangga. Bisa, kan?"
"Iya... maaf. Maaf, ya, Pak Rangga, yang baik, yang tampan dan tidak sombong?"
Raymond menghentakkan kaleng sodanya ke meja. "Ayey!" ia berseru seraya menatap seorang pelayan yang membawakan pesanan ke meja tamu lain, persis -- lurus di depan matanya. "Cantik, manis." Ia bahkan berdecak, "Wow!"
"Ray, mata lu nggak bisa apa nggak jelalatan?"
"Mana bisa, Ngga."
"Diem lu, Roy!"
"Apa? Memang benar, kan? Seorang Raymond, mana bisa matanya menolak cewek cantik."
Si pelayan berlalu tanpa menyadari lekuk tubuhnya dijelajahi oleh mata elangnya Raymond, si petualang ranjang dan seorang petarung yang hebat.
__ADS_1
"Aloha...." Roby datang dengan cengar-cengir. Kedatangannya secepat kepergiannya tadi. "Lagi bahas apa?"
Roy menyahut, "Si Ray, jatuh cinta pada pramusaji kita," katanya, sementara Roby duduk.
Raymond memutar-mutar bola matanya yang hitam pekat. "Gue cuma bilang dia cantik dan manis. Bukan berarti lebih."
Baru saja dibicarakan, si pelayan muda yang cantik, manis, dan berkulit kuning langsat itu pun muncul ke meja tamu baru untuk menanyakan pesanannya.
Roby menempelkan tangan di sisi mulutnya dan berbisik, "Dia memang manis...."
"Apa kata gue," kata Raymond. "Sayang sekali dia terlalu muda untuk dijajal. Takutnya masih gres. Gue nggak mau merusak anak perawan orang."
Roby tergelak. "Jadi, maksudnya, lu cuma main sama cewek yang sudah rusak? Kepalang rusak, begitu?"
Raymond nyengir. "Yoi, kan enak, tidak perlu bertanggung jawab, sudah rusak dari sananya. Gue kan selalu main aman."
"Main pake pengaman? Hah?"
"Haha! Pasti, Rob. Ogah gue menghamili anak orang."
"Pantas nggak pernah ada cewek yang nyari."
"Main sama yang suka sama suka aja, jangan pakai hati. Yang penting sama-sama puas, kan?"
Hmm... bedebah sialan dua orang ini. Semakin lama mereka berdua semakin berengsek. Dasar buaya darat!
__ADS_1