Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Mengejutkan


__ADS_3

Kuhela napas dalam-dalam, meyakinkan diriku sendiri bahwa aku sama sekali tidak keberatan jika Roby ingin menikahi Jessy, kemudian aku menggeleng yakin. "Tidak. Tidak akan. Gue sama sekali tidak keberatan karena gue tidak punya perasaan apa-apa terhadap Jesyy. Kemarin iya. Bukan. Maksud gue, gue kira gue suka. Mungkin memang benar suka, cuma karena dia cantik, dia ceria dan menyenangkan. Selebihnya... tidak sama sekali. Tidak ada perasaan khusus."


"Karena dia hamil dan sudah tidak perawan?" Roby menyeringai masam.


Kugelengkan kepalaku dengan pelan. Sebenarnya, kalimat Roby itu lagi-lagi seperti menonjokku dengan telak. "Nggaklah, Rob. Gue nggak sepicik itu." Aku mengangguk bagaikan kilatan. Mungkin, kata hati kecilku. Munafik sekali.


Tapi, yeah, hati dan pikiranku sekarang sedang fokus dan tertuju pada gadis impianku, juga gadis yang sekarang terkurung di kamarku. Entah mereka gadis yang sama atau bukan.


"Jadi, lu tidak akan melarang gue kalau gue berniat menikahi Jessy?"


Aku mengangguk. "Tidak akan. Bukan hak gue juga, kan?"


"Lalu kemarin-kemarin itu?"


"Itu kalau lu sekadar mau main-main."


"Oke, thanks. Lu benar-benar sobat gue."

__ADS_1


"Tapi lu yakin? Bukan soal perawan atau nggaknya. Tapi... lu mau menerima dia apa adanya? Anaknya?"


Roby menundukkan kepalanya sejenak, lalu mengangkatnya dan menatapku. Kuambil gelasku dan meneguk perlahan minumanku, sambil balas menatapnya.


"Gue divonis mandul."


Uhuk!


Bukan, bukan sekali, aku terbatuk berkali-kali. "Serius, Rob? Ya Tuhan...."


Roby tersenyum kosong. "Gue baru tahu belakangan ini. Jujur, gue berencana menikah dengan cewek yang dekat dengan gue waktu kemarin-kemarin. Tapi... karena orang tuanya hanya punya satu anak dan menginginkan penerus, mereka minta dilakukan pemeriksaan kesehatan dulu sebelum menikah. Hasilnya... ya begitu."


"Ya iyalah. Gue sadar diri, Bro."


"Oke. Gue ngerti. Dan sekarang, Jessy? Dia...."


"Ketidaksempurnaan bisa saling melengkapi."

__ADS_1


"Oh, Man... gue turut bahagia buat lu."


Tetapi Roby menggeleng. "Jessy belum memberikan jawaban pasti. Dia bersedia katanya, tapi masih harus berpikir matang-matang. Dan dia bilang, kami berdua mesti memikirkan ketidaksempurnaan masing-masing. Dia tidak enak kalau nanti dia terkesan memanfaatkan keadaan gue. Padahal...."


"Lu nggak merasa begitu?"


"Nggak."


"Ehm, kalau ni, ya, semisal, dia keguguran. Kalau. Dan lu...?"


Roby mengedikkan bahu. "Gue ngerti ke mana arah omongan lu. Tapi gue sudah menjelaskan hal itu pada Jessy. Semisal itu terjadi, gue rela kita berpisah. Supaya dia bisa bersama lelaki lain yang bisa memberikan dia keturunan."


Glek!


Aku yang tadi bertanya, aku juga yang merasa tercekat. Jujur aku salut pada sahabatku satu ini. Dia bisa berbesar hati untuk semua hal pahit itu. Sementara aku? Aku bahkan ragu pada gadis impianku yang kutemui dalam keadaan buta, seandainya dia benar gadis yang sama.


"Bagaimana dengan kakak iparnya? Jessy nggak berpikir untuk minta pertanggungjawabannya?"

__ADS_1


Sekali lagi, Roby menyeringai masam. "Kalau lu ada di posisi Jessy, memangnya lu mau menikah dengan bajingan seperti itu? Mending dia memilih gue, kan?"


Hah! Aku pun tersenyum geli. Kalau ingat kelakuannya Roby yang dulu-dulu, dia sama parahnya, sama bajingannya walaupun dia tidak pernah memaksakan diri terhadap perempuan, tapi kelakuannya yang gonta-ganti partner ranjang seperti berganti pakaian baru setiap bulan, itu membuatnya sama sekali tidak layak menjadi suami untuk gadis sebaik Jessy.


__ADS_2