
Well, aku tersenyum. "Akan kuberitahu nanti setelah kita menyelesaikan makan malam ini."
Rhea mengangguk dan mulai mendapatkan ketenangannya, kembali menjadi Rhea yang biasanya, yang cantik dan anggun.
Setelah piringnya kosong, dia pun mengambil gelas anggurnya dan minum. "Jadi? Tolong beritahu aku."
"Oh, no, Baby. Jangan terburu-buru. Bukankah instrumen ini cocok dan romantis untuk berdansa?"
Dia tersenyum, nampak bahagia. Dari dulu ia sangat suka berdansa. "Oke. Apa pun yang kamu inginkan."
Rhea mengulurkan tangannya, kami pun berdansa dalam gerak lambat. Dia menyandarkan kepalanya di dadaku, membuatku berpikir -- andai kamu tak mengkhianatiku.
Dengan lembut, kucengkeram rambutnya dan membimbing wajahnya -- menatapku. Dia memejamkan mata, di saat itulah aku menciumnya -- menikmati bibir merah itu dengan penuh perasaan. Sanubariku berkata: aku masih cinta. "I... love... you...."
Dia tersenyum. Sangat cantik. "I love you more."
"Untuk siapa?"
Tertegun. Pupil matanya melebar. "Maksudnya?"
"Pernyataan cintamu, untuk siapa?"
"Untuk kamulah, suamiku, Rangga Sanjaya."
"O ya?"
"Apa-apaan, sih? Jangan bodoh!"
Dia melepaskan diri dariku, menjauh beberapa langkah. Perasaan jengkel mulai merasuk dan menguasai dirinya. Atau takut dan mulai waspada?
Aku kembali duduk, menyilangkan kaki dengan santai. "Yeah, aku bodoh. Bodoh tidak menyadari kalau cintamu itu masih untuk Biktor."
"Eh?"
__ADS_1
"Kenapa? Aku sudah tahu semuanya."
"Jangan salah paham, Sayang. Aku sudah tidak mencintainya. Hanya kamu yang sekarang ada dalam hidupku. I am sure. Please, jangan ungkit-ungkit masa laluku. Saat ini aku hanya mencintaimu. Kamu percaya, kan?"
Penipu yang handal.
"Bagaimana dengan percintaan kalian di kamar hotel di Bali malam itu? Kamu mau bilang aku salah lihat? Hmm?"
Rhea nampak terkejut. Dia bingung mau menjawab apa. "Soal itu... aku... aku....?"
"Tidak bisa menjawab? Heh?"
Hening sesaat. Tapi dia pintar, cepat-cepat dia berlutut di kakiku dan langsung menangis. Sementara aku tak beranjak sedikit pun, tetap dengan kakiku yang menyilang santai.
"Aku khilaf. Malam itu aku mabuk," alibinya. "Sumpah. Malam itu aku mabuk."
Pembohong! Jelas-jelas dia dalam keadaan sadar sepenuhnya.
Rhea mendongak. "Maksudnya? Sudah selesai...? Aku tidak mengerti apa maksudmu."
Aku mengeluarkan dokumen-dokumen dari pengadilan dan melemparkannya ke lantai. "Kita sudah resmi bercerai. Secara hukum, kamu bukan lagi istriku."
"Tidak. Ini tidak sah," katanya sambil membaca -- tepatnya memperhatikan dokumen-dokumen itu. "Ini perceraian sepihak. Aku bahkan tidak tahu apa-apa."
Aku menyeringai. "Terserah. Yang jelas bagiku, kamu tidak lebih dari wanita murahan. Kamu bukan lagi istriku."
"Oke, baik. Aku terima. Aku akan pergi dari sini."
Aku tertawa jahat, bila kau bisa mendengarnya. Tapi sungguh, di dalam hati -- ada rasa nelangsa yang menyesakkan.
Rhea berjalan ke pintu depan. Suara hentakan kakinya beradu dengan lantai. Aku membiarkannya, masih duduk dengan santai, bersandar plus dengan kaki menyilang. Lalu...
"Buka pintunya!" Rhea berteriak, dia marah dan jengkel sebab pintu depan terkunci, bahkan tidak ada satu pelayan pun yang ia temui. "Kamu tidak berhak lagi mengurungku di sini!"
__ADS_1
Kuambil ponselku dan melakukan panggilan. "Ke sini," titahku.
Tidak butuh waktu lama, Billy keluar dari tempatnya menunggu. Hanya dengan sekali anggukan, dia melaksanakan tugasnya -- memanggul Rhea di pundak dan membawanya ke ruang bawah tanah.
"Lepaskan aku!" Rhea berteriak sambil meronta-ronta. "Rangga! Kalian tidak berhak melakukan ini padaku!"
Begitu sampai, seorang penjaga di pintu ruang bawah tanah langsung membukakan pintu. Kami masuk, Billy langsung menjatuhkan Rhea ke atas tumpukan jerami dan merantai kakinya. Melihat kedatangan Rhea, Biktor yang sudah tersiksa karena pengaruh obat di dalam air minumnya -- langsung menyergap tubuh cantik itu dan menindihnya.
"Biktor?"
Rhea terkejut, sementara Biktor seperti melihat satu-satunya obat mujarab yang ampuh untuk mengobati penderitaannya dan harus segera ia teguk. "Bantu aku, Rhe." Dia merobek gaun Rhea -- melepaskannya dengan paksa.
"Kamu keluar, Bill."
"Baik, Tuan."
"Tutup pintunya."
Di saat yang bersamaan, Rhea terus berusaha meronta. Tapi tetap saja, dia tidak punya kemampuan melawan kekuatan lelaki, terlebih lelaki yang sedang *irahi. Biktor berhasil masuk dan menghunjamnya dengan ganas.
"Berengsek! Auw! Lepaskan! Kalian melecehkan aku! Uh! Auw! Aku- Oh! Oh! Stop! Biktor! Stop! Berengsek! Aku bukan binataaaaang...!"
Tawaku menggelegar. Lucu sekali kata-katanya. Kudekati ia yang tersiksa di bawah kungkungan kekasih gelapnya. "Kamu sendiri yang melecehkan dirimu. Dasar, pelacu* murahan!"
Bak binatang yang sedang *irahi, Biktor sedikit pun tak peduli pada situasi di sekitarnya. Dia terus memacu dan menghentak Rhea bertubi-tubi. Demi menyeimbangi Biktor, aku mengambil botol minum ekstra itu dan menuangkanya ke mulut Rhea. Kutekan pipinya kuat-kuat hingga mulutnya terbuka. Mau tak mau, Rhea meneguk air yang sudah kepalang masuk.
"Nikmatilah," kataku. "Semoga kalian bahagia."
Aku melangkah ke pintu di saat Rhea mulai menggelia* dan kepanasan.
"Tunggu! Jangan kurung aku! Rangga...! Tolooooong... panaaaaas...! Ranggaaaaa...!" Dia menangis, sesenggukan. "Berengsek! Lelaki bajingan! Bedebah sialan! Setan kamu, Rangga! Setan!"
Oh, kasihan....
__ADS_1