Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Bucin


__ADS_3

Suci tertawa. "Jangan nakal, Mas. Aku baru keluar dari puskes."


"Kalau sudah lama?"


"Ih, kamu!"


"Memangnya kamu tidak kangen?"


Uh! Dia masih sama.


Suci gemetar menerima kecupanku di lehernya yang terbuka. Rambut cokelatnya tengah tergelung tinggi di puncak kepala. Sangat memikat.


Tapi tidak terjadi apa-apa. Tidak akan ada lagi kesalahan yang sama.


"Mas...," katanya sembari mendorongku lembut, "aku takut kita sama-sama tidak tahan, dan... nanti...." Dia menggeleng. "Jangan, ya. Aku mohon? Aku tidak mau lagi melakukan itu sebelum menikah."


Kuanggukkan kepalaku dengan pelan lalu mencium keningnya. "Aku janji aku akan menahan diri. Demi kamu."


"Trims, Mas Sayang."


"Yap. Ayo mandi."


"Mas... biar aku mandi sendiri...."


Oh, man... rengekan yang manis. Menggemaskan. "Aku hanya menungguimu di luar pintu, Sayang. Aku tidak akan masuk kecuali kamu yang meminta."


"Hah! Jangan harap, ya! Aku memang mau meminta sesuatu, tapi bukan itu," celotehnya sembari melangkah keluar, ke kamar mandi di belakang pondoknya.

__ADS_1


Aku mengikutinya, seperti janjiku, aku tidak akan lalai lagi dalam menjaganya walau sedetik. "Memanynya kamu mau minta apa? Tinggal bilang. Apa pun untukmu akan Mas berikan."


Tiba-tiba ia kembali tertawa. "Tahu tidak, tampangmu itu tidak pantas dipanggil mas," ledeknya.


"Aku tahu. Tapi aku suka mendengar panggilan itu darimu. Panggilan sayang yang terdengar manis."


Ah, lebay....


"Masa?"


"Em, cuma kamu yang memanggilku mas."


"Tapi setelah melihat wajahmu, rasanya...."


"Whatever. Aku suka, kok. Jadi, kamu mau minta apa? Ditemani mandi?"


Ah, gadis ini. Caranya mengatakan itu serasa menggelitik naluriku. Tahan, Rangga. Sudah lama bukan berarti kau tidak mampu menahan diri.


"Buka kaus, dong, Mas. Kalau tidak salah lihat, waktu itu aku melihat ada namaku di dadamu."


Well, aku langsung memenuhi permintaannya, membuka kausku dan menunjukkan tato baruku padanya. "Mana ada namamu. Namamu kan Mayang."


"Kamu, Mas. Masih saja membahas soal itu...."


Haha! Dia merengek lagi. Entah kenapa, aku sangat suka melihat sikapnya yang manja padaku. Gadis beliaku yang lucu. Dan...


Yap, aku tersenyum di bibir, padahal dalam hati bersyukur, untung saja aku sudah menghapus nama Rhea di dadaku. Kalau tidak, beh! Bisa ngamuk macan cantik di depanku ini. Dia bisa merajuk tujuh hari tujuh malam, bahkan lebih.

__ADS_1


"Kamu kenapa senyum-senyum?" tanyanya.


"Kamu sendiri kenapa senyum-senyum?"


"Karena melihatmu. Aku senang bisa melihatmu lagi."


"O ya? Sudah dua minggu, kok baru bilang sekarang?"


"Kan kita baru benar-benar baikannya itu sekarang. Kemarin kan...."


Byur... sah....


Ember pertama meluncur ke dalam bak.


"Seksi," gumamnya sambil nyengir. Mata cokelat itu menjelajahi tubuh sixpack-ku dengan teliti.


Aku balas nyengir. "Mau pegang? Hmm?"


"Nggak!" Pipinya merah menahan malu. "Sudah sana, jangan nyengar-nyengir. Isi baknya sampai penuh, ya!"


Sampai penuh?


Hmm... kalau di Jakarta aku tinggal memutar keran, bahkan bisa mandi dengan air hangat. Sementara di sini, aku disuruh menimba air berember-ember dari sumur tua sampai baknya penuh. Masih dengan cara tradisional pula, embernya digerek dengan tali yang dipasang di atas sumur.


Huh!


Demi cinta Suci, anak Mama jadi bucin.

__ADS_1


__ADS_2