
"Sayang," panggilku lembut seraya merema* lembut jemarinya. Aku tengah berlutut di hadapan Suci yang duduk di tepian ranjang, dan memandanginya dengan penuh harap. "Sebenarnya aku sangat ingin menjadi orang yang pertama kali kamu lihat setelah operasi."
Seandainya keadaan memungkinkan, tapi aku tahu itu tidak mungkin. Suci tidak bisa meski sebenarnya dia juga ingin.
"Aku akan segera menghubungimu begitu mataku sudah bisa melihat. Dan... ini," Suci melepaskan cincin yang semalam kusematkan ke jarinya sewaktu ia tidur, "tolong disimpan. Kamu bisa menyematkannya lagi di jariku begitu kita bertemu. Aku akan langsung mengenalimu dari suaramu dan cincin ini."
Aku mengerti. Lagipula cincin itu tidak mungkin ia titipkan pada keluarganya saat dia menjalani operasinya nanti. "Segera kabari aku."
Dia mengangguk, tapi masih belum berdiri juga dari duduknya. "Boleh aku tanya sesuatu, Mas?"
"Apa?"
"Pertanyaanku yang waktu itu."
"Emm?"
"Kenapa kamu memanggilku sayang sejak awal?"
Aku menatap fokus pada gadis itu beberapa saat. "Kamu tidak akan percaya," kataku pelan.
"Aku ingin tahu. Atau jangan-jangan kamu sudah mengenaliku dari awal, mungkin seperti Mas Roby dan Mas Roy? Mereka teman-temanmu juga, kan?"
__ADS_1
Aku mengembuskan napas dan memikirkan hendak menjawab apa. "Em, sebentar, kujawab satu persatu. Tentang Roby dan Roy, iya, mereka juga temanku. Dan jujur, aku juga pernah mendengar cerita tentangmu dari Raymond, tapi sebatas itu. Aku tidak tahu namamu, juga tidak tahu siapa dan yang mana tunangannya Raymond. Aku serius, dan aku jujur. Kamu percaya itu?"
Ia mengangguk. "Yeah, aku percaya. Lalu mengenai panggilan sayang itu?"
"Emm... aku pernah melihat wajahmu beberapa kali," kataku, lalu tertawa kecil. "Aku malu mengatakannya."
Alis gadis di depanku langsung bertaut. "Kenapa?"
"Kamu tidak akan percaya. Aku beberapa kali bertemu denganmu... di dalam mimpi."
Ck! Sudah kuduga. Suci tidak percaya, dan ia justru tertawa. "Bohong! Mana mungkin!" katanya.
"Ya, ya, terserah kalau kamu tidak percaya. Nyatanya begitu. Dan di dalam mimpiku, kamu yang memintaku memanggilmu sayang."
Kupikir iya juga. Seperti di dalam dongeng. "Sudahlah. Sebaiknya sekarang kuantar kamu kembali ke kamarmu. Hari sebentar lagi akan terang. Orang-orang akan mencarimu kalau tahu kamu tidak ada di kamar."
"Sebentar, aku mau tanya satu hal lagi." Dia mengedikkan bahu. "Soal... yang kamu katakan semalam. Aku dulunya model. Aku mana tahu pekerjaan seorang sekretaris."
Kurasa kecupan singkat di hidungnya mewakili jawabanku. "Kamu hanya perlu duduk manis di depan meja kerjaku, dengan begitu aku akan semangat bekerja."
"Uuuh... mudah sekali. Tapi kurasa kamu tidak akan pernah fokus bekerja."
__ADS_1
Aku terbahak-bahak. "Tidak apa-apa," kataku. "Aku masih akan tetap bekerja meski terlalu banyak jeda."
"Nakal...," serunya. Lalu ia berdiri dan mengembuskan napas dengan berat. "Aku tak pernah suka dengan perasaan seperti ini. Sedih setiap kali berpisah denganmu."
Aku menyeringai. "Aku juga."
"Peluk aku dulu," pintanya.
Sesuai keinginannya, aku langsung memeluknya, mendekapnya dengan gemas. "Tanpa diminta pun aku akan memelukmu." Bahkan aku menangkup wajahnya dan mencium bibirnya.
"Hmm... setelah ini jangan minum alkohol lagi, ya. Tidak baik untuk kesehatanmu."
Aku tersenyum, meski hanya perhatian kecil, tapi aku suka. Dia akan menjadi sosok istri yang mencintaiku dengan hangat. Aku yakin itu.
"Hei, kamu tidak ingin berjanji?"
"Bukan, aku hanya sedikit terkejut. Aku senang kamu perhatian padaku."
"Oh," katanya dengan bibir mungil yang membulat. "Mudah sekali membuatmu senang."
Aku membuka pintu, mengamati keadaan di luar, dan semuanya aman. Billy bahkan belum mengembalikan Indie ke sana. Gadis itu pasti masih berada di bawah selimut bersamanya. Yeah, dengan berat, kuantarkan Suci ke kamarnya. Waktu memisahkan ia dariku.
__ADS_1
"Aku akan segera mengabarimu begitu aku sudah bisa melihat."