Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Bukan Karma


__ADS_3

Aku membopong Suci ke kamar. Dia kelelahan. Nyaris tak dapat bergerak, dan nyaris tak dapat menjaga matanya agar tidak terpejam.


Kubaringkan perlahan ia ke tempat tidur, menyelubungi tubuhnya dengan selimut, dan merebahkannya ke dadaku setelah aku berbaring di sisinya. Dia meringkuk lebih dalam di pelukanku.


"Kelopak mataku terasa berat," katanya. "Tapi aku tidak mau tidur," ia merengek seperti anak kucing yang manis. Lucu dan menggemaskan.


Aku tersenyum simpul, lalu mencium keningnya. "Tidur, Sayang. Kesehatanmu itu lebih penting."


Andai bisa, aku juga tidak ingin menyia-nyiakan sedetik pun waktu kebersamaan kami yang berharga. Tapi kehidupan bukanlah sebuah dongeng, manusia butuh tidur. Kami pun terlelap hingga sinar matahari menerobos melalui jendela keesokan paginya. Aku duduk bersandar dan hanya memandangi Suci yang melamun, dia masih berbaring di sampingku.


Di pagi hari saat baru terbangun pun, ia tetap terlihat cantik. Kusibakkan sebagian rambut dari wajahnya, lalu berbisik, "Selamat pagi, Sayang."


Dia meregangkan tubuh dengan lesu dan berbaring menyamping, menghadapku. "Pagi," katanya.


Aku meraih tangannya dan mendekatkannya ke bibir, lalu mengecup telapak tangannya. "Masih capek?"


"Em, sangat. Kekuatan lelaki tiga puluhan yang tak perlu diragukan."


Aku tertawa geli. "Jadi, apa aku sudah tua? Hmm?"


Dia menelusurkan jari ke dada telanjangku dan tersenyum. Senyuman yang sangat indah. "Well, berdasarkan umur tidak, apalagi berdasarkan kemampuan. Tapi tidak tahu berdasarkan wajah dan rambutmu."


"Kenapa?"


Dia mengulurkan tangan untuk meraba dan menangkup wajahku. "Kuharap wajah ini tidak berkerut seperti kakek-kakek," guyonnya, lalu ia cekikikan. "Dan semoga rambut ini tidak beruban, ya...."

__ADS_1


"Ya, ya, semoga kamu tidak kecewa begitu kamu bisa melihatku."


Seketika hening. Suci melepaskan tangannya dari wajahku. "Aku ingin melihatmu, Mas."


Aku berdeham dengan suara yang tiba-tiba parau. "Aku juga ingin. Tapi hari ini kamu pulang dulu, nanti kita rencanakan pengobatan untuk matamu, ya."


"Aku sudah periksakan mataku ke dokter."


"Lalu, apa kata dokter?"


"Satu-satunya jalan... dengan donor mata."


"Bagus--"


"Tapi tidak tahu kapan. Ya kalau ada yang bersedia mendonorkan mata untukku. Kalau tidak?"


"Aamiin."


Aku melirik ke jam dinding, jam setengah delapan. "Bangun, yuk. Sudah jam setengah delapan."


"Sebentar."


"Kenapa? Masih ada yang mau dibahas?"


"Aku minta maaf soal kekacauan semalam."

__ADS_1


"Sayang...."


"Aku tidak mau kamu berpikir kalau aku sengaja, atau kamu berpikir ada orang yang menyuruhku. Aku ada di sini karena kamu yang membawaku. Aku bukan penyusup. Aku--"


Hening. Bibirnya terbungkam dalam panasnya ciumanku.


Sial! Hanya dengan menciumnya gairahku bangkit. Aku lekas melepaskan diri, beringsut sedikit, dan memperingatkan diriku sendiri untuk tidak menyentuhnya.


Tidak ada kata terlanjur, Rangga. Hanya di saat-saat terdesak. Dan ini sama sekali bukan. "Jangan bicara seperti itu lagi, ya. Sekalipun kamu penyusup, tidak jadi masalah. Kamu sudah terlanjur menyusup ke dalam hatiku."


"Dasar gombal!"


Aku berdiri, masuk ke ruang ganti dan berpakaian. Aku mesti memeriksa keadaan di luar. Tapi...


"Kamu punya musuh?" tanya Suci.


Apa yang harus kukatakan? Aku tidak mau apa yang terjadi semalam membuatnya takut untuk berada di sisiku.


"Aku tidak tahu, mungkin pesaing bisnis." Celanaku sudah terpasang, dan aku kembali menghampirinya, dia masih duduk di atas tempat tidur terbungkus selimut. "Kamu jangan takut, ya. Aku akan selalu melindungimu."


Dia tersenyum manis. "Oke. Maaf, ya, tidak seharusnya kita membahas soal ini."


"Yah. Memang. Tidak usah dibahas. Sekarang, aku panggilkan Bibi Merry untuk membantumu mandi dan bersiap-siap. Setelah sarapan, aku sendiri yang akan mengantarmu pulang."


Dia mengangguk dengan berat. Aku tahu, dia tidak senang memikirkan kepulangannya.

__ADS_1


Apa pun itu, dia harus pulang dulu. Ada banyak urusan yang harus keselesaikan. Aku harus menyelidiki siapa musuh yang berani mengusikku -- sehingga Suci pun menjadi korban. Ini bukan karma, melainkan kebodohan. Kebodohanku sendiri.


__ADS_2