Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Kebohonganku


__ADS_3

Mendadak akrab. Kami sama-sama tertawa. "Tidak perlu, Tuan. Saya bisa, kok. Cukup tadi malam saja. Saya berat, kan?"


"Tidak, kok."


"O ya?"


"Ya, sungguh."


Dan aku langsung menggendongnya.


Gadis cantik itu kembali tersipu malu dengan pipi merona merah. Meski sudah berusaha menahan bibirnya untuk tidak tersenyum, tapi mustahil ia bisa menahan senyum manis itu mengembang sempurna di wajahnya.


"Anda sebenarnya tidak perlu melakukan hal ini," ujarnya. "Saya merasa tidak enak. Tapi... terima kasih."


Aku hanya tersenyum dan berkata, "Sama-sama," sepelan mungkin layaknya bisikan, yang membuat dirinya semakin tersipu. Dan dalam beberapa menit, kami pun sudah berada di dapur dan aku menurunkan Suci dari gendonganku. Dengan wajahnya yang masih merona, dia mengucapkan terima kasih sekali lagi sambil tersenyum-senyum.


"Saya cek isi kulkas dulu, ya."


"Biar saya saja, Tuan," kata Anne. "Tuan butuh apa?"

__ADS_1


"Tolong potongkan buah, ya, Ann. Kalau ada ambilkan semangka."


Kutarik kursi di ruang makan dan mempersilakan Suci duduk. Aku pun ikut duduk di sampingnya.


"Tuan, soal... pil pencegah kehamilan... sebelumnya saya sudah membahasnya dengan Bibi Merry. Katanya di rumah ini ada, milik...? Maaf, boleh saya memintanya?"


Kuhela napas dengan berat. "Kamu tunggu di sini, biar saya minta Bibi Merry mengambilkannya. Jangan ke mana-mana."


Dia mengangguk, dan aku lekas pergi menemui Bibi Merry.


"Bibi tolong ambilkan vitamin dan suplemen kesehatan di kotak obat. Katakan pada Suci kalau itu pil untuk mencegah kehamilan."


Yeah, aku ingin berbohong.


Aku mengangguk.


"Ya Tuhan, Nak. Jangan begini," kata Bibi Merry dengan cemasnya. "Pikirkan baik-baik. Bibi tidak mau kamu salah melangkah dan malah semakin menghancurkan hidup gadis itu."


Aku menggeleng, resah. Bukan itu maksud tujuanku. "Saya tidak bermaksud merusak kehidupan Suci, Bi. Sama sekali tidak."

__ADS_1


"Lalu?"


"Saya hanya mau punya anak."


"Tapi bukan begini caranya, Nak...."


"Tolong, Bi. Bibi mengerti saya."


"Itu kamu yang mau. Bagaimana dengan Suci sendiri? Apa dia mau hamil? Dia mau hamil anakmu? Tidak, kan? Kamu jangan memaksakan kehendakmu sendiri, Nak. Kamu jangan egois."


" Saya tahu. Tapi kalau dia sampai hamil, dia pasti tidak akan menolak anak itu. Dia pasti mau menerimanya. Saya yakin. Dan, ya, kalau dia hamil, saya akan menganggap itu sebagai anugerah. Saya akan menerima anak itu dengan senang hati. Saya mau punya anak. Hanya itu."


Bibi Merry menatap iba padaku. Tapi aku yakin sepenuhnya kalau dia mengerti keinginanku. Walau bagaimanapun juga, dia tahu bagaimana rasanya tidak memiliki seorang anak. Meski ia memiliki Anne, anak hasil perselingkuhan mendiang suaminya. Dia wanita luar biasa penuh kasih, yang ikhlas membesarkan buah cinta suaminya dengan perempuan lain.


"Tapi dengan satu syarat, kalau dia sampai hamil, kamu harus menikahinya. Bagaimana? Kamu sanggup berjanji, Nak? Ingat pesan Mama Sania, jangan pernah mempermainkan perasaan seorang perempuan."


Aku tidak tahu bagaimana ke depannya, dan tidak terlalu memikirkan bagaimana ke depannya. Tapi saat itu aku mengangguk -- menyanggupi syarat itu. "Saya janji," kataku. "Saya akan menikahi Suci kalau dia sampai hamil. Bibi bisa pegang kata-kata saya. Dan saya tidak akan pernah ingkar janji."


Lagipula selama ini aku selalu menjaga komitmenku. Aku yakin kali ini aku juga akan memegang teguh komitmenku. Aku sudah berjanji, dan pasti menepati. Janjiku, janji pria sejati.

__ADS_1


"Saya akan menikahinya."


Bibi Merry tersenyum. "Bibi tahu, dan Bibi percaya padamu," katanya seraya menangkup pipiku dengan sebelah tangan. "Rangga kecil Bibi adalah sosok pria yang selalu bertanggung jawab. Bibi percaya padamu."


__ADS_2