Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Mata-Mata


__ADS_3

Aku dan Billy mengikuti Suci dan keluarganya dari belakang, menuruni tangga berjalan melewati areal pengambilan bagasi. Seperti biasa, ia tampak cantik, baik dari depan maupun dari belakang. Sekarang ini aku benar-benar memperhatikan sosoknya, dia luar biasa. Bahkan aku sangat yakin, jika ia tidak buta dan tidak berjalan menggunakan berjalan tanpa tongkat, dia pasti memiliki gaya berjalan yang menarik -- dan senyum yang hebat, manis dan memikat. Tentu saja, dari caranya refleks menyebutku sebagai seorang photographer malam itu, aku bisa menebak kalau -- sebelum buta, ia sebenarnya berprofesi sebagai seorang model.


Oh, aku tidak pernah menanyakan pekerjaan dan kesibukannya dulu. Hanya lantaran ia saat ini buta, kupikir dia hanya berdiam diri di rumah. Astaga....


Oke, kembali ke cerita perjalan hari ini. Begitu Suci dan keluarganya naik ke taksi, aku dan Billy pun segera naik ke taksi lain dan meminta si sopir dengan wajah kaya pengalaman dan mirip peta jalan, penuh kerut dan keriput -- untuk mengikuti taksi di depan kami.


Taksi melesat dan aku langsung membuka ponselku. Untuk apa? Tidak untuk apa-apa. Hanya ingin memandangi wajah cantik yang menghiasi layar ponselku.


Tidak penting? Memang. Tapi kau tetap membaca tulisanku, bukan?


Haha!


Sebentar, kesialan terjadi.


Lampu merah. Taksi yang kami tumpangi sudah menerobos lampu merah sebelumnya, tapi yang satu ini tidak bisa. Taksi di depan berhasil melewatinya, dan kami tidak.

__ADS_1


Argh!


Taksi yang membawa gadisku sudah menjadi sebintik kecil di kejauhan, aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memaki, menunggu sambil menggerutu. Bayangan bahwa aku sudah terbang jauh-jauh kemari hanya untuk kehilangan jejaknya membuat perutku bergolak.


"Tenang, Tuan. Bukankah kita sudah tahu di hotel mana mereka akan tinggal?"


Hmm... itu benar, tapi tidak sepenuhnya. "Memangnya kamu mau mengawasi setiap kamar untuk tahu di kamar mana Suci ditempatkan? Iya kalau pihak hotel bersedia memberikan informasi tentang tamunya. Kalau tidak?"


"Maaf, Tuan kan bisa bertanya pada Nona Suci di kamar berapa dia...."


Billy memejamkan matanya sementara aku melotot. Dia tersadar kalau yang ia bicarakan itu seorang gadis buta yang mana tahu dia akan memasuki kamar mana dan nomor berapa. Dia juga tidak mungkin bertanya supaya tidak mengundang kecurigaan orang-orang di sekitarnya.


Lampu hijau!


Si sopir menekan pedal gas dan klakson bersamaan, roda-roda taksi mendecit-decit. Aku bisa menebak, speedometer taksi pasti mencapai sembilan puluh, seratus, seratus dua puluh kilometer per jam.

__ADS_1


Itu dia! Aku melihat mereka dari kejauahan -- tengah turun dari taksi. Aku *endesah lega karena kami tidak kehilangan jejak Suci sepenuhnya. Hanya sempat -- yang sekarang tidak jadi masalah. Well, misi berlanjut.


"Mamanya Suci sudah terlanjur mengenal saya. Jadi ini tugasmu, Bill. Ikuti mereka tanpa terlihat kalau kamu sedang mengikuti dan mengawasi Suci."


Billy mengangguk. "Tenang saja, Tuan. Kalau mereka curiga, saya akan menggunakan kesempatan itu untuk menarik perhatian adiknya Nona Suci."


Suara tawa kecil mau tak mau lolos dari bibirku. "Yeah, tunjukkan pesonamu, Mr. Billy."


Kalau bicara soal pesona dan karisma seorang Billy, cewek mana yang bisa menolak? Tampan dan rupawan. Tentu saja, jika cewek itu tidak mengincar seorang bos besar. Billy tipe bawahan yang memiliki kesetiaan tinggi. Ia tidak menginginkan untuk berdikari dan menjadi seorang bos. Dia setia -- sepenuhnya -- sebagai asisten dan kaki tanganku.


Atau hanya tidak mengutarakannya saja? Bisa jadi.


Sementara aku menunggu di lobi hotel, pesan whatsapp dari Billy masuk beberapa belas menit kemudian.


》Semua sudah beres, Tuan. Mereka menginap di kamar 127. Saya juga sudah berkenalan dengan Nona Indie.

__ADS_1


Indie...?


》 Kami juga sudah membuat janji temu di luar, jam 8 malam nanti.


__ADS_2