Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Sedikit Lega


__ADS_3

Senyum Suci mengatakan semuanya. Dia mengangguk, lalu mengambil keranjang plastik dengan jaring-jaring bulat dan menyerahkan benda itu kepadaku. "Atau harus aku?" tanyanya.


"No... janganlah. Masa aku menyuruhmu. Aku lelaki bertanggung jawab," kataku. "Biar aku yang mencarikan ikan untuk istriku." Suci pun langsung nyengir.


Well, mari menangkap ikan di rawa-rawa. Lebih banyak orang, pasti akan lebih banyak ikan yang didapat, ya kan? Benar?


"Yaaa... Bos, rawanya pasti dalam. Bagaimana kalau ada ular?" gerutu Simon bermaksud menolak. Berbeda dengan Jody yang langsung menyebur ke dalam rawa tanpa protes. Leo dan Diego bahkan sudah merentangkan kain untuk menjaring ikan.


Aku mendelik. "Lu punya ular, kenapa takut pada ular, sih? Ular lu bahkan lebih bahaya."


Haha! Semua orang ikut menertawainya.


"Yang semangat, ya...," seru Suci dari jendela dapurnya, lengkap dengan senyum semringah yang terukir indah.


Aku balas tersenyum, lalu mendongak ke langit. Hai, Ma. Mama melihat perjuangan Rangga, kan, Ma? Nyebur ke rawa, Ma. Siapa yang berani menyuruh Rangga begini selain dia?


Fiuuuh!


Waktunya nyebur. Dan kau tahu, betapa senangnya aku ketika aku mendapatkan ikan pertamaku?


"Untukmu, Sayang...," teriakku pada Suci sambil mengacungkan ikan itu tinggi-tinggi dengan sebelah tangan. Rasa bangga membuncah di dalam dada.

__ADS_1


Yeah, Suci tersenyum manis, dan balas berteriak, "Namaku Mayang...!"


Jleb!


Oh, Sayang. Kamu membuat harga diriku jatuh di depan preman-preman ini. Mereka semua menertawaiku. Tapi tak apalah. Asalkan bisa melihat dirinya tertawa bahagia, aku sudah sangat senang, plus bahagia.


Yeah. Siang harinya, Suci memasak ikan gabus itu dengan cara dibakar, lalu ia membuat sambal ekstra pedas dan membiarkan aku menemaninya.


"Rindu?" tanyaku.


Dia melirik sesaat. Walaupun tipis, aku melihat dia tersenyum. "Lebih dari yang kamu tahu," katanya.


"Karena kamu bukan siapa-siapa. Kita kan...."


"Hanya break," kataku. "Hanya break. Bukan putus dan sama sekali tidak pernah putus."


"Yeah, apa pun menurutmu."


Obrolan yang berat tapi dibicarakan dengan gaya yang santai. Suci masih tetap fokus dengan ulekan sambalnya, tapi aku tidak bisa menahan diri. Setidaknya, aku ingin memeluknya, bukan dalam keadaan ia menangis. Dan aku melakukannya.


"Aku bisa mengulekmu juga kalau kamu tidak melepaskan pelukanmu," ancamnya lembut.

__ADS_1


Aku hanya tertawa kecil, biarlah kalau risikonya harus diulek, aku ingin tetap memeluknya. "Lanjutkan saja pekerjaanmu," kataku. "Tidak usah pedulikan aku. Aku hanya ingin memelukmu. Aku mohon, beri aku waktu. Please...?"


"Hmm, tapi jangan nakal. Aku tidak akan segan mengusirmu dari sini kalau kamu melewati batas."


Pura-pura tuli. "Ngulek aja, nanti kucium kalau mulutmu tidak mau diam."


Dia terkikik. "Begitu, ya?"


"Em, ya. Omong-omong, boleh, ya, aku melunasi hutang keluargamu? Aku akan meminta asistenku untuk menjemput mamamu dan mencari adikmu. Aku janji, pasti mereka bisa menempati rumah itu lagi. Boleh, kan?"


Suci menghentikan gerakan tangannya, lalu ia memutar dan menghadapku. "Terima kasih banyak," katanya, lalu ia mengecup pipiku. "Kamu memang orang baik. Tapi kita masih break, ya. Kamu tetap tidur di luar. No debat."


Hmm....


Tetapi baiklah. Aku tidak akan protes. Kulepaskan pelukanku dan aku mengeluarkan ponsel. Menulis pesan dan mengirimkannya kepada Billy.


《 Bill, kamu segera hubungi Bryan Dwi Anggara. Lunasi semua hutang keluarga Nugraha. Minta kembali sertifikat rumah Nugraha dan berikan pada Ny. Nugraha. Tolong cari Indie juga, bawa dia pada mamanya. Saya tidak mau tahu, bagaimanapun caranya, keluarga Nugraha harus segera kembali ke Jakarta dan menempati rumah itu.


《 Dan, ya, katakan pada Bryan, jangan beritahu Raymond kalau saya yang melunasi hutang keluarga Nugraha. Saya tidak ingin Raymond mengetahui semua ini.


Whatsapp terkirim.

__ADS_1


__ADS_2