
"Jangan gengsi, Tuan," sela Suci. "Kalau mau, bilang saja mau."
Aku menahan bibirku dari senyuman bahagia yang ingin mengembang. "Iya, Bi. Demi menghargai tamu, kan? Tidak apa-apa, saya bersedia ikut makan di sini."
Jiaaah... alasan yang bagus, bukan?
Tapi, yeah, walau aku tidak melihat, aku tahu semua orang menahan diri supaya tawa mereka tidak kelepasan.
Hmm... dasar....
"Kalau nanti makanannya sudah siap, tolong panggil saya. Saya tunggu di halaman belakang."
Fiuuuh....
Jurus menghindar jadi andalan. Tetapi...
Suci menyusulku. "Tuan," panggilnya. "Apa Anda ada di sini?"
"Saya di sini. Lurus, sepuluh langkah."
Sesuai instruksiku, dia melangkah sambil menghitung pelan, dan...
Suci menabrakku sehingga dirinya kehilangan keseimbangan, bak adegan di dalam film, dengan sigap aku meraihnya dan akhirnya ia jatuh tepat di dalam pelukan.
__ADS_1
"Tuan sengaja, ya?" tanyanya mempertanyakan keisenganku seraya menahan senyum malu, masih hangat dalam pelukanku dengan kedua tanganku yang melingkar sempurna di pinggangnya. "Hanya tujuh langkah, bukan sepuluh."
Aku pun hanya tersenyum, melepaskan dirinya dari dekapan tanganku dan akhirnya ia berdiri tepat di hadapanku. "Kamu cantik," bisikku di telinganya.
Lagi, Suci tersenyum, tersipu malu. "Saya tahu, Tuan. Saya masih ingat dengan wajah saya. Saya tahu saya cantik. Kalau saya jelek, Tuan pasti tidak akan mau dekat-dekat dengan saya, ya kan? Apalagi...."
Aku tertegun. "Maaf, saya tidak bermaksud...."
Dia tertawa. "Saya hanya bercanda. Tuan terlalu sensitif."
Euw...!
Kuhela napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan tajam. "Kamu yang suka sekali membuat saya merasa diskak."
"O ya?"
"Ngambek, ya? Jangan ngambek, dong...."
Aku diam. Bukan ngambek. Aku hanya tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Gadis itu sangat ceria dan mulutnya seakan tidak bisa berhenti bicara. Hingga terkadang aku kewalahan sendiri untuk bersahut-sahutan dengannya.
Tapi, tak kusangka, dia malah mengira kalau aku ini ngambek. Dan tanpa terduga, tahu-tahu dia merabai wajahku. Dalam beberapa saat, keningnya mengerut, kemudian ia malah tertawa.
"Kenapa?" tanyaku. "Ada yang lucu?"
__ADS_1
Dia menggeleng. "Maaf," katanya. "Maaf, Tuan."
"Kenapa kamu tertawa? Apa kamu pikir wajah saya ini jelek?"
Baper? Eh?
"Bukan, Tuan. Bukan begitu maksud saya. Saya hanya sedang membayangkan wajah Tuan. Kok rasanya seperti seseorang yang pernah saya temui. Ya ampun, amit-amit, Tuan. Jangan sampai kalian berdua itu orang yang sama. Amit-amit."
Apa maksudnya? "Memangnya kenapa?"
"Sudah, tidak perlu dibahas."
"Kamu selalu saja membuat saya penasaran."
"Tidak perlu penasaran, Tuan. Pokoknya amit-amit. Orang itu lelaki yang paling sombong yang pernah saya lihat. Bahkan dia tidak mau menerima permintaan maaf dari saya. Sombong sekali, kan?"
Aku mengangguk. "Yah. Sombong sekali."
"Parahnya, ya, Tuan, waktu itu dia nyelonong pergi begitu saja sambil marah-marah. Padahal saya sudah meminta maaf. Sampai memohon malah. Sumpah, waktu itu saya sedang sakit, saya tidak sengaja jatuh dan muntah di pangkuannya."
Hah?
"Cuma kena jasnya, kan bisa dilaundry. Kenapa sampai sebegitunya, coba? Sombong sekali. Mentang-mentang dia orang kaya. Jijik sih jijik. Tapi maklumin, dong. Kan saya-nya dalam keadaan sakit. Iya, kan?"
__ADS_1
Suci belum pernah menceritakan hal ini kepadaku, tetapi mengapa aku seperti familiar dengan cerita itu? Beberapa saat kemudian baru kusadari sebabnya -- aku teringat kejadian di pesawat beberapa waktu yang lalu.
Apa mungkin dia gadis itu?