
Entah kenapa, rasanya ada kehangatan menjalar di telapak tanganku hingga ke sekujur hatiku. Terasa berbunga-bunga. Darahku berdesir-desir ganjil dan menggetarkan saraf-sarafku. Aku jadi salah tingkah, seperti orang yang baru saja kejatuhan cinta.
Ugh! Something!
"Maaf," kataku. "Saya tidak bermaksud kurang ajar."
Kuperhatikan, gadis di depanku itu gemetar. Sepertinya ia sama gugupnya denganku. "Tidak apa-apa, Tuan," sahutnya. "Saya yang minta maaf. Dan... Tuan tidak usah khawatir. Ini hanya luka kecil, kok. Saya tidak kenapa-kenapa."
"Emm... sebaiknya kita obati."
"Tidak perlu. Sudah tidak sakit, kok."
"Em."
"Em, Tuan... terima kasih."
"Ya. Itu bukan apa-apa. Hanya... hanya sedikit bantuan kecil."
Sebentar. Aku perlu mengatur napasku yang bergemuruh di dalam dada. Gadis cantik ini membuat jantungku berdebar-debar.
"Emm... Tuan?"
Aku menoleh. "Ya?"
"Tuan baik-baik saja?"
"Oh, ya. Ya, saya baik."
"Tapi, sepertinya...."
"Tidak apa-apa. Hanya sedikit sesak saja."
"Apa Tuan sakit?"
__ADS_1
"Tidak. Saya tidak sakit."
"Nervous, Non...," Bibi Merry menyela.
"Bibi... apa sih...?"
Bibi Merry hanya tersenyum sambil menaruh jus buah dan camilan untuk kami ke atas meja.
"Nervous? Memangnya iya?"
"Tidak, kok. Bibi Merry hanya bercanda. Iya, kan, Bi?"
"Nggak. Bibi serius. Memangnya Non tidak dengar detak jantungnya? Hmm?"
Ya ampun, malunya aku. Meski Suci tidak bisa melihat ekspresiku, tapi tetap saja rasanya malu. Haddeh, kok aku seperti ABG begini?
"Nah, camilannya dimakan, jusnya diminum, dan kemesraannya dilanjut. Bibi permisi...."
Kami berdua tersenyum. Tepatnya tersipu-sipu. "Terima kasih, Bi...."
"Ah, Bibi. Jangan begitu...."
"Yo wis, Bibi permisi."
Huh! Mati gaya. Apalagi Suci tak hentinya mengulu* senyum.
"Tuan, kok Tuan diam?"
"Tidak apa-apa."
"Tenang saja, Tuan. Saya tidak menganggap semuanya serius, kok. Tuan tidak perlu merasa malu. Santai saja."
Aku berdeham. "Ya sudah, kita bahas hal lain saja, ya. Kamu... emm, ini, sambil minum jusnya."
__ADS_1
Kuraih tangan Suci dan lagi-lagi dia sedikit gemetar karena sentuhanku. Dia juga tersenyum. "Terima kasih, Tuan," katanya setelah menggenggam gelas dari tanganku.
"Kamu bisa pegang gelasnya?"
"Yeah, tentu."
"Soalnya saya lihat tanganmu... gemetar."
"Saya tidak apa-apa. Sungguh." Dia mengeratkan genggamannya." Kita bahas hal lain saja."
Fix! Sekarang giliran dia yang salah tingkah. Jelas wajahnya jadi merah merona.
"Tuan, saya mau tanya sesuatu."
"Emm? Mau tanya apa?"
"E... anu, setelah tiga hari saya di sini, apa Tuan masih tidak percaya pada saya?"
Aku mengerti ke mana arah pembicaraan ini. "Jujur, saya percaya. Tapi...."
"Apa saya boleh pulang? Saya tidak enak kalau selalu merepotkan Tuan dan semua orang di rumah ini."
Tepat seperti yang kuduga, dia mau pergi dari rumahku.
"Saya tidak merasa direpotkan. Pelayan di sini juga senang-senang saja melakukan tugas mereka, termasuk melayanimu. Jadi please, jangan khawatirkan soal itu. Oke?"
Dia mengangguk. "Jujur saja saya betah tinggal di sini. Di sini nyaman. Saya juga merasa punya teman. Tapi--"
"Saya ingin kamu tinggal di sini. Emm... maksud saya... saya mau kamu tetap di sini. Beberapa hari saja lagi, sampai mama dan papamu pulang. Please? Mau, ya?"
Seperti diminta oleh seorang pacar, Suci tersipu-sipu. Dia hanya mengangguk dan menahan senyuman.
Dan aku lega, plus senang karena dia betah tinggal di rumahku.
__ADS_1
Huh! Aneh. Benar-benar ada yang tidak beres denganku. Ada apa ini?