Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Perpisahan?


__ADS_3

"Pelaku sepertinya sengaja mengintai rumah ini, Tuan," kata Billy. "Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, kurir yang harusnya mengantar makanan dihajar sampai pingsan, sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Jadi yang semalam menyerahkan makanan ke rumah ini, kemungkinan memang sengaja untuk meneror. Apa motifnya, saya belum tahu."


Belum jelas, tapi perasaanku mengatakan ini ada hubungannya dengan Stella, dan ini hal yang serius. Aku sudah dua kali kecolongan. Pasti orang yang sama, pikirku. Aku berpikir -- aku mesti ke bar dan mencari tahu lewat bartender yang melayani minumanku. "Cari tahu semuanya sampai jelas. Segera laporkan hasilnya."


"Baik, Tuan."


Aku melirik jam di tanganku, hari sudah jam sembilan lewat, dan orang tua Suci sebentar lagi akan pulang. Suci benar-benar tidak ingin orang tuanya tahu perihal dia yang tidak ada di rumah.


"Oh ya, saya butuh pengawalan. Kamu dan orang-orangmu nanti ikuti mobil saya."


Billy baru saja hendak mengangguk, tapi tidak jadi. Dia nyaris tak mengedipkan matanya begitu melihat Suci keluar dalam gandengan Anne, dan Bibi Merry di belakangnya.


"Lo? Dia...."


Spontan aku menajamkan mataku ke arahnya. Jangan sampai dia keceplosan perihal gadis di pesawat itu.

__ADS_1


"Sudah siap, Sayang?"


Suci hanya mengangguk, lalu berpamitan pada dua perempuan yang mengurusinya selama beberapa hari ini. Bisa kulihat dengan jelas, Bibi Merry sudah menyayanginya, seperti ia menyayangiku dan Anne.


Singkat cerita, perjalanan kami mulus tanpa hambatan meski suasana di dalam mobil terasa dingin membekukan, sebabnya baik aku dan Suci hanya bisa terdiam. Aku serius menyetir sambil menatap jalanan, sedangkan Suci bersandar di kursi penumpang dengan mulut terkunci. Seperti ABG, perpisahan itu terasa berat.


Mobil kami terus melaju membelah jalan. Setelah mobil berhenti persis di depan rumah orang tuanya, barulah Suci bersuara, "Mas, kamu...," katanya, membuka percakapan, tapi ia tak melanjutkan kata-katanya.


"Hai, akhirnya kamu bersuara juga," candaku.


Merasa diledek, dia cemberut, tapi wajahnya tetap cantik. "Kamu menyebalkan!" sungutnya.


"Kamu tidak akan melupakan aku, kan?"


"Kamu... kok ngomongnya begitu, sih?"

__ADS_1


Matanya mulai berkaca. "Aku takut--"


"Ssst...." Kutempelkan telunjukku di bibirnya. "Tidak akan pernah. Aku tidak akan pernah melupakanmu, dan aku akan meneleponmu setiap hari."


Raut wajah Suci seketika kembali ceria. "Pokoknya aku tidak akan bisa tidur sebelum kamu meneleponku," katanya dengan manja. Suasana seketika mencair.


"Iya... calon istriku... yang masih gadis belia...."


Dia mengangkat tangannya, dan aku menggenggamnya. "Aku akan segera menceritakan tentang kita pada orang tuaku. Kamu akan sabar menunggu itu, kan?"


Aku merasa ada sesuatu yang serius yang ditakutkan oleh gadis yang kucintai ini. Tapi aku tidak ingin membebani Suci dengan pertanyaan dan instingku tentang Raymond dan mantan tunangannya. "Ya," kataku. "Kalau bisa, kabari aku secepatnya. Aku ingin segera membawamu pulang, sebagai istri."


Dia tersenyum, mendekatkan wajahnya lebih dekat padaku, lalu memejamkan mata.


Kupejamkan juga mataku saat bibir kami bertemu, menyatu. Kami saling mengutarakan pernyataan cinta dan keabadian dengan kalut. Mengucapkan ikrar suci yang lebih berarti daripada apa pun yang pernah kuikrarkan sebelumnya. Dan ketika aku mulai mencicipi rasa asin, aku tahu dari mana asalnya.

__ADS_1


"Jangan menangis, apa pun yang terjadi, kita akan saling memiliki. Aku menjanjikanmu selamanya."


Yah, dia tidak perlu repot menghapus air matanya. Ada aku. Pria yang mencintainya.


__ADS_2