Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Yang Membingungkan


__ADS_3

"Jess, are you okay?"


"Em, ya," serunya dari dalam.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit."


"Tidak perlu, Pak."


"Tapi--"


"Saya tidak apa-apa."


Ceklek!


Pintu toilet terbuka dan mata kami langsung beradu pandang. Wajahnya pucat, kalau saja ia tak memakai lipstik, pasti dia nampak seperti orang kekurangan darah.


"Saya hanya mual, Pak. Maaf, saya sudah membuat Bapak khawatir."


Aku mengangguk, lalu berbalik.


Bug!


"Jess!"

__ADS_1


Bak sekali lompatan, aku menghambur ke sisi Jessy yang sudah terkapar di lantai. Kutaruh kepalanya di atas pangkuanku, lalu menepuk-nepuk pelan pipinya sambil memanggil namanya. Tidak ada respons. Dia pingsan. Tanpa pikir panjang, aku langsung menggendongnya dan hendak melarikannya ke rumah sakit.


Heboh!


Tatapan dan hiruk pikuk karyawan kantor tak bisa dihindari. Mereka seperti sedang menonton adegan film romantis yang tayang secara langsung.


Tanpa kusadari, waktu itu aku berlaku bak seorang kekasih, bukan seperti atasan pada bawahannya. Padahal aku bisa saja menyuruh karyawan lain atau bahkan menyuruh Billy untuk membawanya ke rumah sakit. Tapi, yeah, aku sendiri yang melakukan itu. Seperti seorang pahlawan.


Kuanggap itu efek dari perasaan new single yang baru kualami. Tepatnya, aku sudah benar-benar menerima keadaanku -- kembali menjadi bujangan.


Sesampainya di rumah sakit, Jessy langsung mendapatkan tindakan medis. Dan entah bagaimana ceritanya, Roby pun tiba dengan kekhawatiran yang mendominasi -- itu jelas tercetak di wajahnya.


"Gimana?"


Aku menggeleng. "Masih ditangani dokter," kataku.


"Dengan keluarga Bu Jessy?"


Roby langsung berdiri, sementara aku sedang bicara dengan Billy di telepon -- berkata untuk menutup sambungan telepon.


"Apa Anda suaminya?" tanya dokter.


Aku dan Roby sama-sama tertegun. Tapi entah kenapa, saat itu Roby tiba-tiba mengangguk. Dan kakiku seketika terasa berat untuk melangkah.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Roby.


Dokter tersenyum. "Bu Jessy tidak apa-apa, Pak. Hanya kelelahan, sebab itu ia sampai pingsan. Hal ini biasa dialami ibu hamil pada trimester pertama."


"Hamil?" kataku dan Roby berbarengan.


Dokter mengangguk. "Iya, Pak, Bu Jessy sedang hamil. Usia kehamilannya baru dua minggu. Selamat, ya, Pak."


Hening, tidak ada respons.


"Kalau begitu saya permisi."


Sementara dokter berlalu, aku dan Roby saling menatap satu sama lain dengan sorot mata menyelidik dan seakan sama-sama berkutat dengan pikiran masing-masing. Entahlah, tapi aku jelas berpikir yang tidak-tidak. Aku marah pada Roby, karena menduga dia sudah menghamili Jessy. Aku sendiri pun tidak tahu pasti kenapa aku marah pada hal itu, kenapa aku marah Roby menghamili Jessy? Dan jelas bukan karena menyangkut urusan perusahaan. Yang kurasakan ini tidak ada hubungannya dengan urusan perusahaan. Tapi kusadari sepenuhnya -- aku sungguh marah pada Roby.


"Kenapa, Rob? Ada banyak cewek di luar sana. Kenapa mesti Jessy?"


Dahi Roby mengernyit. "Sori--"


"Permisi, Pak. Pasien sudah sadarkan diri," informasi dari suster menjadi pelerai yang tidak tepat.


Roby mengangguk, lalu menolehku. "Sori, gue masuk dulu. Sebaiknya lu pulang. Tolong?"


Kepalaku tiba-tiba sakit, emosi tanpa alasan mendadak sampai ke ubun-ubun. Dan sekali lagi, entah kenapa, kakiku bergerak menghampiri ruangan itu. Aku melihat Jessy menangis di dalam pelukan Roby. Kucengkeram rambutku karena kesal, adegan itu seakan membuatku marah. Aku tidak tahu apakah aku marah karena cemburu? Apa benar aku cemburu? Cemburu pada hubungan Jessy dan Roby? Wajarkah?

__ADS_1


Tidak tahu.


Dan pada akhirnya aku memilih pergi.


__ADS_2