Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Secuil Informasi


__ADS_3

Waktu itu, bukannya aku tidak sedih atau sudah melupakan rasa bersalahku. Jujur, sama sekali belum. Tapi aku lebih dan harus memfokuskan diri pada pencarian Suci. Hingga beberapa hari pun berlalu. Pencarianku, tidak ada perkembangan sama sekali. Suci dan keluarganya hilang bak ditelan bumi. Warga di sekitar rumahnya tidak ada satu pun yang tahu. Satu-satunya informasi yang kudapatkan hanyalah: rumah Nugraha sudah terpasang plang bertuliskan RUMAH DIJUAL.


Argh! Ingin sekali rasanya aku berteriak karena prustasi.


Billy, demi mencari informasi yang akurat, ia sampai berpura-pura tertarik dan hendak membeli rumah itu dan menghubungi nomor ponsel perantara yang terpasang di bagian bawah plang. Informasi yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, status kepemilikan rumah itu sudah beralih atas nama Abraham Dwi Anggara, sebagai pembayaran separuh dari total hutang keluarga Nugraha.


"Itu berarti sedikit banyak keluarga Raymond tahu ke mana perginya keluarga Nugraha. Iya, kan?"


Roby menggeleng. "Mungkin mereka tahu. Tapi mereka menolak untuk memberikan informasi. Sori, Man. Gue sudah berusaha semaksimal mungkin. Gue sudah coba tanya, tapi nihil."

__ADS_1


"Bryan?"


Nihil. Itu yang dikatakan Roby. "Bryan tidak tahu apa-apa. Dia hanya fokus pada urusan perusahaan keluarganya. Hanya itu."


"Berengsek!" lagi-lagi aku hanya bisa berang. "Mungkin memang harus dengan cara kekerasan."


"No. Ingat, mereka keluarga Raymond. Keluarganya sahabat kita."


"Kita tunggu Raymond pulang akhir pekan ini. Kita bicarakan masalah ini baik-baik. Mungkin dia bisa bantu mencari informasi keberadaan Suci dari orang tuanya. Oke?"

__ADS_1


Iya kalau dia bisa kuajak bicara baik-baik. Kalau tidak? Sama saja. Masalah ini akan berujung dengan kekerasan.


Aku tidak butuh bantuan Raymond. Aku juga tidak punya waktu menunggu kepulangannya. Dan syukurlah, Mbok Sari, mantan asisten rumah tangga di keluarga Nugraha, dia menemukan suratku sebelum plang penjualan rumah itu terpasang. Bodohnya aku hanya menuliskan pesan supaya Suci segera mengabariku saat dia menemukan suratku, aku tidak menuliskan kontakku di surat itu, sehingga Mbok Sari cukup kesulitan mencari keberadaanku. Untungnya ia mengingat Suci pernah menceritakan tentangku padanya, dia mengingat nama Sania meski dia lupa dengan kata Property di belakangnya. Sania, seperti merek minyak goreng pikirnya. Sebab itu ia bisa mengingat nama itu dengan baik dalam benaknya.


Wanita tua itu sangat baik. Dia mau mencari keberadaanku, meski ia tidak tahu Sania itu perusahaan yang bergerak dalam bidang apa. Hingga pada akhirnya, dia mencari informasi dari internet, tepatnya ia pergi ke warnet dan meminta tolong pada penjaga warnet untuk mencarikannya informasi hanya dengan kata kunci Rangga Sanjaya dan Sania.


Tidak, aku tidak menanyakan perihal ini pada saat itu, Mbok Sari juga tidak menceritakan tentang ini. Ini diceritakan beberapa waktu kemudian. Anggaplah, ini hanya sebuah informasi yang kuceritakan jika di antara kalian ada yang bertanya. Oke?


Hari itu aku sedang tidak ada di kantor, waktuku banyak habis di luar, berharap kalau-kalau aku menemukan atau berpapasan dengan Suci di jalan. Sekalipun dalam keadaan terburuk. Aku bersyukur Mbok Sari menemukan lokasi perusahaanku dan bertanya pada security yang langsung menghubungi Billy. Well, aku meminta Billy untuk membawanya ke rumahku, dan akhirnya kami pun bertemu.

__ADS_1


Tanpa perkenalan, aku langsung menanyakan keberadaan Suci pada Mbok Sari dan akhirnya secuil informasi bisa kudapatkan.


Yeah, setidaknya ada harapan....


__ADS_2