Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Something


__ADS_3

Aku memijat kepalaku. Mungkin kau berpikir aku ini bodoh karena mengkhawatirkan mereka yang bukan keluargaku. Tapi mana bisa aku tidak peduli, mereka berdua orang yang ada dalam lingkaran hidupku.


"Lu yakin nggak ada saksi?"


"Mudah-mudahan."


"Barang bukti? Mobil lu di mana?"


"Lecet sedikit. Sudah beres. Gue tinggalin di rumah."


Fiuuuh...


"Syukurlah kalau begitu. Gue takut kalau lu kenapa-kenapa. Atau sekalian mending lu vakumin tu mobil supaya lu aman. Daripada--"


Dering ponselku menyalip. Nama Bibi Merry tertera di layar ponselku, dan aku segera menggeser opsi terima panggilan.


"Hai."


Suci?


"Tuan? Anda bisa mendengar suara saya?"


Ah, gadis itu membuat perasaanku terasa aneh. Mendengar suaranya saja mulutku rasanya terbungkam. Lidahku terasa kelu. Praktis aku mengalihkan pandangan dari Roby. "Em. Ya, saya dengar. Mmm...," --aku menggaruk-garuk pelipis-- "ada apa?"


"Bibi Merry sudah menjelaskan semuanya. Dan saya setuju untuk tinggal di sini untuk sementara. Maksud saya untuk beberapa hari. Tapi kita harus bicara. Apa Tuan bisa menemui saya?"


Dia setuju?


"Halo, Tuan. Anda masih di sana?"


"Oh, ya. Ya, bisa. Ee... nanti... nanti saya pulang."


"Baiklah. Terima kasih."

__ADS_1


"Em, sampai jumpa."


"Emm?"


"Maksud saya, emm... saya akan segera pulang."


Tut! Sambungan telepon terputus.


"Kenapa lu senyum-senyum?"


Eh? Praktis senyumku semakin mengembang tak tertahan.


"Siapa yang senyum-senyum sih, Rob? Gue nggak senyum-senyum tuh. Sembarangan lu."


"Telepon dari siapa, sih?" godanya.


"Bukan siapa-siapa. Jangan kepo, ya."


Tanpa bisa meredupkan senyuman yang mengembang di wajahku, aku melirik ke Roby sesaat sambil menyimpan kembali ponselku. Dia sedang memandangiku dengan tatapan menyelidik.


"Apa sih?" kataku. "Jangan sok tahu lu, ya."


Roby mengangguk, lalu menaruh gelas kopi yang sudah kosong dari tangannya. "Oke. Omong-omong, sebenarnya, gue... mau ketemu lu karena ada satu hal lagi yang mesti gue sampaikan."


Kedua alisku terangkat. "Ada apa? Masih ada sesuatu?"


"Emm... ini permintaan gue secara pribadi. Ee... gimana, ya. Soal Jessy, dia takut kalau lu sampai memecat dia. Jadi...."


Aku mengangguk. "Gue paham," kataku. "Tapi bagaimana soal kehamilannya?"


"Gue harap jangan sampai ada yang tahu. Bahkan orang tuanya. Lu bisa jaga rahasia ini, kan? Gue percaya banget sama lu, Ngga. Lu sahabat karib gue."


Aku mengerti, dan itu pasti. "Terus, solusinya? Lu paham, kan, risikonya kalau karyawan lain pada tahu kalau dia hamil di luar nikah?"

__ADS_1


"Ya, gue paham. Sebab itu gue akan bujuk dia supaya kita berdua nikah dulu. Nanti setelah dia lahiran, gue akan menikahi dia ulang. Biar orang-orang tahunya kalau anak itu anak gue."


Kuhela napas dalam-dalam. "Ya, apa pun yang terbaik menurut kalian, gue dukung. Gue nggak akan pecat Jessy, selagi berita ini tertutup aman, jangan sampai jadi gosip."


"Oke. Siap. Trims untuk semuanya."


Lagi, denting ponselku menyalip.


》Suci doyan es krim. Kita harus membuat dia betah tinggal di sini. Bibi boleh belikan es krim untuk dia?


Es krim?


《 Nanti biar saya yang belikan, Bi.


Eh? Kenapa...?


Cepat-cepat kuhapus balasan pesan itu.


》Bibi sudah terlanjur baca. Menurut Bibi, itu gagasan yang bagus.


Ah, sialan. Kenapa gue sok perhatian begini? Dasar orang aneh. Rangga... Rangga.


"Halo... sibuk?"


Aku tertegun. "Em, ya. Gue... harus pulang. Ada urusan penting."


"Ya sudah. Sana, biar gue yang bayar."


"Oke. Sori, ya, gue tinggal."


"Santai. Terima kasih sekali lagi."


Aku mengangguk, kemudian berlalu.

__ADS_1


__ADS_2