
Well, begitu mendengar *enguhan mereka yang beradu, aku sengaja membuka pintu dan masuk ke ruangan itu supaya Raymond menghentikan kegiatannya yang tidak termasuk tugas kantor antara atasan dan sekretaris pribadinya.
Di depan mata dan kepalaku, tubuh wanita itu terguncang-guncang oleh Raymond. Hentakan-hentakan Raymond yang bertubi-tubi mampu memuaskannya.
Tetapi Raymond cuek, dia hanya melihat dan mengangguk dengan kerjapan mata -- bermaksud memintaku supaya memberikan pengertian dan sedikit waktu padanya untuk agenda perawatan bagi sisi kelelakiannya -- sampai ia selesai. Sedangkan, si sekretaris tidak tahu kalau aku berdiri di belakangnya.
Beberapa menit berlalu, katakanlah sekitar tiga atau empat menit, Raymond pun selesai dengan ritual bercintanya. Ia membenamkan sejenak wajahnya di dada wanita itu, melukis jejak merah di sana, kemudian mendaratkan satu ciuman panas ke bibirnya. Setelah itu, dia merapikan kembali bra dan mengancingkan kembali kemeja si sekretaris. Yeah, dia manis sekali. Tidak hanya membuka dan memakai, tapi dia menutupkan kembali apa yang sudah ia buka. Barulah dia mengurusi dirinya sendiri, membuang *engamannya ke kotak sampah dan merapikan kembali pakaiannya, dibantu juga oleh sang sekretaris. Kuakui, mereka pasangan yang tahu bagaimana cara saling mengimbangi.
"Kamu keluar dulu, ada Pak Rangga."
"Oh!" wanita itu terkejut dan spontan berbalik. "Maaf, Pak. Saya...."
"Tidak apa-apa," kata Raymond. "Santai saja. Kamu keluar saja dulu."
__ADS_1
Busyeeeeet... sesantai itu dia, seperti di kantor sendiri dan aku seperti bawahan yang tidak punya kuasa apa pun untuk memecat mereka. Tapi sudahlah, itu juga tidak akan kulakukan mengingat Raymond adalah sahabatku. Dia orang penting yang ikut andil dalam memajukan dan mengembangkan perusahaanku. Terlebih perempuan itu, dia janda beranak satu, yang menjadi tulang punggung bagi anaknya yang ditelantarkan oleh mantan suaminya yang tidak bertanggung jawab. Dia juga harus menghidupi orang tuanya dan membiayai sekolah adiknya. Aku hanya tidak suka cara Raymond yang memanfaatkan keadaannya yang butuh pekerjaan dan gaji bulanan.
"Jangan begitu, Ray. Kasihan, kan?"
"Apa sih...? Itu namanya saling tolong menolong."
"Tolong menolong apa?"
Dia cengengesan. "Lu nggak ngerti, Bro. Kami kan sama-sama single. Sama-sama butuh penyaluran. Dia butuh gue, gue butuh dia, maksud gue... dalam urusan *asrat. Jadi, apa salahnya? Gue juga selalu kasih bonus, kok. Tiap bulan gue kasih jatah bulanan, pribadi dari gue."
"Minimal jangan di kantor. Kan bisa di apartemen."
"Butuhnya sekarang, gimana coba?"
__ADS_1
"Terserah lu! Tadinya gue mau sedikit ngasih perhatian. Tapi melihat lu begini--"
"Nah, itu! Gue lagi bingung, tahu! Makanya gue menyalurkan *asrat dulu."
Aku mendengus. "Alasan!"
"Hehe." Dia nyengir. "Gue mau membatalkan pertunangan. Doi buta."
Egois! Pantas saja orang tuanya tidak memberikan dia kepercayaan memimpin perusahaan.
Tapi nyatanya aku hanya bisa terdiam. Dan aku bingung. Sebenarnya kecelakaan itu -- petaka atau mukjizat bagi tunangannya? Intinya, aku menganggap ini suatu keajaiban bagi gadis malang itu.
Mungkin saja.
__ADS_1
Tapi ya sudahlah, sekali lagi, tidak ada gunanya berdebat dengan Raymond dalam urusan *eks atau apa pun. Dia akan selalu bertahan dengan pemikirannya. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari ruangannya.
Dia benar-benar egois.