
"Tuan?"
"Eh?"
"Tuan kenapa? Melamun?"
"Oh, tidak, kok. Saya tidak melamun."
"Oke. Jadi bagaimana?"
Aku berdeham. "Baiklah." Aku menyambut ponsel itu dari tangannya. "Saya akan penuhi semua permintaanmu."
"Terima kasih, Tuan."
"Sama-sama."
"Ehm, boleh saya bertanya satu hal?"
"Ya. Silakan."
"Tuan menganggap saya tamu atau tawanan?"
Dia tersenyum, dan aku mengerti, dia hanya bermaksud berbasa-basi untuk suatu tujuan.
"Secara teknis, maaf, kamu tawanan."
"Saya menanyakan anggapan Tuan."
"Hmm, ya, saya menganggap... kamu adalah tamu di rumah ini."
"Bagus. Kalau begitu, tamu harus dibuat nyaman, kan? Bukan begitu?"
__ADS_1
Aku tertawa. Kali ini aku tidak tahu mesti menganggapnya lugu dan polos, atau justru pintar dan licik. "Iya, saya akan membuatmu nyaman tinggal di sini. Kamu mau meminta apa?"
"Meminta hati Tuan untuk saya."
Eh?
Lagi-lagi dia tertawa senang. "Maaf, Tuan. Saya hanya bercanda."
Huh! Kuhela napas dalam-dalam. "Kali ini serius, ya. Kamu mau minta apa? Hati saya selalu untuk kamu."
"Eh?"
Kali ini aku yang tertawa -- menertawainya.
"Bercandanya udahan, Tuan...."
"Oke, oke. Jadi, apa?"
"Hanya hal sederhana, kok. Saya mau meminta buah semangka segar, yang dingin dan dipotong-potong. Apa Tuan punya? Atau buah lain yang sekiranya ada di lemari pendingin di rumah ini. Saya sangat suka buah-buahan dingin. Ada, kan, Tuan?"
"Tidak usah, Tuan. Kalau boleh saya saja yang ke dapur. Bibi Merry dan Anne ada di dapur, kan? Saya butuh teman untuk diajak bicara, sekiranya tidak mengganggu pekerjaan mereka."
Kamu kan bisa mengobrol dengan saya....
Tetapi, nyatanya aku mengalah. Aku menuruti kemauan Suci.
"Terima kasih, Tuan."
"Em, tidak perlu berterimakasih, kok."
"Baiklah. Tapi, omong-omong, saya senang Anda memahami maksud saya."
__ADS_1
Aku hanya tersenyum, lalu berdiri, pun Suci, dia menurunkan kakinya dari ranjang dan lekas berdiri. Tetapi sejenak kemudian ia malah nampak ragu.
"Ada apa?" tanyaku.
"Saya tidak punya tongkat."
"Oh, maaf." Aku pun ikut ragu, tapi perasaan itu segera kutepis. "Emm... di rumah ini juga tidak ada tongkat. Jadi...." Aku meraih tangannya, dan menaruhnya di atas tanganku.
Oh, Tuhan... aku menggenggamnya, rasanya begitu menentramkan. Dan hatiku mengatakan bahwa aku suka menggenggam tangan itu.
"Boleh?"
Dia tersipu, mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah. Sekarang kita ke dapur."
Lagi-lagi dia tersenyum. "Anda tidak keberatan untuk ini?"
"Sama sekali tidak. Saya bersedia menjadi pelayanmu selama kamu di sini. Hitung-hitung, sedikit menebus rasa bersalah saya terhadap... kamu."
Dia nyengir dan seketika menutup mulutnya dengan tangan yang satunya. "Baiklah," katanya kemudian. "Saya juga tidak keberatan untuk itu. Kapan lagi bisa memanfaatkan seorang Tuan Rangga, ya kan? Jangan menyesal lo, ya."
Jiaaaaah... gadis ini. Sungguh menggemaskan. Dia membuat senyumku lagi-lagi mengembang. "Tidak akan ada penyesalan. Masa menyesal melayani gadis cantik? Itu kan keberuntungan, ya kan?"
Suci tertawa. "Dasar gombal!" ledeknya.
Aku pun nyengir. "Kalau begitu, kamu jangan memanggil saya Tuan."
"Lalu?"
"Panggil saja Rangga."
__ADS_1
"Ah, saya tidak berani."
"Baiklah, terserah padamu saja. Omong-omong, di depan ada tangga. Kamu bisa? Atau perlu saya gendong?"