
Setelah itu aku diam sesaat, membiarkan diriku bersemayam dalam kehangatan surganya, terbenam penuh, dan -- beradaptasi dengan satu sama lain. Lalu, sejenak kemudian, barulah aku melanjutkan -- apa yang semestinya tidak pernah terjadi, jika aku dalam keadaan normal. Tapi ini dalam situasi sama sekali tidak normal. Aku mengarungi malam bersamanya. Gadisku yang cantik, yang bahkan aku belum tahu siapa namanya.
Kusadari, aku menjamahnya seperti kesetanan, melahapnya dengan kasar, seolah-olah gadis ini adalah makanan dan aku sudah berbulan-bulan tidak makan.
Sesudahnya, setelah hubungan terlarang itu usai, aku tidak bergerak, tak berdaya, menempel di atas tubuhnya seperti orang pingsan, sampai ponselku berdering -- mengingatkan aku bahwa aku masih hidup. Aku beringsut, menggeser tubuhku darinya, meraih jasku yang terkapar di ujung kepala dan mengeluarkan ponselku dari saku jas, kemudian berbaring terlentang. Untuk sejenak, aku menatap layar ponselku, panggilan dari Raymond.
"Lu di mana sekarang?"
"Gue di rumah. Kenapa?
__ADS_1
"Gimana? Tersalur?"
"Kepo lu!"
"Ya ampun, gue nanya serius, Sob."
"Hm, sudah."
"Yeah. Thanks sudah peduli. Sudah, ya. Gue capek banget, Ray. Sumpah. Suplemen lu kebangetan."
__ADS_1
Tut!
Aku menutup sambungan telepon sepihak. Raymond di seberang sana pasti mengumpat kesal. Masa bodoh. Lalu, tetap dengan posisi terlentang menatap langit-langit, kusadari, malam sudah benar-benar larut. Kuembuskan napasku dengan berat, dan menonaktifkan ponselku, kemudian melemparnya ke kepala tempat tidur. Setelah itu, aku beringsut lebih dekat pada gadis di sebelahku. Berbaring miring menghadapnya.
"Kamu sangat cantik," kataku seraya menyibakkan sejumput rambut yang menutupi matanya. Lalu menciumnya dengan manis. Selanjutnya, kutarik selimut dan menutupi tubuh kami.
Well, ini malam yang indah, sekaligus melelahkan. Ada kepuasan dan kelegaan yang meletup-letup di dalam jiwaku. Lega, terbebas dari siksaan hasrat, dan lega -- bahkan sangat bahagia dengan kenyataan bahwa aku sudah menemukan seseorang yang akhir-akhir ini menari-nari di pikiranku, dan menemaniku di alam mimpi. Aku bahagia telah menemukannya. Gadis impianku.
Kugeleng-gelengkan kepala dan tertawa sendiri. Tawa bahagia dalam kesunyian. "Trims, aku bahagia," kataku sambil memandangi wajah cantiknya yang sudah terlelap. "Ini untuk pertama kali, dan hanya kali ini. Aku janji, hanya denganmu saja. Mulai saat ini, tidak akan ada lagi perempuan lain dalam hidupku. Hanya kamu. Bagaimanapun caranya, aku akan memilikimu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kamu -- milikku. Selamanya."
__ADS_1
Aku terlelap dalam kebahagiaan, hingga esok paginya aku terbangun setelah enam jam, dalam posisi yang masih sama persis. Hari masih sangat pagi, jarum jam baru menunjuk angka lima. Tapi sesuatu membuatku terbangun. Gadis itu, ia menyilangkan kakinya ke atas perutku, dan yang lebih mengejutkan, bagian dalam pahanya -- persis menindih telapak tanganku. Tetapi, waktu aku membuka mata, dia masih tertidur lelap. Melihat wajahnya -- kantukku langsung hilang, kendati kepalaku sedikit sakit, masih terasa agak pusing karena pengaruh alkohol yang belum sepenuhnya hilang. Tapi aku punya aspirin untuk mengatasinya nanti. Yang penting saat ini, karena seperti biasa -- setiap pagi, sisi kelelakianku selalu terbangun lebih dulu daripada aku dan, menyiksaku dalam kesendirian. Sekarang ia seakan menuntut hak-nya dan memerintahkan aku untuk memenuhi keinginannya -- yang juga merupakan keinginanku.
"Selamat pagi, Sayang. Kehangatanmu membuatku terbangun sepagi ini. Jadi...."