Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Lelaki Bajingan!


__ADS_3

Mustahil tidak tergelak hebat. Tapi, yeah, lucunya takdir ini, seorang petualang ranjang seperti Raymond bisa mendapatkan gadis perawan. Betapa beruntungnya dia.


"Kan kalian semua tahu kalau gue belum pernah nyicipin seretnya surga perawan. Bagaimana manisnya rasa cewek yang belum pernah dijamah lelaki lain? Bagaimana kencang dan kenyal dadanya, apalagi darah segernya. Ya ampun, itu impian gue, man. Gue pinginlah menikmati mayones gres yang baru buka bungkus."


Gue juga jadi penasaran, batinku. Karena faktanya dulu, Rhea juga sudah tidak perawan. Dia sendiri jujur, aku saja yang terlanjur cinta dan menerima dia apa adanya. Duuuh... apa-apaan, sih, Ngga....


"Memangnya perempuan itu makanan, kok lu nyebut pengandaiannya begitu amat?" tanya Roby.


Roy berhenti tertawa. "Sori, ya, tapi benar, seperti food and drink. Dan ibaratkan teh celup, lu itu udah tinggal ampasnya doang. Nggak ada aroma tehnya sama sekali. Udah abis."


"Gue bukan teh!"


"Tapi lu suka nyelup!"


"Karena gue normal, Bro."


"Jiaaaaah...! Dasar bajingan lu!"

__ADS_1


"Omong-omong, kok dia mau sama lu, Ray?" tanya Roby.


"Pertanyaan yang sama," kataku. "Kenapa? Kok dia mau?"


Raymond mengedikkan bahu. "Mungkin dia melihat foto gue. Gagah, tampan, rupawan, dan berkarisma. Cewek mana yang sanggup menolak, ya kan? Sisanya barangkali karena perjodohan orang tua. Dan dia menurut apa yang diperintahkan kedua orang tuanya. Kalau gue sih cuma mengajukan tiga syarat: cantik, muda, dan perawan."


"Oke, gue ikut bahagia untuk lu, Ray."


"Thank you, Ngga."


"Tanggal pastinya sih belum. Tunggu calon istri gue genap dua puluh satu tahun. Sekitar empat bulan lagi."


Yap. Empat bulan.


Tetapi kenyataan tak seindah impian.


Dua minggu berselang, berita duka datang dari keluarga tunangan Raymond. Gadis itu mengalami kecelakaan mobil dan terluka parah. Selama seminggu Raymond jarang masuk kantor. Untuk sementara aku yang menghandle beberapa pekerjaannya, termasuk meeting dengan klien-klien besar. Aku juga harus menghadiri sidang perceraianku yang pertama, tepat di hari Roby dan Roy menjenguk gadis itu di rumah sakit, sebagai bentuk kepedulian seorang sahabat terhadap musibah yang dialami Raymond. Ya, walaupun bukan Raymond yang terbaring di ruang rawat rumah sakit itu.

__ADS_1


Sidang pertama perceraianku berlangsung lancar, sebab Rhea sebagai pihak yang digugat tidak hadir di persidangan. Jelas, karena dia masih terkurung di rumahku tanpa diketahui oleh orang luar. Sementara surat gugatan itu dikirimkan ke rumah orang tuanya -- yang tidak tahu di mana keberadaan anak perempuannya. Berdasarkan data perjalanan, Rhea masih berada di Bali. Tidak ada catatan perjalanan yang mencatut namanya di agen transportasi mana pun.


Setelah seminggu bertahan dengan musibah yang dialami tunangannya, Raymond kembali masuk kantor. Awal-awal dia kembali bekerja, dia agak uring-uringan dan mulai menggila. Suatu waktu, aku sengaja datang ke ruangannya, karena aku tidak sempat ke rumah sakit, maka sebagai seorang sahabat, aku bermaksud menemuinya di kantor saja untuk menunjukkan kepedulianku sebagai seorang sahanat. Tetapi...


Si petualang ranjang itu bukannya sedang bersedih atau minimal sedang menyibukkan diri dengan pekerjaan sebagai bentuk pengalihan dari duka yang ia alami, ia justru...


"Ukh! Eummmmm...!"


"Enak, Sayang?"


"Enak, Pak. Enak. Enak sekali. Ouch!"


"Yeah, Sayang, karena akulah yang terbaik. Ukh!"


Astaga... dia sedang bersenang-senang dengan sekretaris pribadinya.


Dasar lelaki bajingan!

__ADS_1


__ADS_2