Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Sabar....


__ADS_3

Entah apa saja yang ia lakukan di dalam sana, Suci menghabiskan waktu lebih dari lima belas menit kurasa. Aku sangsi ia benar-benar berkobok-kobok dengan air. Ia pasti hanya mengulur-ulur waktu untuk menghadapiku. Tapi tak apa, aku akan selalu sabar menunggunya.


Sewaktu pintu kamar mandi terbuka, Suci berdiri kaku. Dia tidak akan keluar dari kamar mandi jika bukan karena aku yang meraih dan menarik tangannya. Dia mengikutiku.


"Boleh aku masuk?" tanyaku sesaat setelah aku membuka pintu belakang rumahnya.


Seperti tadi, Suci hanya mengangguk. Dia melepaskan tanganku begitu kami berada di dalam rumahnya. Rumah itu nyaris tanpa perabotan, kecuali perabotan-perabotan dapur yang jumlahnya tak terlalu banyak, nyaris bisa dihitung dengan jari. Di tengah ruangan itu ada sebuah kursi panjang yang terbuat dari bambu dan meja kecil yang juga berbahan dasar potongan bambu.


"Kenapa?" tanyaku. "Kenapa kamu menghindariku? Kamu ingin melupakanku?"


Suci kembali menangis terisak. Dia menggeleng. "Maaf, hari sudah malam. Sebaiknya... sebaiknya Anda kembali ke tenda. Apa pun itu, kita bicarakan lagi besok."


"Aku temani kamu di sini."


"Tidak usah, saya--"


"Jangan membantahku."


"Terserah. Tapi tolong jaga batasan."

__ADS_1


"Sayang...."


"Mayang. Panggil saya Mayang atau May."


Tahan, Rangga. Jangan paksa dia.


Aku tidak punya pilihan, hanya bisa mengangguk dan menurut.


"Anda boleh di sini, tapi tolong, jangan masuk ke kamar saya. Selamat malam."


Kau tahu, sakit sekali rasanya hati ini di dalam. Melesak.


Ada dua hal manis yang kusadari ketika aku membuka mataku. Pertama, wajah cantik itu. Wajah yang sangat aku rindukan selama sebulan ini. Dia ada di hadapanku, memandangiku dengan mata cokelatnya yang indah. Hal kedua, aku menyadari sebuah selimut tebal menyelubungi tubuhku, melindungiku dari dinginnya cuaca malam. Meski punggungku sedikit sakit karena tidur di atas kursi bambu tanpa alas. Tapi tidak masalah, aku hanya sedikit jengkel mengingat keempat lelaki bertampang preman itu tidur nyaman di atas airbed di dalam tenda. Ya, ya, sekali lagi itu tidak masalah.


"Selamat pagi," sapaku, tak lupa dengan senyuman hangat yang mengembang.


Tidak ada balasan. Dia hanya terus menatapku dengan tatapan yang berubah tajam. "Kenapa kamu membohongiku?" tanyanya tiba-tiba seraya memalingkan wajahnya ke luar jendela samping.


"Berbohong? Aku bohong apa?" tanyaku dengan bingung, sebab aku tidak merasa berbohong padanya.

__ADS_1


Sekarang Suci kembali menatapku dengan pandangan tak suka. "Wajah itu," katanya. "Aku mengenali wajah itu."


Oh, tentang kejadian di pesawat dulu, pikirku. "Aku tidak berbohong. Aku hanya sekadar tidak berterus terang."


"Anda bukan sedang bicara dengan anak kecil, Tuan Rangga."


Ya ampun, dia serius sekali. "Maaf, aku hanya tidak ingin perasaanmu berubah ketika kamu tahu akulah si Mr. Sombong yang kamu benci itu. Sumpah, tidak ada alasan lain."


"Aku tidak suka dibohongi," ketusnya.


"Ayolah, ini bukan masalah besar, kan?"


"Bagaimana hubungan bisa terjalin dengan baik kalau tidak didasari dengan kejujuran?"


Oke, dia marah. Aku harus lebih bersabar menghadapi gadis yang di mataku masih sangat belia ini. "Maaf, aku terlalu pengecut," kataku, mencari alasan apa pun itu demi mendapatkan simpati dan rasa ibanya supaya ia mau memaafkanku, lalu aku berdiri dan menghampirinya. "Aku hanya paranoid, aku takut kehilanganmu jika kamu tahu lebih cepat tentang aku, maksudku -- wajahku. Wajah Mr. Sombong itu."


"Aku tidak peduli bagaimana rupamu!"


Ugh! Galak sekali....

__ADS_1


__ADS_2