Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Menggemaskan


__ADS_3

Lega. Aku sangat lega.


Akhirnya aku bisa bernapas tanpa rasa sesak dan tersenyum lepas. "Emm... omong-omong, es krim-mu hampir mencair."


"Oh," katanya.


Lagi. Aku tersenyum. "Makanlah. Aman, kok. Saya tidak menaruh apa pun."


"Ya, tentu saja. Maaf saya sudah curiga. Lagipula, kalaupun Anda berniat jahat, tidak perlu bertele-tele, Anda tidak perlu repot-repot menaruh obat. Toh saya di sini, di rumah Anda, di kamar Anda. Saya kan buta, saya tidak berdaya. Anda tentu bisa melakukannya jika Anda mau, ya kan?"


Apa dia menyindirku?


"Maaf, saya tidak bermaksud menyindir apalagi menyinggung Anda, Tuan. Tapi saya percaya kalau sebenarnya Anda adalah orang yang baik."

__ADS_1


Oh, syukurlah kalau memang seperti itu tanggapannya terhadapku.


"Tuan, boleh saya minta dua hal lagi? Maaf, bukannya saya lancang. Tapi pelayan di rumah ini bilang, kalau Anda adalah seorang majikan yang sangat baik. Jadi boleh, kan, kalau saya banyak maunya?"


Dia memasang wajah yang ceria, dan senyumnya sangat manis. Sedikit pun tidak ada perbedaan dengan senyuman gadis di mimpiku.


"Tentu boleh. Apa pun yang kamu inginkan. Apa pun, selain pergi dari sini."


"Pertama, tolong izinkan saya keluar dari kamar ini. Misalnya ke taman, saya butuh bergerak. Kalau tidak, kaki saya bisa lumpuh. Sangat malang, kan, sudah buta, lumpuh pula." Lalu dia tertawa lagi, hanya tawa kecil. "Saya hanya bercanda, Tuan. Intinya saya ingin keluar dari kamar ini untuk menghirup udara segar. Saya bosan kalau terus terkurung di kamar. Boleh, kan?"


Aku setuju. "Ya," kataku. "Lalu apa lagi?"


"Yang kedua, tolong, izinkan saya menelepon Mbok Sari di rumah, dia pasti khawatir. Saya hanya ingin mengabarkan kalau saya baik-baik saja. Setelah itu Tuan boleh menahan ponsel saya lagi. Tuan juga boleh mendengar apa yang saya bicarakan di telepon. Kalau saya macam-macam, Tuan boleh menghanisi saya saat itu juga."

__ADS_1


Menohok. Meski Suci mengatakan semua kalimatnya dengan enteng, tapi aku tetap merasa tersindir, seolah aku sejahat itu.


"Baik, saya akan mengizinkanmu menelepon. Tapi sekali saja, oke?"


Dia mengangguk. "Saya janji," katanya, polos sekali.


Benar saja, setelah aku memberikan ponselnya, dia menelepon orang yang ia maksud, hanya sekali, dan tidak menimbulkan kericuhan. Dia hanya mengatakan kalau dia menginap di rumah temannya dan akan pulang minggu depan. Dia meminta orang itu untuk tidak mengkhawatirkan dirinya. Lalu berpesan, "Tolong jaga Didie, ya, Mbok."


Menurutku, yang ia maksud adalah adiknya. Adik yang tidak pernah mengakui dan menganggapnya, dan malah tega menjahilinya dengan alkohol dan obat perangsan*. Tapi Suci malah masih sebaik itu terhadapnya.


"Ini, Tuan. Silakan simpan kembali ponsel saya. Kalau bisa tolong tetap diaktifkan, dan kalau ada telepon masuk dari orang tua saya atau dari Mbok Sari, tolong diberikan kepada saya. Tolong izinkan saya menjawab telepon dari mereka. Kalau Tuan tidak keberatan tentunya. Non-aktifkan saja GPS-nya, kalau Tuan khawatir ada yang melacak keberadaan saya. Saya hanya tidak mau mereka mengkhawatirkan keadaan saya, apalagi sampai mencari keberadaan saya karena mengira saya kenapa-kenapa. Tuan mengerti maksud saya, kan? Tolong?"


Tapi aku hanya tersenyum. Aku suka sekali mendengarnya bicara. Menggemaskan, dan suaranya menentramkan hati.

__ADS_1


__ADS_2