Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Lagi, Perubahan Rencana.


__ADS_3

Suara langkah kaki dari heels tinggi sekretarisku, Jessy, mendecitkan telinga. Dia berusaha berjalan cepat -- mengejar langkahku. "Pak, hari ini kita ada meeting dengan perusahaan--"


"Batalkan!" kataku sambil terus berjalan tanpa melambatkan langkahku dan tak menoleh sedikit pun. Aku hanya mengibaskan tangan dan terus melangkah cepat, masuk ke ruang kerjaku.


Yeah, niat hati ingin menyibukkan diri dengan pekerjaan, tetapi pada akhirnya aku malah sibuk dengan pikiranku sendiri, teringat akan sosok Mama Sania. Cinta pertamaku, seorang wanita yang mengulurkan tangannya -- menarikku dari kelamnya masa lalu. Yang memberikan aku kehangatan untuk pertama kali. Pelukannya mengusir rasa dingin yang -- dulu sekali -- selalu menyelimuti malam-malamku.


Lima belas tahun kebersamaan kita terasa begitu singkat. Sedangkan tujuh tahun tanpa Mama terasa sangat lama. Apalagi sekarang, di saat Rangga tidak punya siapa-siapa. Rangga benar-benar rindu.


Oh Tuhan, mataku terpejam selama beberapa detik, mengenang sosoknya dalam ingatanaku, kemudian aku memandang ke kejauhan, ke arah pohon rindang yang nun jauh di sana. Aku masih saja merasa sangat bersalah atas kematiannya, kalau saja dulu aku bersikeras mencegah keberangkatannya ke luar kota untuk menghadiri pembukaan hotel barunya, dia tidak akan mengalami kecelakaan pesawat. Dia tidak akan direnggut dariku. Dan aku juga tidak akan menyalahkan Tuhan yang begitu kejam merampasnya dariku.


Aku kehilangan dirinya. Mamaku, Sania Sanjaya.


Aku tahu, aku dalam keadaan rapuh, satu-satunya yang membuatku kuat saat ini adalah dendamku. Tapi...


Perlakukan dia dengan baik selagi dia menjadi istrimu.

__ADS_1


Kata-kata itu -- mendengung. Kalimat yang pernah dan selalu diucapkan ibu angkatku dulu, saat ia menasihatiku tentang kesetiaan, dia ingin aku menghargai arti sebuah pernikahan, bertanggung jawab penuh pada seseorang yang menyandang status terhormat -- seorang istri. Tapi, sayangnya...


Aku *endesah, lalu mengangguk -- seakan-akan mengiyakan ucapan ibuku.


"Jess?"


"Ya, Pak?"


"Tolong panggilkan Billy. Saya mau bicara empat mata."


"Permisi, Tuan." Billy muncul di ambang pintu. "Tuan memanggil saya?"


Aku mengangguk, Billy pun masuk ke ruanganku dan menghampiriku.


"Bill, suruh anak buahmu membawa Rhea ke kamar utama. Pastikan tidak ada yang tahu kalau dia ada di dalam rumah. Jika perlu, liburkan pelayan untuk sementara. Jangan sampai ada yang melihat kedatangan Rhea. Tidak ada yang boleh tahu. Kamu paham?"

__ADS_1


Billy mengangguk. "Paham, Tuan."


"Setelah ini kamu pergi ke butik langganan Rhea, siapkan beberapa pakaian baru untuknya. Pastikan pekerjaanmu bersih. Jangan sampai ada yang tahu kalau perempuan itu masih bersama saya. Apalagi orang tuanya, jangan biarkan mereka masuk ke rumah tanpa izin dari saya."


Lagi. Billy mengangguk paham. "Ya, Tuan. Anak buah kita sekarang masih dalam perjalanan. Tadi mereka melaporkan kalau ada beberapa lokasi macet dan razia kendaraan, sehingga orang-orang kita harus berhenti dan mencari jalan lain."


Aku mengangguk. "Pastikan saja mereka berdua tidak mati."


Huh! Baiklah. Dia masih istriku, kuputuskan aku akan memperlakukannya dengan baik sampai perceraian itu tiba. Bahkan setelah bercerai pun, akan kuperlakukan ia dengan "ekstra" baik.


Aku tahu, seringaian jahat secara alami terukir di wajahku saat ini.


"Apa ada perintah lain, Tuan?"


"Tidak. Kamu boleh pergi."

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu saya permisi."


__ADS_2