
Tetapi kenyataan tak pernah seindah harapan.
Malam itu, hujan tiba-tiba turun dengan sangat lebat. Tepat pukul dua dini hari, dan kami semua sudah tertidur.
Tiba-tiba terdengar bunyi.
Apa itu?
Tak seorang pun mengucapkannya, tapi ekspresi kami jelas menunjukkan bahwa kami memikirkan hal yang sama. Kedengarannya seperti bunyi ranting patah, mungkin langkah kaki.
Kami semua terpaku dan mendengarkan lagi. Di atas kami, cabang pohon besar bergoyang-goyang sambil berderak. Tidak terlihat dari dalam tenda namun insting mengatakan demikian. Tenda ini berada di bawah pohon besar. Tapi bunyi itu tidak terdengar lagi.
Angin tiba-tiba bertiup semakin kencang. Udara terasa dingin merayapi tulang punggungku. Aku memang bukan orang yang religius tapi mau tak mau aku bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi?
Aku mendapat firasat buruk.
Brak!
Bunyinya membelah angin, menggema menembus malam. Bukan ranting patah. Bunyinya sepuluh kali lebih keras. Apa mungkin dahan roboh?
"Astaga! Keluar!" seruku pada empat preman dengan wajah sekaku batu. Kami bergegas lari dari tenda.
Nihil. Tidak ada dahan yang roboh.
Lalu apa?
Di sana, di pondok itu: pintunya jebol, dan engsel-engselnya terbuka dengan deritan memilukan. Lalu...
__ADS_1
Terdengar teriakan.
"Berengsek!"
Aku kembali masuk ke tenda dan meraih pistolku.
Tuhan, Tuhan, Tuhan. Tolong. Tolong jangan terlalu kejam padanya.
Hatiku menjerit dengan sesak. Sementara detak jantungku beradu cepat dengan langkah kakiku.
"Kejar!" perintahku.
Seorang lelaki berlari lewat pintu belakang. Dia harus mati dengan pengejaran Leo dan Diego. Sementara aku...
Mematung -- sesaat. Seorang lelaki berada di atas tubuh Suci yang terbaring di kamarnya.
"Biadab!" teriakku.
Ternyata dia sudah mati.
Suci, dengan pakaiannya yang compang-camping dan terkoyak, menangis histeris. Sebuah pisau dalam genggaman tangannya berlumuran darah.
"Singkirkan! Kubur mayatnya! Cepat!"
Simon dan Jody langsung bergerak. Tidak boleh ada jejak pembunuhan yang bisa terlacak oknum berwajib. Pria itu memang pantas mati.
Untuk sesaat aku lupa dengan keburukan diriku selama ini. Tapi memang, pria itu benar-benar pantas untuk mati.
__ADS_1
"Aku... aku membunuh orang?"
Suci cemas luar biasa. Aku mendekatinya. "Tenang, please, tenang, ya?" bujukku. Kusuruh dia menarik napas dalam-dalam, pelan-pelan, berusaha menurunkan kecemasannya dan meredakan kekhawatirannya. Tapi sia-sia. Dia tetap histeris.
"Aku membunuh orang...," teriaknya, suaranya beradu dengan kencangnya suara hujan yang mengecam malam.
Aku menggeleng. "Tidak apa-apa. Kamu hanya melindungi dirimu sendiri, oke? Anggap si keparat itu pantas mati. Jangan takut. Ada aku." Aku mendekapnya. Wajahnya tersembunyi di dadaku. Dia menangis terisak-isak dan menjatuhkan pisau dari genggamannya.
"Auw...! Perutku...."
"Kenapa?"
"Sakiiiiit...," ia meringis.
Kusadari, darah mengalir dari kakinya.
Ingin aku berteriak marah. Tapi tidak bisa, kecemasanku pada keadaan Suci menguasaiku. Kuraih tubuh Suci dalam gendonganku dan kubawa keluar menuruni tangga. "Jody, siapkan mobil! Cepat!"
Kasak-kusuk, kasak-kusuk.
Kami segera masuk ke mobil dan melesat.
Bedebah! Kami tidak tahu di mana lokasi rumah sakit terdekat, minimal klinik. Aku cemas bukan main. Wajah Suci benar-benar pucat. Ia terkulai lemah.
Tolol! Tolol! Tolol! Bodoh sekali kau, Rangga....
Aku lalai, tak seharusnya aku membiarkannya tidur sendirian. Apa yang terjadi membuatku mengutuk diri sendiri.
__ADS_1
Apa aku tidak pantas menjadi suami dan seorang ayah? Tidak pantas? Hah?
Big thanks. Kehidupan menipuku sekali lagi.