Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
ABG!


__ADS_3

Aku hanya bisa mengangguk dan mengiyakan. "Kabari aku secepatnya, ya."


"Em, pasti. Tapi...."


Alisku mengerut. "Ada apa?"


Dia berdeham parau. "Mas, aku harap kamu sudah tidak paranoid terhadapku. Aku ingin kamu mempercayaiku seratus persen."


"Ada apa, Sayang? Jangan bertele-tele."


Seulas senyum tipis terukir di bibirnya. "Lebih baik kita duduk dulu, yuk?"


"Well, oke. Ayo." Aku membimbingnya, mengarahkannya duduk di atas tempat tidur. "Jadi, apa? Katakan."


Dia meraba-raba, lalu menggenggam tanganku. "Sewaktu aku menceritakan tentang kita nanti, papaku pasti bakal banyak tanya. Siapa nama lengkapmu, di mana rumahmu, kamu kerja di mana atau punya usaha apa. Aku harus jawab apa, Mas?"


"Sayang--"


"Tidak perlu jawab kalau kamu keberatan. Kalau kamu takut aku...."


"Aku percaya padamu, Sayang. Namaku Rangga Sanjaya. Ingat, Rangga Sanjaya."


"Oke, Mas Rangga Sanjaya. Namaku, kamu sudah tahu, kan?"


"Tahu, dong. Namamu... Suci Sanjaya. Nyonya Suci Sanjaya."


Ia tergelak. "Yang serius, dong, Mas...."


Mudah sekali dia dibuat senang. Aku tersenyum. "Aku tahu, namamu Suci Nugraha. Aku tahu dari Bibi Merry. Terus... tentang aku, aku punya usaha property, Sania Property. Dan--"


"Sania Property?"

__ADS_1


"Mmm-hmm...."


"Aku pernah dengar. Tapi... itu nama siapa? Mantan istri...?"


Giliran aku yang tertawa. "Kamu ini, nanti kubilang iya, kamu malah cemburu."


"Jadi, iya?"


Kukecup tangannya sekali sebelum menjawab. Aku suka dia memiliki sedikit kecemburuan pada masa laluku. "Ehm, Sania itu nama mamaku. Cinta pertama dalam hidupku. Kamu tidak keberatan, kan, apa-apa aku memakai nama mamaku?"


"Aku kan cuma tanya, Mas. Kamu tidak perlu bertanya seperti itu. Kan tidak ada hubungannya denganku," kata Suci, jelas dia lega.


Tok! Tok!


"Suci?"


Auto panik! Siapa?


"Lo, bukannya...?"


"Mas, please... kamu sembunyi dulu, ya?"


Sebenarnya aku enggan. Tapi kepanikan Suci membuatku merasa terjepit. Lagi-lagi aku harus bertingkah seperti ABG.


Bagaikan tak punya pilihan, akhirnya aku bersembunyi di dalam lemari. Huh! Begini amat... nasibku demi mencintai gadis itu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau seorang Rangga Sanjaya yang dingin dan disegani banyak orang, malah begitu jinak dan penurut pada gadis muda yang masih sangat belia itu.


"Ma," kata Suci setelah suara berderek saat ia membuka pintu kamarnya. "Bukannya Mama pergi, ya? Katanya ada acara sama Papa? Tapi, kok?"


Wanita parubaya itu melangkah masuk, dan aku semakin waswas.


Bodoooooh... sekali! Dasar Rangga idiot!

__ADS_1


"Mama tidak enak badan, jadinya Didie yang menemani Papa. Oh ya, tadi sepertinya kamu sedang mengobrol. Mengobrol dengan siapa?"


Aku yakin Suci kebingungan, dia butuh waktu beberapa detik sebelum menjawab. "Emm... tadi Suci teleponan, Ma."


"Teleponan dengan siapa?"


"Teleponan... dengan Mas Rangga."


"Rangga? Rangga siapa?"


"Itu, Ma. Photographer. Suci pernah pemotretan bareng dia."


Ya ampun, Sayang. Kamu malah mengarang-ngarang cerita.


"Oh, oke. Mama istirahat dulu, ya. Kamu cepat tidur. Penerbangan kita jam sembilan pagi. Kamu jangan kesiangan."


Suci mengiyakan, dan kukira itu artinya selesai, dan aku bisa keluar dari dalam lemari. Tapi ternyata...


"Kok gembok teralinya terbuka?"


Suci kembali gugup. "Emm... mungkin si Mbok, Ma. Mau bersihin kaca, lupa ngunci."


"Ya, mungkin. Tapi ini namanya ceroboh. Bahaya, tahu!" celotehnya yang kudengar dengan jelas dari dalam lemari.


Setelah itu terdengar bunyi cetekan dari gembok yang terkunci.


Oh astaga....


"Gemboknya sudah Mama pasang. Kuncinya biar Mama yang simpan."


Asli, aku terkurung di sini!

__ADS_1


__ADS_2