Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Kejujuran Suci


__ADS_3

》Tuan, saya sudah bersama Nona Indie. Kami pergi ke club malam, tidak jauh dari hotel. Saya bisa pastikan dia tidak akan kembali ke kamarnya sampai pagi.


Bagus. Saatnya aku bertemu dengan Suci.


Kamarku tidak jauh dari kamarnya, berada di lantai yang sama dan hanya berjarak beberapa meter. Aku menempati kamar persis di ujung lorong, hingga memudahkan diriku untuk mengamati ketika Indie mengendap-endap keluar dari kamarnya, meninggalkan Suci sendirian.


Yap. Indie. Gadis yang beberapa kali dikencani oleh Raymond. Tapi kurasa, Raymond sama sekali tidak tahu kalau gadis itu adik tunangannya. Pun Indie, dia pasti tidak peduli dengan kehidupan Suci, apalagi tentang perjodohan itu. Kurasa dia juga tidak tahu kalau Raymond adalah tunangan kakaknya. Lagipula, Raymond dan Indie tidak punya hubungan apa-apa. Mereka hanya teman di atas ranjang.


Tok! Tok!


"Siapa?"


Aku sengaja tidak menyahut.


"Mas, apa itu kamu? Aku tidak mau membukakan pintu kalau kamu tidak menyahut."


Ya ampun... jadilah aku berdeham sedikit. Dan hanya sedikit dehaman itu, Suci mau membukakan pintu itu untukku.


"Jahil," cetusnya.


Aku hanya tersenyum, masuk, dan menutup pintu di belakangku. Selanjutnya...


"Mas...," Suci *elenguh. Dia sudah terhimpit di antara dinding dan tubuhku, di antara gemuruh detak jantungnya, dia berusaha meraba-raba dan mengenali wajahku. "Jangan begini, dong. Kamu jangan diam saja...."


Huuuuuh....


Embusan angin yang kutiupkan di telinganya membuat dirinya gemetar. Sulit sekali rasanya menahan tawa menyaksikan respons alami dari sikapnya yang polos. "Terserah kamu kalau kamu masih mau diam, yang jelas aku tahu ini kamu. Aroma tubuhmu tidak bisa menipuku, tahu!"

__ADS_1


"O ya?"


"Tuh kan... benar ini kamu. Dasar jahil."


"Itu sih belum seberapa."


"Maksudnya?"


"Ada yang lebih jahil."


"Apa?"


"Ini."


Tiga, dua, satu.


Dia melorot ke lantai sambil menahan perutnya yang sakit akibat tertawa karena rasa geli.


"Jahil sekali kamu, Mas...."


"Cuma bercanda, Sayang."


"Tidak lucu!"


"Iya... maaf. Aku cuma mau melihatmu tertawa. Cantik."


Lidahnya terjulur. Lucu sekali. "Gombal!" katanya.

__ADS_1


Aku tidak peduli. Aku yang ikut duduk di lantai di hadapannya, menariknya lebih dekat ke arahku, lebih rapat kepadaku.


"Jadi, sudah siap bercerita?"


"Cerita tentang apa?"


"Tantang kamu dan Raymond."


Suci mulai kikuk. "Jangan bahas ini, ya. Aku mohon?"


"No, ini harus dibahas."


"Mas...."


"Aku harus tahu. Kamu kan calon istriku."


"Iya, tapi...."


"Please?"


Suci merema*-rema* jemarinya. Terlihat jelas dia merasa cemas dan masih enggan bercerita. "Perjodohan, Mas," akunya. "Mama dan Papa punya hutang yang besar pada keluarganya Mas Raymond. Hutang bisnis. Aku tidak tahu bagaimana, tapi orang tuanya meminta pada Mama dan Papa supaya menikahkan anak gadis mereka untuk menjadi menantu di keluarga Dwi Anggara. Jadi, ya begitulah."


"Oke, sampai di sini aku paham. Jadi, bagaimana denganmu? Kamu langsung mau? Kenapa? Karena dia tampan? Kaya raya?"


Suci menggeleng. "Tidak tahu. Aku tidak pernah mengiyakan, tapi aku juga tidak diberikan kesempatan untuk menolak. Mereka bilang aku harus berterimakasih karena mereka sudah membesarkan aku. Mereka sudah banyak menolong orang tuaku di kampung, ibu kandungku yang sakit-sakitan. Entahlah, dalam sekejap semuanya diperhitungkan."


Hmm... ini sama saja perdagangan manusia. Dan rasanya, kalau hal ini hanya karena uang, harusnya mudah saja bagiku untuk menyelesaikannya. Dan jika mengingat keinginan Raymond untuk menikahi gadis perawan, harusnya mudah saja untuk membebaskan Suci dari perjodohannya yang ternyata masih berlanjut, ya kan?

__ADS_1


__ADS_2