Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Pengganggu!


__ADS_3

Akan lebih baik jika kamu tidak menggangguku!


Itu -- yang ingin kukatakan kepadanya. Tapi aku tidak ingin menyakiti hatinya secara terang-terangan.


Aku berdeham. "Sangat yakin, Stell. Lagipula, aku tidak punya waktu untuk merenungi nasib buruk pernikahanku, untuk apa? Iya, kan?"


"Ya, kamu tentunya sibuk bekerja."


Oh, dia teman dan pendengar yang baik seandainya saja dia tidak terkesan murahan.


"Tentu. Sibuk dengan pekerjaan membuatku merasa lebih baik," ujarku sambil *endesah. Dan kurasa inilah cara yang terbaik bagiku untuk tidak memikirkan betapa payahnya kehidupan percintaanku. Kisah cinta yang menyedihkan. Tidak, lebih tepatnya ini memalukan. Sangat memalukan.


Entah kenapa, tapi aku malu. Seakan akulah si pemilik kekurangan sehingga istriku sampai berselingkuh. Ini yang masih membuatku tak habis pikir. Tampan, kaya raya, gagah, bertubuh atletis, tegap dan kekar, bahkan hebat di ranjang. Tapi istriku berselingkuh. Aku merasa dunia ini mempermainkan aku, bahkan saat ini seluruh isi dunia seakan menertawaiku. Miris!


"Hei, boleh aku mengatakan sesuatu?"


"Sure. Apa itu? Katakan saja."


"Aku mendengar banyak tentangmu."

__ADS_1


"O ya?"


"Yap. Aku dengar dari Raymond."


"Lalu?"


"Emm... aku tahu ini memalukan sebenarnya."


"Apa yang memalukan?"


"Maksudku... aku hanya ingin mengatakan...."


"Rangga, kalau kamu butuh teman berbagi, aku akan selalu ada untukmu."


Wow! Memang kebanyakan wanita seperti ini, atau aku baru menemukan yang seperti ini?


Mungkin kamu berniat baik, tapi aku tidak berminat. "Hm, aku baru saja dikhianati seorang wanita, Stell. Kurasa...."


"Just a friend, Rangga. Sungguh, hanya sebatas teman."

__ADS_1


Bagaimana tanggapanmu bila kau berada di posisiku? Memanfaatkan keadaan? Aji mumpung?


Jujur kuakui, aku tak menampik dan bukan sosok yang naif, aku butuh kehangatan dari seorang wanita, tapi bukan seseorang yang ingin menyerahkan dirinya padaku tanpa malu. Singkatnya, aku tidak suka seorang jalan*. Termasuk yang berkelas seperti Stella. Tidak!


"Kamu tidak perlu berpikir berlebihan. Hanya terima aku sebagai teman, aku akan membantumu melupakan masa lalumu."


Penawaran menarik, hanya jika aku seorang Raymond. Sayangnya aku -- Rangga, Rangga Sanjaya.


"Sangat disayangkan, tapi aku sudah memenuhi semua jadwalku dengan pekerjaan. Sori, semuanya sudah terlanjur. Saat ini aku tidak punya waktu luang. Aku benar-benar sibuk."


"Mungkin di akhir pekan, bagaimana? Kita bisa bertemu untuk makan siang, atau apa? Atau mungkin hangout bareng atau nonton bareng? Ayolah...."


Aku terkikik mendengar keantusiasannya. "Aku lebih suka pantai, Stell," kataku. "Dengan langitnya yang senja, dan, tentu -- pemandangannya yang cantik. Yeah, I mean... wanita seksi."


"Oh, bagus! Aku juga suka pantai," katanya. "Aku sangat suka. Omong-omong, kita bisa melewati sore bersama weekend ini, bagaimana? Please, jangan menolak."


Hah! Kutahan bibirku supaya tawaku tidak meledak. "Kita lihat nanti, ya. Selamat malam." Silakan bermimpi, Stella.


Tapi sialnya, setelah hari itu, Stella terus berusaha mendekatiku. Mendekati, begitulah anggapanku. Dia menghubungi ponselku setiap hari meski aku tidak menggubrisnya. Tidak ingin ponselku terus bergetar dan sambungan teleponku selalu sibuk, aku hanya menuliskan pesan bahwa aku benar-benar sibuk di kantor, sementara setiap malam aku selalu menonaktifkan ponselku.

__ADS_1


Sampai tiga hari berikutnya, dia nekat mendatangiku ke kantor. Yap, heboh! Banyak karyawan yang menanyakan perihal kedatangan Stella pada Jessy. Beruntung, sekretaris cantik itu sayang dengan pekerjaannya dan mampu membungkam rasa penasaran mereka.


__ADS_2