
Aku hanya menggeleng, lalu menekan angka 1 menuju lantai dasar. Emosiku meluap-luap, dengan mata berkedut marah dan rahangku otomatis mengeras. "Gue harus pergi," kataku.
"Ya, gue tahu. Coba tenang dulu. Cerita dulu kenapa?"
Ting!
Pintu lift terbuka lagi, dan tepat pada saat itulah aku mengatakan pada Roby, "Gue mencintai Suci."
Terbelalak. Roby tidak berkata apa-apa untuk sesaat. Aku tahu dia terkejut mengetahui cinta segitiga di antara dua sahabat karibnya.
"Oke. Sekarang gue ngerti," katanya, setelah dia mampu mencerna kenyataan tentang masalah percintaanku dan ia menemukan suaranya lagi.
Aku hanya mengangguk dan baru hendak melangkahkan kakiku keluar lift ketika Roby melontarkan informasi yang membuatku sedikit lega, "Raymond tidak jadi menikahi Suci," ujarnya.
Tepat di saat itulah langkahku terhenti, aku berbalik. "Lu tahu sesuatu?"
__ADS_1
Roby mengangguk. "Mereka tidak jadi menikah. Soalnya... gue nggak tahu kebenarannya. Tapi Raymond bilang kalau Suci... sori, maksud gue, kata Raymond... emm... Suci mengaku kalau dia itu... emm... maaf."
"Apa?" tanyaku tak sabar.
"Suci mengaku dia sudah tidak perawan."
"Sialan! Berengsek!" raungku.
Roby langsung melayangkan tatapan curiga padaku. "Ngga, apa lu yang...? Astaga...."
Sekali lagi, Roby mengangguk paham. "Oke," katanya.
"Ada informasi apa lagi, Rob? Apa lu tahu di mana keberadaan Suci sekarang?"
Sialnya dia menggeleng. "Gue nggak tahu banyak. Tapi gue bakal bantu lu, asal lu cerita dulu semuanya dari awal."
__ADS_1
Dari awal. Well, hari itu aku menceritakan segalanya kepada Roby....
》Raymond masih di Singapura. Dia menginap di hotel *******. Gue sudah tanya-tanya bagaimana keadaan Suci, tapi Ray bilang dia tidak tahu. Gue rasa dia jujur, sih. Atau lu bisa suruh orang untuk mengawasi dia di Singapura. Tapi please, Ngga, kita semua bersahabat. Jangan ada kekerasan di antara kalian. Selesaikan ini secara baik-baik. Mungkin suatu saat ketika Raymond tahu, dia bisa menerima hubungan lu dan Suci. Gue nggak mau kalau persahabatan kita hancur karena urusan perempuan. Salam kompak selalu.
Roby mengirimkan whatsapp itu pada malam harinya, setelah kami melewati sore itu dengan cerita tentang hubunganku dan Suci, bagaimana pertemuan pertama kami, bagaimana kami menjadi dekat dan bahkan sampai cerita kami di pesawat, bagaimana aku tahu tentang perjodohan Suci dengan Raymond. Dan terakhir, tentang aku yang kehilangan jejak Suci.
"Ribet, ya," komentar Roby sore itu. "Drama, seperti sinetron."
Mendengar komentarnya membuatku jengah. "Gue butuh bantuan lu, bukannya komentar," kataku sesaat setelah mengusap-usap wajahku dengan telapak tangan.
Dan sesuai anjuran Roby, aku menyuruh anak buahku yang masih berada di Singapura untuk mengawasi Raymond, bahkan mereka menginap di hotel dan lantai yang sama. Hasilnya? Sesuai yang dikatakan Roby, penilaiannya sama sekali tidak meleset, tidak ada yang mencurigakan dari Raymond. Dia sekadar menikmati waktu dan bersenang-senang di Singapura. Setiap malam dia mabuk dan membawa wanita muda ke kamar hotelnya -- wanita yang tak pernah sama di setiap malamnya.
Sama seperti Raymond, berdasarkan informasi yang kudapatkan, Roy dan Stella pun hanya menghabiskan waktu untuk liburan. Kata Roby yang sempat bertanya pada Roy, dia hanya menemani Stella, sebab Stella mengalami kemunduran mental. Depresinya semakin menjadi setelah ia keguguran, hanya saja keadaan itu membuatnya lebih banyak bersedih dan murung. Proses pemulihan yang ia alami pasca kuret, membuatnya bisa lepas (mungkin untuk sementara) dari kegilaannya tentang *eks. Tapi buruknya, dia terus-terusan meratapi janin yang sudah terenggut darinya.
Dan itu terjadi gara-gara aku! Dan sekarang beban mental yang kurasakan malah semakin terasa berat. Aku pantas dihukum!
__ADS_1