
Mereka bukan perampok atau orang yang kebetulan lewat. Sepertinya mereka sengaja dikirim untuk mengganggu Nona. Dari ponsel lelaki yang mati itu, ada panggilan telepon dari Singapura. Kemungkinan itu bos mereka. Tapi kami tidak berhasil melacak identitasnya, Bos. Sebab... nomor yang tercantum berdasarkan identitas lelaki yang mati itu.
Laporan yang disampaikan Simon itu masih terngiang-ngiang jelas di telingaku pada keesokan paginya. Kepalaku bertambah sakit karena nyaris tidak tidur semalaman. Hatiku melesak melihat gadis yang kucintai terbaring lemah dengan selang infus mencuat dari tangannya. Pun ketika aku teringat pada nyawa calon anakku yang melayang. Aku berang pada orang -- siapa pun ia yang bersembunyi di Singapura sana. Dendamku semakin membara. Tak mungkin orang lain, pikirku. Pasti Stella.
Malam itu, Diego dan Leo terus berjaga di rumah Suci, sebab aku khawatir musuhku akan kembali mengirimkan orang untuk menerorku. Sementara Simon dan Jody berjaga di puskesmas. Semalam aku juga sudah menelepon Billy untuk mengirim lebih banyak pengawal dan memesan tambahan senjata untuk berjaga-jaga.
Kabar baiknya, ibunya Suci dan Indie sudah kembali ke rumah mereka. Aku bahkan mengiba -- meminta mereka untuk datang dan membujuk Suci supaya ia mau kembali ke Jakarta. Mereka setuju. Mereka akan datang, katanya. Kurasa, wanita parubaya itu sebenarnya sangat menyayangi Suci, hanya saja keadaannya yang terjepit yang membuatnya tak punya pilihan hingga ia pun terpaksa meminta Suci berkorban dan menerima perjodohan itu.
__ADS_1
Ah, apa pun itu, aku sangat yakin Suci pasti mau mendengarkan sosok ibu yang telah mendidik dan membesarkannya itu. Apa pun caranya, aku akan terus meyakinkan Suci untuk tetap bersamaku dan terus dalam pengawasanku. Meskipun ibunya baru bisa datang dua hari lagi karena harus check up kesehatannya dulu ke rumah sakit. Jadilah aku harus menanggung sendiri semua kelabilan emosi Suci pagi itu.
Aku baru kembali dari kamar mandi dan kembali masuk ke ruang rawatnya. Melihat Suci sudah bangun aku pun duduk di sampingnya, tapi dia langsung membuang muka. Pandangan matanya kosong dan dia hanya menatap ke luar jendela.
"Bagaimana keadaanmu? Ada yang sakit?"
Air matanya mulai menetes, dia terisak pelan. "Bagaimana rasanya, Mas, melihat wanita yang kamu cintai hampir diperkosa? Bagaimana rasanya kehilangan darah daging yang kamu sayang dan kamu tunggu-tunggu kehadirannya? Hmm? Apa sakit? Sakit tidak, melihat perempuan yang kamu cintai menangis histeris? Tertekan? Depresi? Sakit, kan? Itu yang dirasakan seseorang atas perbuatanmu."
__ADS_1
"Aku tahu semuanya!" suaranya melengking. "Aku pikir kamu orang baik, Mas. Tapi ternyata, kamu jahat. Kamu pendendam! Kamu pembunuh berdarah dingin! Tapi kenapa? Kenapa aku begitu cinta padamu?"
Kuhela napas dengan berat. "Aku bisa jelaskan," kataku. "Ini tidak seperti yang kamu pikir. Kamu tidak tahu, kan, cerita selengkapnya?"
"Oke. Sekarang ceritakan, ceritakan dari versimu."
Aku bingung. Haruskah aku menjelaskan semuanya pada Suci? Aku tahu, apa pun pembenaranku dan pembelaan diriku, tetap saja, yang kulakukan pada Stella -- itu salah. Tapi...
__ADS_1
Akhirnya aku bercerita. Aku menceritakan semuanya pada Suci dari awal sampai akhir, bahkan bagian di mana aku meminta maaf pada Stella. Juga tentang semua teror yang kualami semenjak aku melakukan kejahatan itu pada Stella. Semuanya, tanpa terkecuali.
"Aku mohon, tolong maafkan semua masa laluku, please?"