
"Umurmu berapa, Ci?" tanya Anne malam itu.
Suci dan Anne sudah seperti teman lama yang sangat akrab. Terlebih dengan kepribadian Suci yang rendah hati. Dia tidak sedikit pun merasa dirinya lebih dan menganggap orang lain rendah. Dia bahkan tidak sungkan nongkrong di dapur untuk sekadar mengobrol dengan Anne dan Bibi Merry. Dia juga akrab dengan Pak Agus, lelaki yang sudah termasuk golongan insan lanjut usia, yang bekerja sebagai tukang kebun di rumahku. Dan kuberitahu hal yang membuatku sedikit sedih, dari kemarin malam, Suci tidak mau hanya makan malam berdua denganku, dia lebih suka makan ramai-ramai dengan yang lain katanya. Diam-diam aku kepingin ikut makan bersama mereka, tapi gengsi. Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya.
"Eh, ada Tuan," kata Anne saat ia melihat kedatanganku. "Ada yang Tuan butuhkan?"
Aku menggeleng. "Tidak ada," kataku. "Cuma mau duduk di sini. Boleh, kan?"
Duh, pertanyaan bodoh. Masa mau duduk di meja dapur rumah sendiri -- aku mesti izin?
"Majikanmu lucu, Ann," komentar Suci sambil cekikikan. "Ini kan rumahnya sendiri, kok minta izin segala?"
Anne hanya tersenyum, gadis itu tidak akan berani bicara sok akrab denganku, seperti halnya Suci dan Bibi Merry.
"Kalian lanjut saja mengobrol. Sekalian saya juga mau tahu berapa umurmu?"
Hmm... Suci malah semakin jadi. "Cieee...," katanya. "Ada yang kepo."
"Cuma pingin tahu. Siapa tahu kamu sebentar lagi ulang tahun, saya bisa siapkan kado kejutan untukmu, ya kan?"
Pingin sekali rasanya aku menampar mulutku sendiri. Semakin dipancing, aku malah semakin tidak bisa mengontrol diriku sendiri.
"Benar, ya?"
"Hm."
"Kadonya harus sesuatu yang spesial."
__ADS_1
"Iya, Cerewet...."
Dia cekikikan, lalu menjawab, "Dua bulan lagi saya dua puluh satu tahun. Sebelas November. Ingat, ya, Tuan."
Aku mengangguk. "Oke."
"Kalau Tuan?"
"Apa?"
"Kapan hari ulang tahun Tuan?"
Hening. Rasanya sulit sekali untuk menjawab pertanyaan itu. Sebab, aku sendiri tidak tahu tanggal pasti, kapan sebenarnya aku terlahir ke dunia ini.
"Dua puluh lima Desember," sela Bibi Merry.
"Oke. Dua puluh lima Desember," kata Suci mengulangi, seolah mencatat dalam hati. "Kalau saya boleh tahu, berapa usia Tuan sekarang?"
Aku tersenyum. "Dasar kepo!"
"Pasti sudah tua. Makanya malu, ya kan?"
"Sembarangan!"
"Jadi berapa? Hmm? Lima puluh?"
Eh?
__ADS_1
Semua orang tertawa ngakak.
"Saya tidak setua itu, Nona...!"
"Iya, iya, maaf. Hanya bercanda. Jadi berapa?"
"Sama seperti umurmu, dua puluh satu."
"Ah, bohong. Saya tidak percaya."
"Saya serius. Dua puluh satu. Ditambah sepuluh, plus satu."
Seketika Suci kembali terkikik. "Tuh, kan, benar. Anda sudah kepala tiga. Sudah tuwir...," ledeknya.
Aku pun mendelik. "Usia tiga puluhan itu usia matang, tahu!"
"Uuuh... waw, dong...!"
Bagaikan bukan seorang majikan, aku ditertawai semua orang. Dan untuk pertama kalinya, image yang selama ini melekat pada diriku dan kupertahankan -- luruh begitu saja. Tapi aku senang, hatiku merasa hangat di antara canda tawa mereka.
"Oh ya, Tuan--"
"Panggil saya seperti biasa saja, Bi."
"Hm, oke. Kamu mau ikut makan di sini, kan, Nak?"
Hening lagi.
__ADS_1
Tapi sesungguhnya hatiku langsung berteriak-teriak di dalam -- mengiyakan: saya mau....