
"Bekerjalah dengan baik, kalau tidak ingin di PHK secara tidak hormat."
Bukan, itu bukan kalimat murni dari Jessy. Aku yang memerintahkannya untuk mengatakan itu pada setiap karyawan yang kepo pada kehidupan pribadiku.
"Jangan temui saya di kantor, Stell. Saya tidak ingin para karyawan bergosip. Apalagi, status saya masih suami orang. Saya harap, Anda bisa jaga batasan seorang teman. Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung Anda."
Tersinggung? Kurasa tidak sama sekali. Dia bahkan bersikap sangat santai. "Aku tidak akan datang kalau kamu tidak mengacuhkan aku."
"Kan saya sudah bilang, saya sibuk."
"Bahkan untuk sekadar mengangkat telepon?"
"Yes, sure. Saya sangat sibuk."
Stella mencondongkan tubuh di atas meja. "Baiklah, bagaimana dengan besok, ada waktu untukku? Kamu tidak bekerja pada hari sabtu, kan? Katakan ya, dan aku akan pulang."
Aku menengadah dari catatanku. "Oke." Jika itu bisa membuatmu pergi dari sini.
Stella tersenyum penuh kemenangan. "Tentukan waktu dan jamnya. Kabari aku secepat mungkin." Dia pun berjalan ke pintu. Aku penasaran, apakah ia mahir berdansa? Yang jelas, dia mahir melenggang.
__ADS_1
Oke. Anggap saja tidak terjadi apa-apa, aku kembali fokus pada pekerjaanku. Hingga esok harinya...
Yap. Aku sama sekali tidak berniat untuk meladeni Stella akhir pekan ini, tapi yang terjadi di luar dugaanku. Pagi-pagi, sedan merahnya sudah terparkir di depan pagar rumahku dan sudah membuat sibuk security dan asisten rumah tangga mengetuk pintu kamarku.
"Ada apa?" tanyaku. Aku bahkan masih menikmati tidurku, masih dengan mataku yang terpejam.
Lalu seseorang di luar pintu menyahut, "Maaf, Tuan. Ada tamu yang ingin bertemu. Namanya Stella. Apa boleh masuk, Tuan?"
"*hit! Suruh pulang! Bilang saya masih tidur."
"Sudah, Tuan. Tapi orangnya memaksa."
"Baik, Tuan."
Hening.
See, belum apa-apa dia sudah membuatku kesal. Kuambil ponselku dan mengaktifkannya.
Drrrt... drrrt... drrrt...
__ADS_1
Wow! Langsung bergetar. Foto cantik Stella dan tubuh seksinya langsung menghiasi layar ponselku.
"Ini masih terlalu pagi bahkan untuk makan siang," cerocosku setelah menggeser opsi terima panggilan. "Dan kamu tahu, kamu mengganggu tidurku!"
Kurasa nada bicaraku yang kesal harusnya sudah cukup untuk membuat seorang wanita memilih untuk menjauhiku. Tapi ternyata itu tidak berlaku untuk seorang Stella.
Dia terkekeh. "Baiklah, jemput aku tepat jam makan siang nanti. Jangan buat aku repot untuk mencarimu."
Heh! Siapa juga yang minta dicari olehnya? Big no!
"Kirim saja alamatmu. Biar nanti aku yang ke sana."
Sebenarnya malas. Tapi apa yang harus kulakukan melewati weekend yang membosankan ini? Tentunya ini weekend yang akan terasa sangat panjang karena ini pertama kalinya aku tanpa Rhea sejak lima tahun terakhir.
Yeah. Kupikir sebaiknya aku pergi, tapi bukan untuk berduaan.
Jadi, yeah, akhirnya siang itu, sesaat sebelum pukul setengah satu, kubelokkan mobil memasuki jalan masuk rumah Erlan Nasution -- begitulah anggapanku tentang rumah itu: rumah mendiang Erlan Nasution. Sewaktu Stella mengirimkan alamat rumahnya, aku langsung menyadari kalau aku pernah ke sana -- menjelang pemakaman klienku itu. Seorang pria muda yang tewas dalam kecelakaan tunggal. Kami pernah menjalin kerjasama beberapa bulan lalu. Sayangnya aku sama sekali tidak menyangka kalau sosok Stella adalah janda dari mendiang klienku itu.
O-ouw... dunia ini begitu sempit.
__ADS_1