Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Rangkaian Teka-Teki


__ADS_3

Jujur saja, aku tidak ingat pada wajah gadis itu, sebab waktu itu ia membekap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Aku hanya melihat matanya, dan itu pun hanya sekilas. Aku sama sekali tidak memperhatikannya. Sebab...


Ah, kau tahu waktu itu aku masih mencintai Rhea, dan mataku tidak akan mau melihat perempuan lain selain dirinya. Maksudku waktu itu, saat aku mengira semuanya baik-baik saja.


Karena penasaran, diam-diam aku mengambil foto Suci dan mengirimkannya ke ponsel Billy via whatsapp.


《 Kamu kenal gadis ini? Atau merasa pernah melihatnya?


Ting!


Balasan whatsapp masuk satu menit kemudian.


》 Dia gadis yang waktu itu mengganggu kenyamanan Tuan di dalam pesawat, sewaktu kita pergi ke Bali.


Oh, ternyata benar. Suci adalah gadis itu.


》 Apa saya perlu mengurusnya, Tuan?


Mengurus?


Oh, no!


Billy memang selalu sigap. Tapi kali ini jangan. Aku semakin merasa Suci adalah gadis yang kucari. Gadisku dari alam mimpi.


《 Tidak. Saya hanya bertanya saja.

__ADS_1


Huh....


Satu kelegaan. Dan kesimpulanku saat ini: dia gadis yang pernah bertemu denganku satu kali. Dan dia gadis yang pernah kumarahi.


Tapi satu hal yang janggal. Aku tidak pernah merasa memikirkan dirinya seharian. Dan bukankah waktu itu dia tidak buta?


Oke. Mimpiku masih berupa rangkaian teka-teki. Tapi aku tidak mengatakan apa pun pada Suci kalau akulah pria sombong yang ia maksud. Terlanjur malu, dan dia terlanjur mengecapku "sombong." Mungkin suatu hari, mungkin di saat dia bisa melihatku -- melihat wajahku, dia akan tahu.


Hei, Rangga. Kau menaruh harapan? Kau berharap dia bisa melihat lagi? Lalu memangnya kenapa? Kau ingin menjadikannya istri?


Aku tersenyum sendiri. Yeah, mungkin. Faktanya dia bisa menggetarkan hatiku.


"Tuan? Apa Anda sedang sibuk?"


"Tidak. Hanya mengirim whatsapp. Santai."


"Sama sekali tidak. Kita mengobrol saja di sini. Saya mau tanya soal... matamu. Jika kamu tidak keberatan. Apa boleh?"


Suci terdiam sesaat. Aku tahu ini hal yang sensitif, dan pasti membuatnya tidak nyaman, plus mengingatkannya pada tragedi pilu. Tapi, walau bagaimanapun juga, aku harus tahu.


Suci pun mengangguk setuju. "Mau tanya apa, Tuan?"


"Oke. Saya mau tahu, kamu sejak kapan...?"


Tanpa kulanjutkan, Suci paham apa yang ingin kutanyakan. "Baru, Tuan," jawabnya. "Belum dua bulan ini, saya mengalami kecelakaan. Dan...."

__ADS_1


Tunggu. "Dua bulan?"


"Belum dua bulan, Tuan. Saya mengalami kecelakaan mobil dan mata saya terkena pecahan kaca. Karena itu saya... saya buta."


Lagi. Aku seperti pernah mendengar cerita serupa. Aku berusaha keras untuk mengingatnya, dan...


Raymond. Apa mungkin gadis ini tunangan Raymond? Kalau iya, berarti benar: aku pernah memikirkannya seharian.


"Tuan? Masih di sini?"


"Hm, ya. Jangan takut. Saya tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini."


"Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud begitu. Saya justru mengkhawatirkan Tuan. Takut Tuan kenapa-kenapa."


Manis sekali. Dia sangat perhatian. Andai saja...


Tapi bagaimana kalau dia tunangannya Raymond?


Meski pertunangan itu batal, tetap saja, aku tidak enak hati kalau semisal Raymond, dan teman-temanku tahu -- mantan tunangan Raymond saat ini bersamaku. Parahnya, gadis cantik ini melewati malam pertamanya bersamaku. Gadis perawan yang harusnya jadi milik Raymond.


Yang harusnya -- keperawananannya untuk Raymond. Tapi malah aku -- aku yang mengambil keperawanan gadis muda ini.


Tunggu sebentar, memangnya kenapa? Apa aku sungguh sudah menetapkan hatiku padanya? Oh, ya ampun, Rangga. Aku berdeham, menyingkirkan sejenak pemikiranku yang bercabang-cabang. "Omong-omong, apa kamu punya pacar? Atau mungkin tunangan?"


Dia menggelengkan kepala. "Tidak ada. Saya hanya seorang gadis lajang yang malang. Saya tidak punya pacar, apalagi tunangan."

__ADS_1


Hufth... lega....


__ADS_2