Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Licik!


__ADS_3

"Bagaimana?"


"Tidak," kataku, aku menggeleng. "Aku tidak ingin pergi. Kecuali jika itu untuk urusan pekerjaan, aku tidak akan menginjakkan kakiku lagi di Bali. Tidak lagi."


"Oh, kenangan buruk," sahutnya. Bicara dengan enteng seakan ia sudah sangat memahamiku. "Bagaimana kalau ke luar negeri? Yang agak jauh? Mungkin... ke New York? London? Bagaimana?"


Aku mengedikkan bahu. "Mungkin, suatu saat nanti. Itu butuh persiapan matang mengingat pekerjaanku yang terlanjur menumpuk."


"Oke, aku mengerti, Tuan Sibuk."


Kuambil gelas berisi air putih dan mereguknya. "Omong-omong, aku suka wanita berpenampilan seksi."


"Ow...!" Stella berseru sambil mengibaskan rambutnya ke belakang. Dadanya semakin terekspose. "Untukmu," katanya.


Dia sama sekali tidak tersinggung, jelas mataku menatap lekat pada garis imajiner persis di tengah gaunnya yang tak bertali. Malahan, dengan sengaja ia semakin menunjukkannya padaku.


"Tapi sayangnya itu tidak berlaku untuk istriku. Aku tidak akan suka. Maksudku... kalau di depanku, ya boleh saja seksi, bahkan tidak perlu memakai apa pun. Tapi kalau di depan orang lain, tentu saja, dia harus lebih tertutup. Dan itu wajib. Lekuk tubuhnya hanya boleh dinikmati oleh diriku sendiri."


Stella tersenyum. "Apakah itu kode untukku? Hmm?"


Wow! Dia selalu menanggapi perkataanku dengan positif. "Well, kamu boleh menganggapnya seperti itu."


"Uuuh... kamu manis... sekali. Baiklah, kalau begitu aku akan menutup tubuhku dari pandangan lelaki lain, untukmu."

__ADS_1


Oke. Saatnya membahas topik lain. "Omong-omong, makan malam ini sudah hampir selesai, tapi aku belum melihat hadiahku."


"Baik, Tuan yang tidak sabaran."


"Kali ini aku bicara untuk hadiah yang serius, ya."


"Kedengarannya, kamu tidak sabar ingin pulang."


"Hari sudah malam, Stell."


"Jangan buru-buru, dong...."


"Aku tidak terbiasa tidur larut," kataku dengan alibi yang manis.


"Tidak harus. Kamu boleh menginap di sini, kok."


"Baiklah, paling tidak mari bersulang dulu."


Stella mengangkat gelas anggurnya, demi bisa cepat pulang -- aku menurut. Gelas berdenting, dan kami mereguk anggurnya sampai tandas.


"Tunggu di sini, kuambilkan hadiahmu di atas."


Stella berlalu dan aku merasa perlu ke toilet. Tapi apa yang kulihat?

__ADS_1


Testpack.


Kecerobohan Stella adalah keberuntunganku. Testpack itu bergaris dua, yang berarti Stella dalam keadaan hamil. Jelas, tidak ada satu pun orang di rumah itu selain dirinya.


Untung aku tidak pernah menyentuhnya. Dia hamil atau tidak, dan hamil dengan siapa, itu bukan urusanku.


Tetapi...


Ya ampun... tubuhku mulai terasa panas. Aku bukan lelaki yang asing terhadap efek obat perangsang. Cukup merasakan efeknya, aku tahu obat itu sudah masuk ke dalam tubuhku.


Aku mengeran* kesal. "Berengsek! Dasar wanita licik! Dia ingin menjebakku. Kurang ajar!


Aku merasa jengkel di antara hasrat yang menggebu. Aku harus pergi dari sini, pikirku. Harus!


Ceklek!


Perempuan itu berdiri di depan pintu kamar mandi. Telanjan*.


Ya Tuhan...!


Ini godaan besar. Dada, juga sela paha yang renggang itu benar-benar menggoda. Ditambah obat perangsan* yang diberikan Stella turut merongrong hasratku dari dalam. Ah, seandainya saja...


"Minggir! Jangan halangi jalanku!"

__ADS_1


Stella berbalik, duduk di sofa dan membuka interval pahanya lebih lebar. Kemudian, seraya menangkupkan kedua tangan ke ranum persik di dadanya, ia berkata, "Please... tiduri aku," pintanya, agak terengah-engah, dan ia membuat kata-kata itu kedengaran seksi dan tak tertahankan.


Bagaimana, Rangga?


__ADS_2