
Sabar, Rangga. Sabar. "Kamu sudah punya tunangan ternyata. Kebetulan sekali, ya. Saya mengenalmu, dan saya besahabat dengan tunanganmu. Karyawan juga di kantor saya."
Masih membungkam. Suci tidak mengatakan apa pun.
"Ci, Mama ke toilet dulu, ya. Kamu tunggu di sini."
Akhirnya ada pergerakan, gadis itu mengangguk lesu. Sementara ibunya ke toilet, aku meraih tangan Suci dan menggenggamnya kuat-kuat. Sama sepertinya, aku juga merasakan sesak. Sesesak duduk di kelas ekonomi di bagian belakang dekat toilet yang aromanya mau tidak mau tercium juga olehku.
Bukan berarti semuanya buruk. Hanya saja, aku tidak terbiasa, dan belum pernah. Tapi, toh, tetap kulakukan demi gadis impian yang akan menjadi istriku. Bagaimana pun caranya, dia harus menjadi milikku. Karena dia milikku.
"Siang ini kamu istirahat, ya. Nanti malam kita bertemu. Ingat, Sayang, aku akan selalu memperjuangkanmu. Apa pun yang terjadi, apa pun yang merintangi. Aku di sini untukmu." Kukecup tangannya cukup lama. "Jangan menangis. Aku sama sekali tidak marah. Apa pun yang ingin kamu katakan, kita bahas itu nanti malam."
Seandainya bisa, aku ingin sekali memeluknya saat ini.
"Mas, aku...."
"Ssst... kita bahas nanti malam saja. Oke?"
"Aku tidak tahu apa aku bisa--."
"Harus bisa."
"Tapi kan aku satu kamar dengan Didie."
"Lalu?"
"Aku tidak mungkin memberikan alasan untuk pergi keluar dari kamar sendirian. Aku kan buta."
Aku paham. "Nanti biar aku yang mengatur soal itu."
"Oke," katanya seraya mengangguk. "Omong-omong, kok kamu tahu aku di pesawat ini, maksudku... kok kita bisa berada di satu pesawat yang sama? Jangan bilang seperti di sinetron, atau seperti kisah di dalam novel, tinggal kasih perintah dan orang yang kamu suruh bisa mendapatkan informasi dengan mudah dalam waktu begitu singkat."
Kugelengkan kepalaku seraya tertawa, dia suka sekali nyerocos panjang lebar. Kalau saja kami hanya berdua, pasti aku sudah membungkam mulutnya dengan ciuman. "Nggak. Memangnya siapa aku bisa mendapatkan informasi dari pihak penerbangan dengan mudah?"
"Terus?"
Aku berdeham. "Aku sengaja memesan semua tiket penerbangan di jam yang sama. Setelahnya, aku tinggal mrngikutimu, ke pesawat mana kamu masuk."
__ADS_1
Dia berdecak, "Waw! Segitunya, ya, kamu."
"Demi kamu."
"Uuuh... manisnya."
"Mmm-hmm... ada yang lebih manis."
"Mas," nadanya manja dan matanya mendelik, "jangan macam-macam...."
Kurapatkan bibirku sejenak. "Memangnya kamu tahu? Hmm?"
"Iyalah, aku bisa membaca otakmu. Isinyaaaaaa... ituuuuu... semua. Iya, kan?"
Lagi-lagi aku harus menahan tawaku. "Ya sudah, nanti malam saja."
"Apanya?"
"Yang lebih manis."
"Nantikan saja," bisikku. "Pokoknya kamu harus istirahat sepanjang siang. Oke?"
Seulas senyum hangat terbit di bibirnya. "Kamu mau mengajakku begadang? Hah?"
"Ya, sepanjang malam."
"Wow... kedengarannya asyik...."
"Kamu mikirnya ke mana? Hmm?"
"Aku menunggumu. Dan bulan madu kita."
Hah! Aku tak bisa menahan senyumku lagi, bahkan aku nyaris tertawa. "Kamu ini, Sayang...."
"Aku serius. Aku mau kita melewati malam ini bersama. Aku akan menunggumu."
"Menunggu untuk apa?" tanya ibunya menyela. Rupa-rupanya ia sudah kembali dari toilet.
__ADS_1
"Mau makan siang bareng, Tant. Tapi sepertinya saya tidak bisa. Maaf, ya?"
Astaga...! Kau pandai sekali mengelak, Rangga. Kau pandai berbohong!
Pura-pura merengut, Suci memajukan bibirnya dua senti. "Oke. Ya, ya, aku mengerti. Kamu kan seorang bos yang super sibuk."
"Hebat, lo, kamu, Nak. Bisa sukses di usia muda. Tante kagum."
Aku mengangguk. "Terima kasih, Tant." Andai saja itu bisa membuat Anda tertarik pada saya.
"Sama-sama."
Intrik. Jurus sok akrab masih berlaku di era sekarang. "Omong-omong, Tante dan Suci cuma berdua?"
"Oh, nggak. Tante sama suami dan anak Tante juga. Itu, mereka duduk di depan, yang memakai headphone itu anak gadis Tante. Nanti Tante kenalkan ke kamu, ya."
Aku mengangguk -- mengiyakan, karena merasa tak punya pilihan dan mana mungkin menolak terang-terangan. Jadi ya sudahlah. "Kalian tinggal di mana nanti? Hotel? Hotel apa?"
Wow! Aku mendapatkan informasi dengan begitu mudahnya, mereka akan menginap di hotel ******* nanti malam.
《Booking kamar di hotel *******
《Tipe kamar biasa.
《Terus, kamu harus pura-pura mendekati gadis yang memakai dress warna biru yang memakai headphone. Buat dia sibuk sepanjang malam. Terserah mau kamu bawa ke mana.
Whatsapp akan terkirim begitu mode pesawat off dan jaringan data seluler diaktifkan. Billy pasti akan melaksanakan tugasnya dengan baik. Selanjutnya, aku menyimpan kembali ponselku dan kembali mengobrol santai dengan kedua orang di sebelahku.
"Kamu sehat, kan?" tanyaku.
"Sehat. Kenapa, Mas?"
"Tidak apa-apa. Hanya memastikan kamu sehat, supaya... kamu tidak muntah dan mengotori jasku."
Aku tergelak, sementara Suci mencebik. "Kamu terdengar seperti si Mr. Sombong itu, tahu!"
Seandainya kamu tahu kalau itu memang aku.
__ADS_1