
"Sudah seminggu lebih lu nggak kelihatan. Lu pergi ke mana, sih?"
Aku mengedikkan bahu. "Dari Singapura," kataku pada Roby yang hari itu masuk ke ruanganku.
"Lo? Memangnya ada apa, sih, di Singapura? Kok lu juga ke sana?"
Aku berpikir-bikir sejenak. Rasanya aku tidak ingin menceritakan masalahku pada siapa pun. Termasuk kepada Roby. Tetapi...
"Tunggu dulu, memangnya selain gue, siapa lagi yang pergi ke Singapura?"
"Roy dan Stella. Raymond juga."
"What...? Serius lu, Rob?"
"Seriuslah."
Aku tercengang. Apa semua ini ada hubungannya? Apa mereka ada andilnya dengan hilangnya Suci?
"Memangnya kenapa, sih? Ada apa?" selidik Roby.
Aku hanya bisa diam, aku tidak bisa menceritakannya, apalagi tentang kecurigaanku yang detik ini tak beralasan.
"Memangnya penting banget, ya, pekerjaan lu di Singapura sampai-sampai lu harus berangkat menjelang hari pernikahan gue?"
Aku berdeham, tak enak hati. "Sori, gue belum bisa cerita. Dan soal pernikahan lu, gue sudah konfirmasi di awal, kan? Omong-omong, sekali lagi selamat, ya."
__ADS_1
"Hmm... jangan bilang lu masih cemburu karena gue yang menikahi Jessy, makanya lu nggak mau hadir? Iya?"
Aku menggeleng. "Jangan bicara sembarangan. Sama sekali nggak. Gue nggak cemburu, oke? Gue... adalah pokoknya. Gue ada urusan pribadi. Nanti gue pasti hadir pas lu mau nikah ulang setelah Jessy lahiran. Oke?"
"Permisi, Pak," sela sekretaris baru itu sewaktu Roby manggut-manggut menyimak penjelasanku.
Karin, mantan sekretaris Roby datang dengan membawakan minuman, dua cangkir kopi nangkring di atas nampan yang ia pegang. Sekilas kuperhatikan, pakaian Karin sudah sangat rapi, panjang roknya sudah di bawah lutut. Selebihnya, semuanya oke. Roby yang juga memperhatikan hal itu jadi cengar-cengir. "Paha putih mulus, kok ditolak, sih?" celetuknya. "Dasar naif lu."
Aku dengar, tapi aku memilih tidak menanggapi komentar Roby yang tidak berbobot itu. Sebagai gantinya, aku bertanya, "Lu tahu, nggak, kenapa mereka semua ke Singapura?"
Roby mengedikkan bahunya. "Nggak tahu Roy dan Stella ada urusan apa. Tapi kalau Raymond, katanya dia mau menemui Suci yang kemarin operasi mata, sekalian mereka mau membahas soal rencana perni...ka--han...."
Damn it!
"Berengsek!" hardikku. Aku kelepasan, lupa pada Roby yang tidak tahu apa pun perihal masalahku.
"Lu kenapa?"
"Sori, lu bilang apa tadi?"
"Apa?"
"Soal Raymond."
"Oh, Raymond, dia menyusul Suc--ci."
__ADS_1
"Gue udah denger," kataku tak sabar.
"Ya, kenapa lu--"
"Kelanjutannya, apa?" tanyaku penuh emosional.
Roby diam sejenak, kebingungan dengan wajah menyeringai. "Soal Raymond, kan? Raymond pergi ke Singapura itu untuk membahas rencana pernikahannya dengan Suci yang akan dilangsungkan di sana. Mau cari tempat resepsi dan lain-lain."
Spontan mataku terpejam, dan aku langsung mengepalkan tangan. Amarah pekat menggelegak di dalam dadaku. "Thanks informasinya." Aku berdiri dan langsung keluar dari ruanganku, sementara Roby yang panik langsung mengejar di belakang.
"Tunggu!" serunya. "Lu mau ke mana?"
"Singapura," jawabku ketus.
"Ngapain lagi?"
"Rob, please...."
Tak ada kata-kata yang bisa kulanjutkan. Dengan geram, aku menekan tombol lift yang terasa lama sekali terbuka.
"Bro, please, cerita dulu," pinta Roby seraya menangkap tanganku.
Ting!
Pintu lift terbuka. Aku masuk, disusul Roby. Dia nampak kebingungan melihat kegusaranku yang mengepalkan tangan dan memukul-mukul dinding.
__ADS_1
"Sebenarnya lu ada masalah apa? Cerita sama gue. Siapa tahu gue bisa bantu, ya kan? Please...?"